Cinta Ameena

Cinta Ameena
Terpaksa Pergi


__ADS_3

Ameena nampak tak begitu menyukai kehadiran Luluk di rumah ini karena ia sudah mendapatkan firasat bahwa wanita ini pasti akan melakukan sesuatu hal yang buruk padanya, akan tetapi kalau ia tidak masuk ke dalam rumah maka jelas itu tidak mungkin karena ini adalah tempat tinggalnya sekarang.


“Akhirnya kamu datang juga, Ameena.”


“Ada apa Nyonya datang ke sini?”


“Saya datang ke sini untuk memberikanmu selamat.”


“Apa?”


“Iya, selamat karena kamu sudah berhasil membuat Hanif


menyukaimu.”


“Saya ….”


“Tapi ingat Ameena, bukan berarti saya akan tinggal diam begitu saja karena walaupun kamu pindah dari Indonesia maka saya tidak akan berhenti untuk menghancurkanmu lewat keluargamu.”


Sontak saja Ameena terkejut dengan ucapan Luluk barusan, ia yakin bahwa wanita ini sama sekali tidak main-main dengan ucapannya untuk menghancurkan keluarganya. Ameena meminta pada Luluk untuk jangan melakukan hal yang buruk pada keluarganya namun Luluk sama sekali tidak bisa berjanji akan hal tersebut.


“Seperti yang kamu ketahui hubungan kita sejak awal tidak baik Ameena, dulu mungkin saya masih menahan diri ketika anakku masih hidup namun sekarang setelah dia tidak ada maka saya akan secara terang-terangan menunjukan rasa tidak suka saya pada kamu.”


“Nyonya ….”


“Selamat bersenang-senang dan menepuh hidup baru di Norwegia dan saya akan pastikan hari-harimu di Norwegia tidak akan aman karena saya di sini akan melakukan sesuatu pada keluargamu.”


Setelah mengatakan itu Luluk berbalik badan untuk masuk ke mobilnya, Ameena masih terdiam di tempatnya memikirkan apa yang Luluk tadi ucapkan padanya, ia berusaha untuk tetap tenang dan tak panik dulu karena ia


yakin kalau ia pasti bisa melewati semua ini.


“Yang perlu aku lakukan hanya memberitahu ayah dan ibu untuk berhati-hati padanya dan semua akan baik-baik saja kan?”


Amneena kemudian masuk ke dalam rumah, ia menuju kamarnya dan kemudian menelpon sang ibu. Di telepon itu Ameena mengatakan pada ibunya untuk berhati-hati karena ia khawatir pada ancaman Luluk barusan.


****


Visa Ameena sudah keluar dan hari keberangkatan mereka ke Norwegia sudah di depan mata namun sebelum keberangkatan Ameena ke Norwegia ada sebuah berita buruk yang diterima olehnya yaitu rumah keluarganya dilempari batu oleh orang tak dikenal. Ameena merasa bahwa Luluk sudah memulai rencananya untuk membuat keluarganya ketakutan dan Ameena jadi ragu apakah ia tetap harus pergi ke Norwegia bersama dengan Hanif atau ia memilih untuk tetap tinggal di sini. Sikap Hanif padanya masih sama seperti yang lalu-lalu, Hanif masih


bersikap dingin dan acuh padanya bahkan Hanif masih enggan bicara banyak padanya.

__ADS_1


“Mas.”


Ameena berusaha membuka percakapan dengan Hanif setelah ia memutuskan harus menceritakan masalah yang sedang ia alami pada suaminya itu, ia berharap bahwa Hanif akan memberikan sebuah solusi atas masalah


yang tengah ia alami saat ini.


“Ada apa?”


“Anu… ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu.”


Ameena kemudian menceritakan apa yang tengah terjadi pada keluarganya, Hanif sendiri nampak diam dan mendengarkan apa yang sedang Ameena ceritakan dan ketika Ameena meminta saran darinya justru yang ada Ameena dimarahi oleh Hanif.


“Jadi kamu ingin membatalkan untuk ikut denganku ke Norwegia begitu?!”


“Tidak Mas, bukan begitu maksudku.”


“Bukan begitu maksudmu? Kalau bukan begitu lantas apa? Jelas-jelas tadi kamu sepertinya ingin supaya tinggal di sini!”


“Tidak Mas, bukan begitu, aku hanya khawatir pada orang tuaku.”


****


pria itu adalah suaminya, ia hanya bisa pasrah dan berdoa pada Tuhan semoga saja kedua orang tuanya selalu dalam lindungan-Nya. Ameena nampak tengah berdoa setelah melaksanakan ibadah salat isya dan hal tersebut dilihat oleh Hanif yang secara tak sengaja melintas di depan kamar Ameena, ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menuju kamarnya dan mengemasi pakaiannya karena sebentar lagi jemputan bandara akan tiba.


“Cepatlah Ameena, sebentar lagi kita harus pergi ke bandara!” seru Hanif.


Ameena kemudian keluar dari dalam kamarnya dengan membawa koper besar, ia nampak tidak bersemangat untuk pergi mengingat keluarganya saat ini dalam bahaya namun ia tak dapat melakukan apa pun karena ia harus tetap pergi mengikuti suaminya.


“Jangan menjadi istri durhaka, kamu harus menuruti semua perintahku!”


“Iya Mas, aku mengerti.”


Setelah itu mobil jemputan tiba di rumah mereka, asisten rumah tangga membantu membawakan koper Hanif dan Ameena ke dalam mobil. Hanif sama sekali tidak menunggu Ameena untuk masuk ke dalam mobil karena ia


sudah masuk terlebih dahulu.


****


Luluk tengah duduk di tepian ranjang ketika suaminya masuk ke dalam kamar, suaminya itu nampak membuka jas dan kancing kemeja yang ia kenakan selama seharian ini. Luluk sama sekali tidak menatap suaminya itu dan masih

__ADS_1


sibuk dengan ponselnya hingga akhirnya suaminya itu mengatakan sesuatu padanya.


“Kita perlu bicara, Luluk.”


Luluk menghela napasnya dan kemudian menatap suaminya dengan tak bersemangat, Luluk bertanya ada masalah apa lagi sampai mereka harus bicara.


“Aku dengar dari Boy bahwa kamu sebenarnya tidak menyukai Ameena, apakah itu benar?”


“Iya, sejujurnya aku tidak menyukai Ameena, apakah kamu ada masalah dengan itu?”


Pamungkas nampak menggelengkan kepalanya, ia mengatakan pada Luluk bahwa ia sama sekali tidak ada masalah dengan hal tersebut justru Pamungkas mengatakan bahwa ia lega karena ternyata Luluk tidak


menyukai Ameena.


“Aku tidak bisa menerima wanita itu sebagai istri kedua Hanif sampai kapan pun, bagaimana bisa Salsabila meminta Hanif menikahi wanita itu?”


Luluk nampak tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, ternyata suaminya itu juga tak menyukai Ameena dan tentu saja hal ini harus dimanfaatkan olehnya supaya dapat membuat Ameena menderita walaupun dia


sekarang hidup bahagia bersama dengan Hanif di Norwegia.


“Saat ini aku sedang menjalankan rencanaku, aku yakin walaupun Ameena pergi jauh dari sini namun ia tidak akan tenang karena keluarganya dalam ancaman.”


****


Ameena dan Hanif sudah tiba di bandara, sopri membantu mereka menunrunkan barang bawaan dari dalam mobil, Hanif berterima kasih pada sopir yang membawa mereka ke bandara ini dan Ameena hanya diam saja. Pikirannya


masih begitu kalut karena memikirkan nasib kedua orang tuanya yang kini dalam bahaya akibat perbuatan Luluk.


“Ameena.”


Ameena terkejut ketika ada seseorang yang memanggil namanya dan orang itu bukan Hanif melainkan Boy, pria itu berada sekitar 2 meter di depannya dan kemudian Boy berjalan menghampiri Ameena.


“Tuan kenapa ada di sini?”


“Hari ini kan kamu akan pergi ke Norwegia, maka aku datang ke sini untuk memberikanmu salam perpisahan.”


“Tuan ….”


“Jaga dirimu baik-baik di sana, ingat pesanku padamu waktu itu.”

__ADS_1


__ADS_2