Cinta Ameena

Cinta Ameena
Ketika Dia Kembali


__ADS_3

Ameena tengah mencari pekerjaan di kota ini namun nyatanya tidaklah mudah untuknya mendapatkan pekerjaan, sikap ayahnya yang memusuhinya setelah ia memutuskan untuk berpisah dengan Hanif membuat Ameena


begitu sedih walau begitu sang ibu selalu saja memberikan semangat untuk Ameena supaya jangan menyerah.


“Tidak apa, Nak, Ibu yakin kalau nanti kamu pasti kembali mendapatkan pekerjaan.”


“Iya Bu.”


Untuk sementara waktu Ameena membantu ibunya membuat kue untuk dijual ke warung sekitar rumah mereka, ketika ia baru saja menitipkan dagangannya di sebuah warung secara mengejutkan Ameena berpapasan dengan Luluk yang kebetulan melintas dengan mobilnya. Luluk segera menghentikan mobilnya dan turun menghampiri Ameena, tentu saja Ameena terkejut dan tak menyangka kalau akan bertemu dengan Luluk di tempat ini.


“Ameena? Kamu Ameena kan?”


“Iya Nyonya, saya Ameena.”


“Bagaimana bisa kamu ada di sini? Bukankah katanya kamu ada di Norwegia?”


“Saya dan mas Hanif sudah memutuskan berpisah.”


Luluk nampak tersenyum mendengar ucapan Ameena barusan, dirinya tentu saja puas ketika tahu Ameena sudah tidak bersama dengan Hanif lagi dan Luluk juga mengatakan kalau Ameena memang sudah sepatutnya sejak awal tahu diri untuk jangan menaruh harapan yang terlalu tinggi pada Hanif. Ameena semakin sedih mendengar ucapan Luluk tersebut, buru-buru ia pamit pada wanita itu untuk segera kembali ke rumah.


“Dasar orang itu.”


Luluk kembali masuk ke dalam mobilnya dan ia jadi mengingat sesuatu, ia dapat menggunakan Ameena untuk membuat Boy kembali padanya.


“Benar juga, Boy pasti senang bukan main mendengar ini.”


Luluk melajukan mobilnya menuju rumah Boy berada, ia menunggu di depan rumah sampai anaknya itu pulang bekerja dan ketika melihat mamanya berada di depan rumah nampak Boy menghela napasnya berat.


“Mau apa lagi Mama ke sini?”


“Mama datang ke sini untuk mengatakan sesuatu yang akan membuatmu bahagia.”


“Apa?”


“Ameena, kamu ingat wanita itu kan?”


“Ameena? Memangnya kenapa dengan Ameena?”


“Ameena sudah kembali ke Indonesia.”


“Yang benar?” tanya Boy berbunga-bunga.


“Tentu saja, Ameena sudah kembali ke Indonesia dan kabar baiknya dia sudah berpisah dengan Hanif.”


****


Bujuk rayu dari Luluk behasil membuat Boy mau ikut pulang bersamanya, tentu saja dirinya bahagia bukan main karena dapat membuat Boy ikut bersamanya namun di sisi lain tentu saja ia jengkel karena alasan di


balik Boy mau ikut pulang dengannya tidak lain dan tidak bukan karena Ameena. Luluk menyewa sebuah apartemen karena rumahnya sedang direnovasi untuk sementara waktu, sementara Boy nampak sudah sangat tidak sabar bertemu dengan Ameena.


“Mama bertemu dengan Ameena di mana?”


“Ya ampun Boy, sepertinya kamu bersemangat sekali bertemu Ameena.”

__ADS_1


“Iya Ma, aku sangat bersemangat sekali, aku kira Ameena tidak akan kembali dalam waktu yang dekat.”


“Mama juga berpikiran demikian. Akan tetapi sekarang hari sudah malam, tidak baik bertamu malam-malam begini kan?”


“Mama benar juga.”


“Bagaimana kalau besok saja kamu pergi menemui Ameena?”


“Baiklah, besok aku akan pergi menemuinya.”


Luluk tersenyum dan akhirnya Boy pun masuk ke dalam kamarnya dengan hati riang gembira, Luluk nampak memudarkan senyumnya selepas Boy masuk ke dalam kamarnya, tentu saja ia sama sekali tidak bahagia ketika


tahu Boy begitu menyukai Ameena.


“Awas saja kamu Ameena, aku tidak akan membiarkanmu menang kali ini,” geram Luluk seraya mengepalkan tangannya.


****


Keesokan harinya Ameena terkejut ketika mendapati Boy berdiri di depan pintu rumahnya dan pria itu langsung memeluknya karena saking bahagianya, Ameena segera mendorong tubuh Boy dan meminta pria itu untuk jangan


memeluknya seperti barusan.


“Aku minta maaf Ameena, aku hanya bahagia karena kata mamaku kamu sudah kembali ke Indonesia dan ternyata benar.”


“Mama anda menceritakan soal saya, Tuan?”


“Iya Ameena, aku bahagia sekali karena kamu akhirnya dapat kembali ke Indonesia.”


“Tentu saja untuk menemuimu dan satu lagi Ameena jangan bicara formal denganku.”


“Tuan ….”


“Boy, panggil aku Boy, Ameena.”


Namun Ameena tak mau melakukan seperti apa yang Boy katakan barusan, ia merasa bahwa tidak sopan harus memanggil Boy dengan nama langsung namun Boy memaksanya melakukan itu.


“Ameena, siapa yang datang, Nak?” tanya Ros dari dalam rumah.


“Bukan siapa-siapa, Bu,” jawab Ameena.


Namun Ros langsung keluar rumah untuk melihat siapa orang yang datang saat ini, saat ia keluar dirinya menemukan sosok Boy di sana dan pria itu menyapanya dengan ramah.


“Siapa dia, Ameena?”


“Saya Boy, adiknya kak Salsabila.”


“Oh mendiang istrinya tuan Hanif itu, ya?”


“Iya Bu.”


“Kok kamu malah membiarkannya berdiri saja di luar begini, Ameena?”


“Bu ….”

__ADS_1


“Ayo masuklah ke dalam, Nak.”


“Terima kasih, Bu.”


****


Richi tiba di Indonesia hari ini dan langsung pergi ke rumah Ameena untuk menemui wanita itu namun ketika tiba di rumah Ameena, justru dirinya malah melihat pemandangan yang membuat hatinya begitu sakit apalagi kalau bukan melihat Ameena tengah bersama dengan Boy.


“Ameena, siapa lagi pria itu?” lirih Richi.


Richi harus tahu siapa pria yang bersama dengan Ameena itu dan ia menunggu sampai Boy pulang, Ameena nampak terkejut ketika menemukan Richi di depan rumah begitu pula dengan Ros yang tak percaya setelah sekian


lama ia bertemu lagi dengan pria itu.


“Mau apa kamu ke sini?”


“Siapa pria itu?”


“Kenapa memangnya? Apakah aku harus mengatakan siapa dia?”


“Tentu saja Ameena, apakah kamu sudah mendapatkan pria lain lagi padahal kamu baru saja berpisah dengan Hanif?”


“Jaga bicaramu, Richi. Dia itu adiknya mendiang kak Salsabila!”


Boy nampak kecewa ketika Ameena mengatakan itu akan tetapi ia bertekad akan membuat Ameena jatuh cinta padanya, ia akan pastikan hal itu akan terjadi.


“Benarkah begitu?”


“Kamu sendiri siapa?” tanya Boy yang penasaran pada Richi.


“Aku adalah mantan kekasih Ameena,” jawab Richi.


“Mantan kekasih? Untuk apa mantan kekasih datang ke sini?”


“Sudahlah Tuan, jangan ladeni ucapannya.”


“Ameena, aku akan mendapatkanmu.”


Selepas mengatakan itu Richi langsung pergi meninggalkan rumah Ameena sementara itu Boy pun juga pamit untuk pulang ke rumahnya.


****


Richi tengah berjalan di pinggir jalan sampai sebuah mobil berhenti di sebelahnya dan si pengemudi yang tidak lain adalah Boy memanggilnya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam namun tentu saja Richi tidak mau melakukannya, bagaimanapun juga ia menganggap bahwa Boy adalah saingannya.


“Masuklah, memangnya kamu tidak lelah membawa koper besar begitu?”


Richi menyerah dan akhirnya mengikuti juga apa yang dikatakan oleh Boy barusan, ia masuk ke dalam mobil Boy. Boy sendiri membawa Richi menuju sebuah restoran untuk mereka berdua dapat bicara empat mata dan


kini di restoran itu Boy tak mau berbasa-basi lagi menanyakan apakah Richi memang masih menyukai Ameena.


“Tentu saja aku masih menyukainya dan aku yakin kamu juga pasti menyukainya kan?”


“Jadi sepertinya kita akan bersaing di sini.”

__ADS_1


__ADS_2