
Ameena benar-benar tidak menyangka bahwa saat ini suaminya tengah koma di rumah sakit dan ia tidak dapat menjenguk karena tidak diizinkan oleh pihak rumah tahanan, walau Ameena sudah berusaha memohon namun
mereka tetap tidak mengizinkan untuk Ameena masuk ke dalam. Ameena pun juga tengah berjuang untuk dapat mencari pekerjaan untuk dapat menghidupi dirinya dan Alysa akan tetapi sayangnya sampai saat ini dirinya belum mendapat pekerjaan seperti yang ia inginkan. Ameena benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan saat ini hingga pada hari ini ia mendapatkan sebuah kabar yang sangat mengejutkan yaitu suaminya telah meninggal dunia. Ameena tentu saja tidak dapat memercayai begitu saja berita tersebut namun setelah pihak rumah tahanan mempersilakan Ameena untuk membawa jenazah Richi, maka Ameena tidak dapat menahan tangisnya. Ameena benar-benar tidak menyangka bahwa hal buruk berikutnya akan benar-benar terjadi dalam hidupnya, ia tidak dapat mengurus kepulangan jenazah Richi seorang diri dan ia meminta bantuan Untari untuk melakukannya, tentu saja Untari dengan senang hati membantu Ameena yang tengah kesulitan saat ini.
“Ma.”
“Ameena.”
Mereka berpelukan untuk beberapa saat dan saat mereka berpelukan itu Ameena nampak tidak dapat menahan air matanya untuk tidak tumpah, Ameena benar-benar sedih dan terpukul akibat kepergian suaminya yang begitu tragis.
“Tenanglah Ameena.”
“Iya Ma, aku hanya masih belum dapat percaya saja kalau saat ini Richi sudah pergi untuk selama-lamanya.”
Alysa sendiri juga tidak dapat menahan air matanya ketika melihat sang ayah sudah tidak bernyawa, anak itu memanggil ayahnya berharap ada keajaiban di sana namun tentu saja hal tersebut sama sekali tidak terjadi. Pemakaman berlangsung cepat dan selepas acara pemakaman berlangsung, Ameena dan Alysa masih belum beranjak dari sana dan mereka berdua masih begitu terpukul dengan kenyataan pahit yang harus mereka terima saat ini.
“Ameena, lebih baik kamu tinggal di rumah Mama dulu untuk sementara waktu,” ujar Untari.
“Aku tidak tahu Ma, aku tidak mau membuat Mama repot,” ujar Ameena.
“Kamu sama sekali tidak membuat Mama repot, kok.”
****
Pada akhirnya Ameena pun menerima saran dari Untari bahwa ia akan tinggal untuk sementara waktu di rumah itu sampai paling tidak kesedihannya berkurang akibat kepergian suaminya yang begitu tragis. Hanif sendiri tidak
terlalu terkejut dengan keputusan Ameena ini, ia juga sama sekali tidak keberatan kalau Ameena tinggal di sini.
“Kamu kembali lagi rupanya.”
__ADS_1
“Iya Mas, maaf kalau membuat Mas Hanif menjadi tidak nyaman.”
“Tidak, siapa yang mengatakan itu? Aku tidak masalah kalau kamu tinggal di sini untuk sementara waktu.”
Selepas mengatakan itu Hanif langsung pergi meninggalkan Ameena, maka selepas itu juga Ameena pergi menuju kamarnya untuk beristirahat, di sana ia meraih ponselnya untuk melihat apakah ada pesan atau panggilan masuk selama ia berada di pemakaman tadi dan rupanya memang ada banyak sekali pesan dan panggilan masuk di ponselnya namun semua itu didominasi oleh nomor yang sama dan tentu saja si pemilik nomor itu adalah Boy.
“Maafkan aku tuan, akan tetapi saat ini aku tidak ingin untuk menjawab semua panggilan dan pesan darimu, aku harap anda mengerti.”
Maka Ameena pun mengabaikan semua itu dan memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian sebelum akhirnya pergi tidur karena ia lelah sekali saat ini.
****
Keesokan harinya Boy tiba di rumah Untari selepas ia mendapatkan kabar bahwa Ameena tinggal di sini untuk sementara waktu, Hanif yang membukakan pintu untuk Boy tentu saja merasa heran kenapa Boy berkunjung
ke sini hari ini.
“Aku datang untuk menemui Ameena, apakah dia ada di dalam?”
“Karena Ameena ada di sini kan?”
Hanif tidak menjawab pertanyaan dari Boy barusan namun Hanif mengatakan bahwa sebaiknya Boy tidak perlu datang lagi ke sini dan tentu saja jawaban dari Hanif tersebut membuat Boy begitu emosi.
“Apa maksud Mas Hanif barusan? Kenapa aku tidak boleh ke sini?”
“Aku tidak melarangmu untuk datang ke sini hanya saja lebih baik kamu pulang saja sekarang karena kondisinya sedang tidak memungkinkan.”
“Ameena pasti yang menyuruhmu mengatakan itu padaku kan? Dia ada di dalam kan?”
“Boy, aku tahu bahwa hubunganmu dengan Ameena sedang tidak baik-baik saja saat ini dan kamu harus paham bahwa saat ini Ameena membutuhkan waktu untuk menjaga jarak darimu.”
__ADS_1
“Tapi sekarang Ameena sedang sedih Mas, aku ingin menghibur Ameena.”
“Aku tahu niatmu itu baik namun saat ini Ameena tidak ingin digganggu oleh siapa pun, jadi tolong kamu jangan ganggu dia, ya?”
Boy menghela napasnya berat dan berusaha untuk tidak marah pada Hanif yang menghalanginya untuk bertemu Ameena.
****
Nandhita tidak percaya bahwa ia dan Jose kembali bertemu lagi di kota ini selepas Jose mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Nandhita sekarang, Jose mengajak Nandhita untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak lain
adalah tempat penuh kenangan di mana dulu Jose mengatakan bahwa ia menyukai Nandhita walaupun sebenarnya semua itu hanya sebuah kepalsuan belaka yang membuatnya begitu sakit pada akhirnya ketika mengetahui yang sebenarnya.
“Apakah kamu masih mengingat tempat ini, Nandhita?”
“Iya, tentu saja aku masih mengingat tempat ini,” jawab Nandhita yang berusaha mengatur suaranya supaya tidak terdengar begitu sedih saat ini.
Jose sendiri menatap Nandhita sekilas, ia dapat mengetahui bahwa saat ini Nandhita sedang memikirkan sesuatu yang telah terjadi di masa lalu antara mereka berdua dan ketika ia membawanya ke tempat ini tentu saja memori masa lalu itu pasti kembali dalam ingatan Nandhita.
“Kamu tahu kan tempat apa ini?”
“Iya, aku tahu dan rasanya seperti baru kemarin kita datang ke sini.”
“Alasan aku datang ke sini adalah untuk memperbaiki semuanya Nandhita, aku tidak ingin kamu memendam kekecewaan berlebih padaku atas apa yang pernah terjadi di antara kita di masa lalu.”
“Aku paham apa maksudmu Jose, aku akan berusaha mengikhlaskan semuanya.”
****
Ameena berterima kasih pada Hanif karena telah mengusir Boy dari rumah ini namun Hanif mengatakan bahwa ia melakukan itu bukan karena ia mencintai Ameena melainkan ia melakukan hal itu karena ingin membuat Ameena merasa nyaman tanpa ada gangguan apa pun dari Boy. Ameena menganggukan kepalanya, Ameena sendiri masih menyimpan rasa suka pada Hanif namun perlahan ia akan berusaha untuk tidak lagi memendam rasa suka pada mantan suaminya karena sampai kapan pun sepertinya mereka berdua tidak akan pernah bersama.
__ADS_1
“Ameena, kenapa kamu sedih begini, Nak?” tanya Untari yang membuat Ameena terkejut.
“Tidak kok Ma, aku tidak sedang sedih,” kilah Ameena.