Cinta Ameena

Cinta Ameena
Tertutup Rasa Tak Percaya


__ADS_3

Nandhita menantikan kabar Ameena di depan ruang IGD, ia berharap kalau sesuatu hal yang buruk tidak terjadi pada Ameena, Nandhita merasa bersalah karena tidak sengaja mendorong Ameena hingga berujung jatuh ke danau tersebut. Tidak lama kemudian akhirnya dokter muncul dari dalam ruang IGD dan mengatakan kalau kondisi Ameena sudah stabil dan dapat dibawa ke ruang inap. Nandhita yang mendengar itu sungguh lega sekali hatinya, ia merasa perjuangannya membawa Ameena ke rumah sakit ini tidaklah sia-sia. Akhirnya Ameena pun dibawa menuju ruang inap namun Ameena masih belum sadarkan diri, ketika menunggu Ameena siuman, seorang perawat


mengatakan bahwa Nandhita harus mengganti pakaiannya saat ini karena pakaian yang Nandhita kenakan basah.


“Iya, saya akan segera mengganti pakaian saya.”


Nandhita kemudian pergi sebentar untuk membeli pakaian dan kembali ke ruang inap Ameena yang mana sampai saat ini Ameena belum juga siuman, saat menanti Ameena siuman ponsel Nandhita berdering dan ketika melihat


nama di layar ponselnya ia pun segera menjawab telepon tersebut.


“Halo?”


“Di mana kamu?”


“Aku ada di rumah sakit.”


“Rumah sakit mana?”


“Aku akan segera mengirimkan lokasinya padamu.”


Nandhita pun segera menutup sambungan telepon dan memberikan lokasi rumah sakit ini pada orang tersebut, tidak lama kemudian ia melihat kalau Ameena sudah mulai membuka mata dan menggerakan tangannya.


“Ameena, kamu sudah siuman?”


Perlahan Ameena sudah dapat mengenali di mana ia berada saat ini dan yang membuatnya terkejut adalah Nandhita yang tengah menungguinya di sini.


“Nandhita?”


“Iya, ini aku.”


Tidak lama kemudian sosok Boy muncul di ruangan inap ini dan ia langsung menghampiri Ameena untuk menanyakan keadaan Ameena, dari raut wajahnya terpancar kekhawatiran yang luar biasa sekali saat ini.


“Ameena, kamu baik-baik saja? Bagaimana bisa kamu begini?”


“Saya baik-baik saja Tuan.”


“Apakah semua ini akibat perbuatan Nandhita?”

__ADS_1


“Justru dia yang menyelamatkan saya, Tuan.”


Tentu saja mendengar ucapan Ameena tersebut membuat Boy terkejut dan tak percaya, ia nampak menatap tajam pada Nandhita.


****


Boy mengajak Nandhita untuk bicara diluar ruangan inap Ameena, ia mengatakan pada Nandhita bahwa ia tidak akan pernah memaafkan Nandhita atas apa yang sudah ia coba lakukan pada Ameena namun tentu saja


Nandhita membela dirinya bahwa ia tidak bermaksud untuk mencelakai Ameena namun tentu saja Boy sama sekali tidak dapat memercayai apa yang diktakan oleh Nandhita barusan.


“Kamu pikir aku dapat memercayai apa yang kamu katakan begitu saja Nandhita? Kamu adalah wanita jahat yang hendak mencelakai wanita yang aku cintai, bagaimana bisa aku memercayaimu?”


“Aku sama sekali tidak memaksamu untuk memercayaiku, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”


Selepas mengatakan itu Nandhita kemudian pergi meninggalkan Boy, Boy sendiri kemudian kembali masuk ke dalam ruangan inap Ameena. Ternyata Ameena sejak tadi mencuri dengar pembicaraan antara Boy dan


Nandhita barusan diluar ruangan inap tersebut. Ameena mengatakan pada Boy bahwa apa yang Nandhita ucapkan barusan padanya memang benar terjadi namun Boy tentu saja tak memercayai apa yang Ameena katakan barusan.


“Ameena, aku tahu bahwa kamu adalah orang yang baik namun aku mohon jangan berbohong hanya demi orang itu.”


“Saya sama sekali tidak berbohong Tuan, Nandhita memang menyelamatkan saya.”


****


Nandhita begitu sedih karena Boy tidak memercayai apa yang dikatakan olehnya, saat ini Nandhita tengah duduk di kursi taman rumah sakit seorang diri merenungkan apa yang baru saja terjadi pada Ameena. Saat ia tengah duduk termenung sendirian itulah, sosok Boy muncul dan menghampirinya.


“Mau apa lagi kamu datang?”


“Aku sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi dari Ameena.”


“Jadi sekarang kamu sudah percaya bahwa aku sama sekali tidak berniat untuk membuat Ameena celaka kan?”


“Iya, memang sepertinya itulah adalah sebuah ketidak sengajaan akan tetapi aku tidak dapat memercayaimu sepenuhnya.”


Nandhita tentu saja kecewa dengan ucapan Boy yang masih belum mau memercayai hal tersebut padahal Ameena sudah menceritakan semuanya padanya. Boy mengatakan pada Nandhita bahwa selamanya ia akan terus


memerhatikan Nandhita dan kalau memang Nandhita ingin berbuat kejahatan pada Ameena maupun Alysa, maka ia tidak akan pernah tinggal diam.

__ADS_1


“Ingat itu baik-baik.”


Selepas mengatakan itu Boy kemudian pergi meninggalkan Nandhita, Nandhita sendiri hanya dapat menghela napasnya panjang dan wanita itu memutuskan untuk pergi saja dari rumah sakit ini untuk pulang ke rumah.


“Aku tidak dapat memaksanya untuk memercayai apa yang aku katakan.”


****


Hanif mendapatkan kabar bahwa Ameena mengalami hal yang buruk hingga ia dirawat di rumah sakit, Hanif segera datang untuk melihat bagaimana kondisi Ameena saat ini dan ketika ia tiba di sana nampak Boy yang tengah menunggui Ameena, Boy sendiri nampak terkejut ketika Hanif datang ke ruangan inap Ameena ini.


“Mas Hanif?”


“Boy, aku datang ke sini karena mendengar kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Ameena.”


“Iya, memang sesuatu hal yang buruk terjadi pada Ameena dan semua itu karena Nandhita.”


“Apa maksudmu karena Nandhita?”


Boy pun menceritakan apa yang sudah Nandhita lakukan pada Ameena namun Ameena mengatakan pada Boy bahwa cerita yang Boy sampaikan pada Hanif saat ini bukanlah cerita yang sebenarnya.


“Kenapa kamu terus menerus membela Nandhita, Ameena?” tanya Boy.


“Saya tidak membela Nandhita, Tuan Boy, saya hanya menegur Tuan karena membuat cerita yang tidak benar berdasarkan asumis pribadi anda.”


“Kalau begitu bagaimana cerita sebenarnya Ameena?” tanya Hanif.


Ameena pun kini menceritakan apa yang terjadi padanya dan Hanif menyimak cerita Ameena barusan, dari cerita Ameena barusan ia terkejut mendengar bahwa Nandhita menyelamatkan Ameena yang tercebur ke danau dan tentu saja hal tersebut membuatnya tak percaya karena setahunya Nandhita adalah orang yang jahat.


****


Hanif menelpon Nandhita dan mengajak wanita itu untuk bertemu, Nandhita nampak tak bersemangat dari nada bicaranya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun saat ini. Hanif menghela napasnya


kesal dengan jawaban yang Nandhita katakan, akan tetapi sepertinya ia tahu di mana Nandhita berada saat ini dan ia segera melajukan kendaraannya menuju lokasi di mana yang ia yakini Nandhita berada dan benar saja Nandhita saat ini berada di tempat ini. Hanif turun dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Nandhita yang tengah menangis di makam kedua orang tuanya.


“Sudah aku duga kalau kamu ada di sini.”


Nandhita terkejut ketika mendapati Hanif berdiri di belakangnya, ia buru-buru menghapus air matanya dan menanyakan kenapa Hanif dapat menemukannya di sini.

__ADS_1


“Apakah semua yang Ameena katakan itu benar?”


“Apa maksudmu?”


__ADS_2