
Ameena nampak terkejut ketika dirinya dikejar oleh dua pemuda yang sepertinya sangat marah padanya padahal Ameena merasa tak melakukan apa pun pada keduanya hingga akhirnya ia secara tak sengaja bertemu dengan Travis dan pria itu membantu Ameena menyelesaikan masalahnya dengan kedua pemuda asing yang sejak tadi mengejarnya. Travis nampak bicara dengan kedua pemuda itu dan Ameena hanya menyaksikan ketiganya bicara dari jarak yang jauh karena takut keduanya melakukan hal yang buruk padanya jika ia berani mendekat. Selepas bicara dengan Travis, kedua pemuda itu pergi meninggalkan tempat ini namun sebelum mereka pergi nampak masih menatap Ameena dengan tatapan benci.
“Sudah selesai.”
“Terima kasih banyak, Travis.”
“Tidak masalah Ameena, kamu mau ke mana?”
“Aku ingin pergi ke supermarket untuk berbelanja.”
“Kalau begitu biar aku antar.”
“Tidak perlu, aku dapat melakukannya sendiri.”
“Memangnya kamu tidak takut mendapatkan serangan seperti tadi?”
Ameena terdiam dan kemudian membiarkan Travis untuk ikut dengannya namun ia meminta pria itu tidak berdekatan dengannya hingga membuat Travis penasaran kenapa Ameena begitu takut untuk berdekatan dengan laki-laki.
“Aku tidak takut berdekatan dengan laki-laki hanya saja aku sudah menikah dan tidak sepatutnya seorang wanita yang telah menikah berdekatan dengan laki-laki lain yang bukan suaminya.”
“Teman-temanku banyak yang wanita dan mereka biasa-biasa saja berdekatan dengan laki-laki yang bukan suaminya, kamu kok berbeda sekali sih seperti wanita timur tengah yang ada di kota ini katanya kamu bukan
wanita timur tengah.”
Ameena tahu arah pembicaraan Travis ke mana, Ameena menjelaskan bahwa dalam kepercayaannya bahwa wanita yang sudah menikah tidak boleh berdekatan dengan pria yang bukan saudara kandungnya atau suaminya untuk menjaga dirinya dari fitnah yang bukan-bukan dan ia juga menjelaskan bahwa ajaran agama itu bukan hanya berlaku di timur tengah saja melainkan seluruh dunia.
“Lalu itu termasuk dengan aku yang tak boleh menyentuhmu?”
“Iya, kita kan tidak memiliki ikatan darah atau kamu bukan suamiku jadi tidak boleh menyentuhku.”
****
Dalam perjalanan pulang dari supermarket itu, Travis bercerita pada Ameena bahwa imigran timur tengah kerap kali membuat masalah di kota ini dan membuat penduduk lokal jadi antipati terhadap orang asing apalagi kalau mereka menggunakan hijab atau burka, tatapan orang akan langsung berbeda pada mereka yang mengenakan tersebut. Ameena sudah merasakannya beberapa kali ketika ia berjalan kaki di sekitar apartemen atau di supermarket ia kerap kali menjadi pusat pandangan orang-orang, ada yang hanya melihat namun ada juga yang mengatainya dengan sebutan imigran asing dan harusnya kembali ke negaranya. Ameena tidak tahu apa yang dikatakan mereka sampai Travis menerjemahkannya yang membuat Ameena terkejut karena sentimen anti orang asing cukup tinggi di sini.
__ADS_1
“Mereka pernah mengalami hal yang buruk dari orang muslim ketika mereka sedang berangkat sekolah tiba-tiba saja mereka diserang oleh sekelompok imigran asing yang merebut sepeda mereka, tidak hanya itu salah satu remaja tadi orang tuanya memiliki toko dan ada imigran yang mencuri barang di toko hingga membuat orang tua remaja itu rugi.
“Begitu rupanya.”
“Aku harap kamu bukan salah satu di antara mereka, Ameena.”
“Aku tidak seperti itu, terima kasih sudah mau berbagi denganku, Travis.”
Ameena dan Travis berpisah di depan unit apartemen Ameena karena unit apartemen Travis masih beberapa langkah lagi dari unit apartemen Ameena.
****
Ameena baru saja melaksanakan ibadah salat maghrib ketika Hanif tiba di apartemen, ia langsung membereskan alat salat-nya sebelum keluar kamar dan menyambut Hanif yang baru pulang kerja. Ekspresi Hanif ketika menatapnya membuat Ameena bingung karena sepertinya Hanif saat ini sedang marah padanya.
“Mas, ada apa menatapku begini?”
“Katakan padaku, kamu berselingkuh kan?”
“Ya Allah, Mas, kok kamu masih menuduhku berselingkuh sih?”
“Itu tetangga unit apartemen kita Mas, dia tinggal di unit 1520, kami bertemu di pesawat dari Dubai ke sini.”
“Apakah kamu pikir aku akan percaya dengan yang kamu katakan?”
Ameena tahu bahwa Hanif pasti akan mengatakan itu, ia hanya dapat menghela napasnya untuk bersabar karena pasti Hanif tidak akan mau mendengarkan apa yang ia jelaskan.
“Kalau Mas tidak percaya, ayo kita temui dia,” ujar Ameena.
Akhirnya Ameena mengajak Hanif menuju unit apartemen Travis, Ameena menekan bel pintu unit apartemen Travis hingga beberapa saat kemudian pria itu membukakan pintu untuk Ameena dan terkejut karena mendapati
Ameena tak datang sendiri melainkan bersama suaminya.
“Travis, suamiku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
__ADS_1
****
Luluk masih menunggu kabar dari Cassandra mengenai keberadaan Boy, ia tidak dapat tenang sebelum Boy ditemukan, ia mencoba menelpon Cassandra untuk menanyakan apakah Cassandra sudah mengetahui di mana Boy berada namun sayangnya sampai saat ini Cassandra belum juga mengetahui keberadaan Boy.
“Tante tenang saja, pasti setelah Boy ditemukan aku akan langsung menghubungi Tante.”
“Terima kasih banyak Cassandra, tolong segera beritahu Tante, ya?”
Setelah itu Luluk menutup sambungan teleponnya, tidak lama kemudian ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamar hotelnya, ia membukakan pintu kamar hotel dan rupanya orang yang datang adalah Nandhita.
“Halo Tante.”
“Nandhita, masuklah.”
“Terima kasih.”
Nandhita datang dengan membawa buah tangan untuk Luluk namun Luluk sepertinya saat ini tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja hingga membuat Nandhita bertanya pada Luluk apa yang terjadi saat ini.
“Boy, sekarang dia menghilang.”
“Boy menghilang? Bukankah sebelumnya Tante sudah tahu di mana Boy berada?”
“Iya sebelumnya memang aku sudah tahu di mana Boy berada dan tinggal namun sekarang Boy sudah menghilang dan aku tidak tahu di mana dia sekarang, aku takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Boy.”
Nandhita kemudian memeluk Luluk supaya merasa lebih baik, Luluk membalas pelukan Nandhita itu untuk beberapa saat dan ia menumpahkan semua emosi yang tengah ia rasakan dalam pelukan tersebut.
****
Nandhita baru saja keluar dari hotel tempat Luluk menginap dan ia mendapatkan kabar bahwa visa yang ia ajukan untuk pergi ke Norwegia sudah jadi, ia bergegas menelpon Richi untuk menanyakan apakah sudah ada kabar mengenai visa yang pria itu ajukan. Richi mengatakan bahwa visanya juga sudah keluar dan ia diminta untuk segera mengambilnya di keduataan. Nandhita mengatakan pada Richi bahwa nanti mereka bertemu di kedutaan dan setelah itu Nandhita bergegas masuk ke dalam mobilnya menuju kedutaan Norwegia untuk mengambil paspor serta visanya, ketika tiba di sana nampak sudah ada Richi yang menunggunya dan mereka berdua langsung masuk ke dalam kedutaan itu. Selepas selesai mengambil paspor dan visa mereka di dalam keduataan itu kini Nandhita
mengajak Richi bicara sebentar sebelum mereka pulang.
“Kamu tidak akan berubah pikiran kan?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak, ayo kita lakukan.”