
Boy nampak geram ketika Nandhita melakukan sesuatu hal yang buruk pada Ameena dan tentu saja ia tidak dapat menerima perlakuan Nandhita yang seperti ini pada wanita yang ia cintai, Luluk muncul untuk menengahi masalah yang terjadi di antara mereka bertiga, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi di antara ketiganya dan Boy mengatakan bahwa Nandhita sudah melakukan hal yang buruk pada Ameena barusan.
“Benarkah apa yang Boy katakan barusan, Nandhita?”
“Aku hanya memberikan sedikit pelajaran pada wanita ini, Tante,” jawab Nandhita tanpa rasa bersalah sedikitpun yang membuat Boy menjadi emosi dibuatnya.
“Mama dapat mendengar sendiri kan apa yang wanita ini katakan? Dia sudah berbuat jahat pada Ameena dan itu tidak dapat untuk dibenarkan,” ujar Boy emosi.
“Sudahlah Tuan, saya baik-baik saja,” ujar Ameena yang berusaha menenangkan Boy yang sepertinya begitu marah pada Nandhita.
“Tidak Ameena, wanita ini sudah sangat keterlaluan padamu, kalau kita membirkannya maka bukan tidak mungkin dia akan kembali melakukan kejahatan lain,” ujar Boy yang masih menatap tajam Nandhita.
“Ameena, kamu baik-baik saja?” tanya Luluk.
“Iya Nyonya, saya baik-baik saja,” jawab Ameena.
“Nandhita, ikut denganku sekarang juga,” ujar Luluk yang kemudian pergi diikuti oleh Nandhita yang mana sebelum wanita itu pergi nampak Nandhita menatap tajam Ameena dan selepasnya ia memberikan pertanda bahwa ini belumlah selesai.
“Kamu yakin baik-baik saja, Ameena? Apakah Nandhita sudah sering melakukan hal yang buruk padamu selama ini?” tanya Boy khawatir.
“Saya baik-baik saja Tuan, terima kasih karena anda sudah membantu saya,” ujar Ameena.
“Tidak masalah Ameena, kalau Nandhita melakukan hal yang buruk lagi ke depannya maka tolong kamu jangan segan untuk mengatakannya padaku.”
“Iya Tuan, kalau begitu saya izin masuk ke dalam kamar dulu.”
Ameena pun kemudian masuk ke dalam kamarnya dan selepas Ameena masuk ke dalam kamarnya maka Boy pun bergegas untuk pergi dari sana menuju kamarnya.
****
Keesokan harinya Luluk mengajak Ameena untuk bicara sebentar dengannya ketika wanita itu tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
“Ameena.”
“Iya Nyonya, ada apa?”
“Sebelumnya kemarin aku sudah bicara dengan Nandhita dan aku benar-benar minta maaf atas kelakuan Nandhita padamu.”
“Oh soal itu, tidak masalah Nyonya, saya tidak kenapa-kenapa, kok.”
__ADS_1
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, aku takut kalau Nandhita sudah menyakitimu secara keterlaluan.”
“Tidak seperti itu Nyonya.”
“Ngomong-ngomong Ameena, apakah kamu tidak berniat untuk menikah lagi?”
“Maaf?”
“Iya maksudku selepas kamu berpisah dengan Hanif, kamu masih memiliki kesempatan untuk kembali menikah dengan orang lain kan?”
“Kalau soal itu saya belum kepikiran Nyonya, saya ingin fokus mengurus diri saya sendiri dulu.”
“Aku tahu bahwa kamu mengatakan itu karena masih mencintai Hanif kan? Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan Ameena, aku tahu bagaimana yang kamu rasakan saat ini.”
“Nyonya ….”
“Cara untuk menyembuhkan luka itu adalah mencari orang baru yang dapat menyembuhkan luka di hatimu, Ameena.”
“Tapi Nyonya, saya rasanya belum siap untuk membuka hati pada orang lain lagi.”
“Tidak apa Ameena, akan tetapi kamu dapat mempertimbangkan saran dariku untuk segera mencari pasangan hidup lagi tentu saja yang benar-benar mencintaimu karena kalau kamu hanya mencintainya dan dia tidak mencintaimu maka rasanya pasti akan sangat menyakitkan bukan?”
****
yang menjadi masalahnya adalah Ameena seperti yang selalu menjaga jarak dengan pria itu. Luluk pun bertanya pada Ameena apakah Ameena tidak menyukai Boy dan Ameena pun menjawab bahwa ia bukannya tidak menyukai Boy hanya saja ia tidak mau berdekatan dengan Boy karena mereka adalah lawan jenis dan ia tak mau adanya fitnah yang terjadi di antara mereka berdua.
“Kalau menurutku Boy sepertinya begitu menyukaimu Ameena, apakah kamu dapat merasakan hal itu?”
Sejujurnya Ameena tak menyukai obrolan seperti ini dengan Luluk namun ia tentu saja tidak dapat menghindari obrolan seperti ini, Luluk semakin hari semakin ingin mendekatkan Boy dengan Ameena dan hal tersebut
membuat Ameena jadi bertanya-tanya sendiri.
“Ameena, kamu kenapa hanya diam saja?”
“Apa? Oh saya meminta maaf Nyonya.”
“Apa yang kamu pikirkan saat ini? Kamu dapat mengatakannya padaku sekarang juga.”
“Sejujurnya memang da sesuatu hal yang ingin saya katakan pada Nyonya akan tetapi saya takut kalau itu akan menyinggung perasaan Nyonya.”
__ADS_1
“Katakan saja padaku, Ameena. Jangan kamu pendam sendirian seperti itu.”
“Baiklah, sejujurnya saya penasaran kenapa Nyonya begitu ingin mendekatkan saya dengan tuan Boy? Bukankah Nyonya tidak menyukai kalau tuan Boy dekat dengan saya?”
****
Pertanyaan yang Ameena lontarkan barusan membuat Luluk tersenyum, ia kemudian mengatakan pada Ameena bahwa Boy sangat mencintai Ameena dan ia dapat merasakan hal tersebut, Boy selalu memikirkan Ameena dan ia sudah mencoba untuk menjodohkan Boy dengan berbagai wanita sebelumnya namun Boy tetap tak mau menerima perjodohan itu karena hatinya hanya tertuju pada Ameena seorang.
“Di situ aku mulai belajar bahwa sepertinya aku mulai harus dapat menerima pilihan yang dibuat oleh Boy walaupun sejujurnya awalnya aku tak menyetujuinya.”
“Saya paham kalau Nyonya tidak setuju akan hal tersebut.”
“Kamu jangan salah paham dulu Ameena, aku membicarakan soal masa lalu, kalau sekarang tentu saja aku dengan senang hati jika kamu menjadi menantuku.”
“Nyonya?”
“Ada apa? Apakah kamu tak memercayai apa yang aku katakan tadi?”
“Tidak hanya saja ….”
Luluk menggenggam tangan Ameena dan memohon pada Ameena untuk mempertimbangkan ucapannya barusan bahwa Ameena diharapkan untuk segera membuka hatinya pada Boy mengingat Boy sangat mencintai wanita itu akan tetapi Ameena mengatakan bahwa ia tak dapat menjanjikan apa pun pada Luluk.
“Saya tidak dapat menjanjikan apa pun pada Nyonya, saya takut kalau Nyonya terlalu berharap pada saya maka Nyonya akan kecewa.”
“Aku yakin bahwa kamu tak akan mengecewakanku, Ameena.”
****
Ameena sedang berbelanja kebutuhan bulanan di sebuah supermarket bersama asisten rumah tangga dan di tempat itu dirinya bertemu dengan Richi, Ameena sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Richi di
tempat ini, ketika Ameena hendak pergi menghindari pria itu namun sayangnya Richi mengetahui itu dan langsung menghadang Ameena supaya jangan melarikan diri.
“Ameena, kamu kok ingin melarikan diri dariku?”
“Tidak, aku tidak ingin melarikan diri darimu.”
“Oh benarkah? Buktinya tadi ketika kamu melihatku maka kamu langsung berbalik badan kan?”
“Aku masih banyak pekerjaan, maaf tidak dapat mengobrol denganmu.”
__ADS_1
Namun tentu saja Richi tak membiarkan Ameena pergi begitu saja, ia kembali menghadang langkah kaki Ameena itu dengan tubuhnya.
“Kamu sekarang tinggal di mana, Ameena? Aku khawatir sekali dengan keadaanmu.”