
Nandhita akan membuktikan pada Hanif bahwa ia akan membeberkan semua yang telah mereka lakukan pada Untari dan ia akan pastikan kalau Hanif akan menanggung semua itu, Nandhita sudah sangat tidak sabar untuk
membuat kejutan pada Untari mengingat ia sudah menyiapkan semua bukti yang dapat digunakan untuk memperkuat apa yang ia akan katakan pada wanita itu. Akhirnya orang yang sejak tadi ia tunggu muncul juga yang tidak lain adalah Untari, wanita itu nampak begitu penasaran kenapa Nandhita mengajaknya bertemu di sini
dan Nandhita pun kemudian menceritakan pada Untari kenapa dirinya mengajak bertemu sekarang.
“Ada sesuatu yang perlu Tante ketahui mengenai aku dan Hanif.”
“Ada apa Nandhita?”
“Tante bisa lihat semua ini.”
Nandhita memperlihatkan foto-foto dirinya dan Hanif yang tengah melakukan adegan panas di kamar hotel dan membuat Untari terkejut hingga menutup mulutnya tak percaya dengan semua bukti yang Nandhita sodorkan
padanya ini.
“Memang berat untuk Tante menerima semua ini namun semua ini adalah sesuatu hal yang pernah terjadi di antara aku dan Hanif.”
“Tidak mungkin, bagaimana bisa?”
Nandhita mengarang cerita supaya Untari memercayai ucapannya, ia memfitnah Hanif yang mabuk dan kemudian menidurinya secara paksa namun Untari agak sangsi dengan ucapan Nandhita itu, ia tahu betul bahwa putranya tidak pernah mengonsumsi minuman seperti yang Nandhita ceritakan barusan.
“Apakah itu benar?”
“Kenapa Tante tidak percaya padaku?”
“Bukannya Tante tak percaya padamu, hanya saja Tante tahu betul seperti apa anak Tante, dia tidak akan mungkin mengonsumsi minuman seperti itu.”
Nandhita terkejut ketika Untari mengatakan itu, akan tetapi ia tak boleh membiarkan kebohongannya terbongkar begitu saja oleh mamanya Hanif ini, maka Nandhita pun terus saja memaksa Untari memercayai apa
yang ia ceritakan.
“Sejujurnya Tante jadi curiga padamu, jangan-jangan memang kamu yang terobsesi pada Hanif sejak awal, ya?”
“Apa maksud Tante?”
“Nandhita, apakah dugaan Tante tadi benar? Kamu yang memang sudah sangat tergila-gila pada Hanif hingga rela melakukan apa pun?”
****
Boy terkejut ketika diminta oleh Ameena untuk jangan menemuinya lagi, tentu saja Boy tidak akan pergi karena sampai saat ini Ameena tidak mengatakan apa alasannya tidak boleh menemuinya lagi.
“Ameena, katakan padaku kenapa aku tidak boleh menemuimu lagi.”
“Karena kita bukan siapa-siapa, saya tidak mau ada fitnah yang tidak-tidak mengenai hubungan kita.”
“Tapi kita kan tidak melakukan apa pun, kita juga selalu menjaga jarak begini, tidak ada fitnah yang akan terjadi Ameena.”
__ADS_1
“Tidak Tuan, saya minta maaf akan tetapi tolong jangan temui saya lagi setelah ini.”
Namun Boy tidak mau mengikuti apa yang Ameena katakan barusan, ia memaksa Ameena untuk mengatakan yang sejujurnya padanya.
“Katakan padaku yang sejujurnya Ameena, pasti ada sesuatu hal yang coba kamu sembunyikan dariku kan?”
“Saya tidak menyembunyikan apa pun dari anda Tuan.”
“Apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan mamaku?”
“Tidak Tuan, tolong jangan berburuk sangka pada mama anda begini.”
“Kalau memang begitu, bisakah kamu mengatakan yang sejujurnya padaku, kenapa aku tidak boleh lagi menemuimu?”
“Maaf Tuan, saya masih ada hal lain yang perlu dikerjakan, saya permisi dulu.”
Ameena buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya supaya Boy tidak dapat menemuinya lagi dan membuka pintu. Ameena diam-diam merasa sedih dan bersalah dengan ucapan dan tindakannya pada Boy
barusan, akan tetapi ia melakukan semua ini demi kebaikan mereka berdua.
****
Boy tidak habis pikir dengan Ameena, ia yakin bahwa ada sesuatu hal yang Ameena tengah coba sembunyikan darinya dan tentu saja kecurigaan Boy tertuju pada Luluk, ia yakin bahwa Ameena bersikap seperti tadi
karena ada campur tangan Luluk. Boy segera menemui sang mama yang ada di apartemen dan Luluk nampak terkejut ketika menemukan Boy yang sudah kembali ke apartemen ini.
“Ma, jujurlah padaku.”
“Mengenai apa, Nak?”
“Apa yang sudah Mama katakan pada Ameena?”
“Apa maksudmu ini? Mama sama sekali tidak paham.”
“Sikap Ameena jadi berubah padaku, apakah semua ini ada kaitannya dengan Mama?”
“Apakah Ameena mengatakan itu padamu?”
“Tidak, dia tidak mengatakan apa pun padaku, dia cenderung menghindari pertanyaanku namun aku yakin ada sangkut pautnya hal ini dengan Mama.”
Luluk nampak menghela napasnya dan tersenyum pada Boy, ia meminta Boy untuk jangan terlalu awal dalam mengambil sebuah kesimpulan karena ia mengatakan bahwa dirinya saja tak tahu menahu dengan apa yang terjadi
pada Ameena.
“Jangan langsung mengambil sebuah kesimpulan tanpa kamu tahu buktinya, Nak.”
Boy menghela napasnya dan kemudian meninggalkan Luluk dengan masuk ke dalam kamarnya, Luluk sendiri nampak menggeram kesal, ia bersumpah akan membuat pelajaran pada Ameena.
__ADS_1
****
Untari menelpon putranya untuk datang ke rumah nanti selepas pulang bekerja, Hanif sendiri nampak heran ketika Untari menelponnya dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah karena sepertinya ada sesuatu hal yang
penting untuk mamanya bicarakan dengannya. Maka Hanif pun sekarang sudah ada di rumah keluarganya, ia penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh mamanya saat ini.
“Jadi kenapa Mama menyuruhku ke sini?”
“Nak, apakah semua itu benar?”
“Maksud Mama?”
“Nandhita memberikan foto-foto pada Mama bahwa kamu dan dia menghabiskan malam bersama.”
Hanif terperanjat dengan ucapan Untari barusan, Untari sendiri meminta Hanif untuk mengatakan yang sejujurnya padanya dan Hanif pun menceritakan kebusukan Nandhita pada sang mama, Hanif memohon supaya mamanya
memercayai apa yang ia katakan karena ia berani bersumpah untuk hal tersebut.
“Mama percaya padamu, Nak.”
“Terima kasih banyak karena Mama mau percaya padaku.”
“Bagaimana bisa kamu percaya dengannya, Untari?” tanya Karnadi yang keberatan dengan ucapan istrinya barusan.
“Aku mengenali anakku sendiri, Nandhita hanya berpura-pura supaya dapat membuat Hanif menikah dengannya, akan tetapi dia menggunakan cara kotor seperti itu untuk melakukannya.”
“Apa yang Mama katakan tadi benar, Pa. Nandhita sudah tidak waras, dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa pun yang ia inginkan.”
****
Luluk mendatangi rumah keluarga Ameena dan Ameena terkejut ketika mendapati Luluk di sana, wanita itu menatapnya tajam seolah ingin membunuhnya sekarang juga.
“Apa yang sudah kamu katakan pada anakku?”
“Saya tidak mengatakan apa pun, Nyonya.”
PLAK
Luluk menampar wajah Ameena dengan kencang hingga membuat Ameena terkejut karena tidak menyangka akan mendapatkan tamparan seperti ini dari Luluk.
“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan?”
“Saya berani bersumpah Nyonya, saya tidak mengatakan apa pun pada tuan Boy.”
Namun ucapan Ameena barusan malah makin membuat Luluk meledak, ia hendak menampar kembali Ameena namun sebelum ia melakukan itu, Ros sudah terlebih dahulu menahan tangan Luluk.
“Jangan berlaku kasar pada anakku.”
__ADS_1