
Cassandra tengah menunggu sampai Boy pulang ke rumah ini tentu saja dengan perasaan yang sangat tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian warga sekitar hingga akhirnya orang yang sejak tadi ia tunggu kedatangannya muncul juga dengan raut wajah tidak suka dengan kehadirannya.
“Boy!”
Namun Boy sama sekali tidak menanggapi apa yang wanita ini katakan, Boy memilih untuk masuk ke dalam rumah namun sebelum Boy masuk ke dalam rumah, Cassandra menahan pintu supaya pintu tidak dapat ditutup olehnya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Tentu saja untuk bicara denganmu, Boy!”
Boy menghela napasnya dan kemudian ia mempersilakan Cassandra masuk ke dalam karena ia tidak enak dilihat oleh tetangga yang memerhatikan mereka sejak tadi ketika bertengkar di depan rumah.
“Bagaimana bisa kamu tahu aku tinggal di sini?”
“Pertanyaan seperti itu bukankah kamu tahu jawabannya?”
Boy nampak berdecak kesal dengan apa yang Cassandra katakan, ia kemudian menanyakan apa maksud serta tujuan wanita ini datang menemuinya.
“Papaku akan memberikanmu pekerjaan di perusahaan keluarga kami.”
“Aku sama sekali tidak tertarik.”
“Tapi Boy kamu itu adalah anak orang kaya, bagaimana bisa kamu bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah restoran yang biasa-biasa saja seperti itu?”
“Setidaknya aku dapat menghidupi diriku sendiri dengan pekerjaan itu tanpa perlu bergantung dengan papaku!”
“Tapi Boy ….”
“Sepertinya obrolan kita sudah selesai, sekarang juga silakan kamu pergi dari sini.”
“Tapi Boy ….”
“Selagi aku masih berbaik hati, maka silakan kamu pergi sekarang juga.”
Cassandra nampak menghela napasnya panjang, ia kemudian pergi dari rumah kontrakan ini namun sebelumnya ia mengatakan pada Boy bahwa ia akan selalu datang ke sini dan membujuknya supaya mau bekerja di perusahaan milik papanya.
“Dasar wanita itu,” geram Boy.
Boy menutup pintu rumah kontrakan dengan kencang dan ia masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, ia benar-benar lelah saat ini ditambah lagi ketika pulang ia mendapatkan kejutan tak mengenakan dari Cassandra.
__ADS_1
“Apakah aku harus pindah sekarang?”
****
Hubungan Ameena dan Hanif tidak baik-baik saja semenjak obrolan yang dibuat Ameena hari itu, Hanif masih berpikiran bahwa Ameena menyukai Boy dan ia ingin berselingkuh dengan adik Salsabila itu walaupun Ameena sudah membantah hal tersebut berulang kali namun seolah Hanif tak memedulikan itu, Hanif tetap saja pada prasangka buruknya hingga membuat Ameena lelah menjelaskan semuanya pada Hanif. Sebuah kejutan di hari ini
terjadi, di mana mama Hanif muncul di depan pintu apartemen mereka, Ameena nampak tak menyangka bahwa mamanya Hanif akan muncul di depan pintu saat ini di saat ia tak siap menghadapinya.
“Mama?”
“Ameena.”
“Silakan masuk.”
“Terima kasih.”
Untari melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit apartemen milik Hanif tersebut dan duduk di sofa, Ameena menanyakan mama mertuanya itu ingin minum apa namun wanita itu mengatakan bahwa alasan ia datang ke sini adalah untuk mengobrol dengan Ameena.
“Kita belum mengenal lebih jauh satu sama lain sebelum ini kan? Jadi alasan kenapa aku datang ke sini adalah untuk itu.”
“Begitu rupanya,” ujar Ameena agak canggung.
“Kamu kenapa Ameena? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi padamu?”
Walaupun Ameena mengatakan bahwa tidak ada apa pun yang terjadi padanya namun naluri seorang ibu selalu lebih tajam hingga Untari dapat mengetahui bahwa sebenarnya ada sesuatu hal yang coba Ameena sembunyikan
darinya.
****
Walaupun Ameena sudah berusaha menutupi semuanya dari mama mertuanya namun tentu saja hal tersebut tidak akan berhasil untuk menipunya, Untari meminta Ameena untuk mengatakan yang sebenarnya karena ia akan
mendengarkan ceritanya.
“Kamu tak perlu ragu untuk bercerita denganku, Ameena, aku tahu bahwa kamu pasti butuh teman untuk menumpahkah keluh kesahmu kan?”
Ameena mengakui bahwa apa yang Untari katakan tadi benar adanya, saat ini dirinya benar-benar butuh seseorang untuk diajak bicara namun justru yang datang adalah mama mertuanya yang mana hal tersebut tentu saja tak membuat Ameena nyaman.
“Apakah hal ini menyangkut Hanif?”
__ADS_1
“Ma?”
“Iya kan? Sudah Mama duga kalau ini semua pasti tentang anak itu.”
“Anu ….”
“Tidak apa Ameena, kamu boleh menceritakan apa pun padaku, sebelumnya Salsabila juga sering bicara padaku jika kami bertemu.”
Ameena awalnya nampak ragu namun karena melihat ketulusan yang terpancar dari raut wajah Untari maka keraguan Ameena itu perlahan tapi pasti terkikis dan wanita itu pun mau berterus terang mengenai masalah rumah tangganya dengan Hanif. Untari sama sekali tidak menyela cerita Ameena dan ia membiarkan Ameena untuk menceritakan semuanya hingga semua beban yang selama ini Ameena pendam bisa tersalurkan semua, Ameena pun jadi merasa tidak enak hati dengan mama mertuanya.
****
Luluk membuka pintu kamar hotelnya dan lagi-lagi melihat suaminya berdiri di sana, Luluk nampak berdecak kesal dan bertanya kenapa Pamungkas muncul lagi di hadapannya dan suaminya itu mengatakan ingin mengajak Luluk untuk pulang bersamanya.
“Pulanglah bersamaku, Luluk.”
“Apakah kamu tidak paham dengan apa yang aku ucapkan tempo hari? Aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku tidak akan pulang sebelum Boy pulang.”
“Aku sudah mencoba bicara dengan Boy namun anak itu tidak mau pulang.”
“Itu pasti karena kamu nampak tidak tulus memintanya untuk pulang.”
“Dia bukan anak kecil lagi Luluk, dia bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Sudah aku duga bahwa kamu akan mengatakan hal itu, kamu memang tidak mengerti apa yang aku rasakan!”
Luluk meminta suaminya itu untuk pergi namun Pamungkas menolaknya, ia meminta supaya Luluk tetap ikut dengannya pulang namun Luluk tetap tak mau pulang sampai Boy pulang ke rumah.
“Aku sudah berulang kali mengatakannya padamu hingga mulutku ini berbusa, kenapa kamu tetap tidak mau mendengarkannya!”
“Kalau begitu ayo ikut denganku dan bujuk Boy untuk pulang ke rumah.”
Seketika Luluk berhenti mengomel dan menatap tak percaya suaminya, Pamungkas mengatakan bahwa ia serius dan mengajak Luluk untuk menemui Boy sekarang juga.
****
Luluk dan Pamungkas tiba di rumah kontrakan Boy selepas mereka tadi pergi ke restoran tempat Boy bekerja dan pemilik restoran mengatakan bahwa Boy sedang libur saat ini, tanpa perlu menanyakan di mana alamat Boy tinggal tentu saja Pamungkas sudah tahu di mana anaknya itu tinggal sementara Luluk nampak tak percaya bahwa Boy tinggal di lingkungan kumuh seperti ini.
“Ya Tuhan, kenapa anak itu tinggal di lingkungan kumuh begini?”
__ADS_1
Luluk nampak jijik ketika melihat banyak anak bermain di dekatnya dan bahkan ia seperti memberikan tanda bahwa mereka jangan mendekatinya hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah kontrakan Boy.
“Kita sudah sampai, silakan kamu ketuk sendiri pintunya,” ujar Pamungkas saat mereka sudah tiba dan Luluk masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.