
Richi tentu saja masih mengingat dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Boy tadi padanya sebelum ia datang ke sini untuk menjemput Ameena, Boy mengatakan bahwa Luluk begitu menyayangi Alysa seperti cucunya sendiri dan bukan tidak mungkin Luluk akan mencoba merebut paksa Alysa dari mereka.
“Bagaimana?”
“Tentu saja aku mengingat dengan jelas apa yang kita bicarakan barusan.”
Belum sempat mereka bicara lebih lanjut mengenai apa yang mereka pebincangkan, sosok Ameena yang membawa Alysa muncul di dekat mereka, Ameena sendiri nampak heran ketika Richi dan Boy tengah bicara saat
ini.
“Kalian sedang membicarakan apa?”
“Bukan apa-apa, segera naiklah,” ujar Richi.
Ameena tak banyak berkata-kata lagi dan menuruti apa yang diperintahkan oleh Richi barusan, sementara itu Boy sendiri masih berada di tempatnya dan memerhatikan mereka, entah kenapa Ameena merasa tatapan Boy
padanya begitu berbeda dan seperti ada sesuatu yang tengah ditutupi oleh Boy saat ini darinya. Selepas Ameena dan Richi pergi, Boy pun kembali masuk ke dalam rumah dan Luluk sudah menantinya di ruang tengah.
“Apa yang kamu dan pria itu bicarakan?”
“Bukankah Mama sudah tahu apa yang aku dan Richi bicarakan sebelumnya?”
“Dan kamu memilih untuk membongkar kalau Alysa bukanlah anaknya?”
“Tentu saja aku belum mengatakan kalau Alysa bukanlah anak kandungnya akan tetapi aku memberikan petunjuk mengenai itu.”
“Kamu yakin ingin segera membongkar semua ini, Nak?”
“Aku tidak memiliki pilihan lain, aku ingin Richi segera tahu kalau Alysa bukanlah anak kandungnya.”
“Namun Mama tak setuju kalau kamu dan Ameena menikah.”
Selepas mengatakan itu Luluk kemudian pergi meninggalkan Boy, Boy sendiri nampak menghela napasnya panjang karena mamanya belum juga berubah pikiran untuk dapat menerima Ameena sebagai menantunya.
“Pokoknya rencana ini harus segera berjalan apa pun risikonya.”
Boy sendiri kemudian berjalan menuju kamarnya dan kemudian ia duduk ditepian ranjang seraya menatap foto Ameena yang ada di ponselnya, ia mengusap foto tersebut dan seketika bayangan masa lalunya dengan Ameena hinggap dalam kepalanya.
****
Richi merasa geram dengan Boy yang selalu saja berada di sekitaran kehidupannya dengan Ameena apalagi ucapan Boy yang mengatakan kalau Luluk ingin mengambil Alysa darinya dan Ameena tentu saja ia tidak akan
__ADS_1
membiarkan hal tersebut sampai terjadi.
“Kamu kenapa, Richi?”
“Bukan apa-apa.”
“Kamu tak dapat membohongiku, sesuatu pasti telah terjadi kan?”
Awalnya memang Richi tak mau memberitahu Ameena mengenai hal ini, akan tetapi setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya Richi pun memutuskan untuk menceritakan apa yang Boy ceritakan pada Ameena. Mendengar cerita Richi barusan membuat Ameena terkejut dan tak percaya kalau Luluk ternyata memang ingin mengambil Alysa darinya dan tentu saja sebagai seorang ibu dirinya tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.
“Jadi apakah kamu masih akan tetap membawa Alysa ke rumah itu?”
“Tidak, aku tidak mau kalau sampai nyonya Luluk mengambil anakku.”
Richi tersenyum karena akhirnya Ameena sadar juga akan tipu muslihat Luluk, Richi mengatakan bahwa ketika mereka bekerja maka Alysa bisa mereka titipkan ke tetangga dan Ameena menyetujui hal tersebut. Maka keesokan harinya ketika Ameena berangkat kerja ke rumah Luluk, dirinya tidak membawa Alysa bersamanya dan tentu saja hal tersebut membuat Luluk curiga.
“Kenapa kamu tidak membawa Alysa?”
“Dia sedang sakit, Nyonya.”
****
Luluk tak percaya begitu saja dengan apa yang Ameena katakan barusan, ia mendesak Ameena mengatakan yang sejujurnya namun tentu saja Ameena menolak memberikan penjelasan yang sejujurnya hingga membuat Luluk naik
“Kenapa kamu tak mau mengatakan kejujurannya Ameena? Aku tahu kalau saat ini kamu tengah mencoba membohongiku.”
“Saya ….”
“Katakan padaku, Ameena.”
Ameena memejamkan matanya sebentar untuk meredakan degup jantungnya yang berdebar tak karuan karena Luluk memaksanya untuk mengatakan alasan di balik ia tidak membawa Alysa datang ke sini.
“Sebenarnya Nyonya ingin anak saya kan?”
“Apa maksudmu menanyakan itu?”
“Nyonya, Alysa adalah anak saya dan saya tidak bisa melepaskan dia.”
Luluk mengerutkan kening heran dengan ucapan Ameena barusan, Luluk mengatakan bahwa ia tidak akan melakukan seperti apa yang Ameena sudah tuduhkan padanya barusan, Luluk mengatakan kalau ia hanya tertarik pada Alysa karena anak itu begitu manis dan menggemaskan namun sayangnya Ameena sama sekali tidak memercayai apa yang Luluk katakan.
“Saya yakin kalau Nyonya menyembunyikan alasan yang sebenarnya dari saya.”
__ADS_1
“Iya, baiklah aku memang tidak mengatakan alasan yang sebenarnya padamu, apakah sekarang kamu sudah merasa puas?”
“Sebenarnya kenapa Nyonya melakukan semua ini? Apa yang Nyonya inginkan dari anak saya?”
“Kamu akan segera mengetahuinya Ameena, tunggu saja.”
Selepas mengatakan itu, Luluk langsung pergi meninggalkan Ameena yang mana hal tersebut tentu saja membuat Ameena menjadi bingung.
****
Nandhita semakin hari semakin dekat dengan Jose, ia sudah tidak canggung lagi bertukar pesan dengan pria itu dan ketemuan di hari-hari tertentu hingga ia dapat melupakan kalau saat ini dirinya sudah memiliki seorang anak dan suami. Hanif sendiri tentu bukan tak menyadari kalau ada sesuatu hal yang berubah dari Nandhita dan tentu saja ia langsung bergerak cepat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nandhita. Hanif langsung
mendapatkan informasi mengenai Jose dan pria itu dengan mudah mendapatkan kontak Jose dan menghubunginya untuk mengajaknya bertemu sekarang juga di sebuah café. Hanif sudah duduk di kursinya menunggu sampai Jose tiba dan tidak lama kemudian Jose tiba di café tersebut dan ia nampak bingung karena mencari di mana Hanif berada, Hanif yang melihat itu pun langsung melambaikan tangannya dan Jose yang melihatnya pun langsung menghampiri Hanif.
“Anda orang yang menelponku?”
“Iya, aku orang yang menelponmu barusan, silakan duduk.”
Jose pun kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Hanif saat ini, sementara itu Hanif sendiri nampak memerhatikan Jose dengan seksama yang membuat Jose menjadi tidak nyaman dibuatnya.
“Kenapa anda menatapku seperti itu?”
“Kamu dekat sekali dengan istriku kalau diperhatikan.”
****
Nandhita berusaha menghubungi Jose namun sayangnya Jose tidak menjawab telepon darinya dan tentu saja Nandhita kesal karena tidak biasanya pria itu mengabaikannya seperti ini, Nandhita berusaha terus menghubungi Jose baik lewat telepon atau pesan hingga membuatnya uring-uringan karena sampai saat ini Jose tidak dapat juga untuk dihubungi.
“Kenapa dia tidak dapat dihubungi, sih?”
Hingga beberapa lama akhirnya Jose menelpon balik dirinya dan tentu saja Nandhita tanpa membuang waktu langsung menjawab telepon dari Jose.
“Kenapa kamu tidak menjawab telepon dariku tadi?”
“Maaf karena tidak menjawab telepon darimu, tadi aku tengah menemui seseorang.”
“Menemui seseorang? Apakah dia kekasihmu?”
“Bukan.”
“Lantas siapa orang yang kamu temui barusan?”
__ADS_1
“Dia ….”