
Hanif sudah lama sekali tidak berjumpa dengan Jose, terakhir kali ia berjumpa dengan pria ini adalah ketika ia menawarkan Jose sebuah kerja sama untuk membuat pernikahannya dengan Nandhita berakhir dan pria itu mau mengikuti apa yang ia inginkan. Selepas itu yang Hanif dengar adalah hubungan antara Nandhita dan Jose sudah tidak baik lagi namun justru yang ia lihat saat ini mereka berdua nampak begitu akur sekali tidak seperti apa yang ia dengar sebelumnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Hanif penasaran.
“Seperti yang sedang kamu lihat, aku sedang bertamu di rumah ini,” jawab Jose.
“Maksudku ada keperluan apa kamu sampai datang ke rumah Nandhita?”
“Memangnya aku tidak boleh berkunjung ke rumah Nandhita?”
“Sebenarnya apa hubunganmu saat ini dengan Nandhita?”
“Kami hanya teman saja, apakah ada yang salah dengan itu?”
Hanif nampak memicingkan matanya ketika mendengar jawaban Jose barusan, tentu saja ia tak memercayai begitu saja apa yang Jose katakan, Hanif mengatakan pada Jose untuk mengatakan yang sejujurnya mengenai apa hubungannya dengan Nandhita saat ini.
“Sudah aku katakan barusan bahwa kami hanya berteman saja, apakah kamu tidak memercayai hal itu?”
“Sejujurnya aku sulit untuk memercayai hal tersebut karena yang aku dengar hubungan kalian tidak baik-baik saja semenjak Nandhita tahu bahwa kamu selama ini tidak mencintainya.”
Jose nampak tersenyum tipis ketika mendengar ucapan Hanif barusan, Hanif pun nampak penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga Jose dan Nandhita bisa dekat lagi seperti ini namun sebelum rasa penasarannya hilang, Nandhita sudah datang dengan membawa Arsen bersamanya.
“Papa.”
“Kamu sudah siap untuk pulang kan? Ayo sekarang juga kita pulang.”
Arsen kemudian berpamitan pada Nandhita dan Jose, selepas berpamitan pada mereka berdua kini Hanif membawa anaknya itu untuk masuk ke dalam mobil, Nandhita mengantarkan mereka sampai depan dan ia melambaikan tangannya pada Arsen yang sudah masuk ke dalam mobil.
****
Sepanjang perjalanan pulang Hanif bertanya pada anaknya mengenai liburannya dengan Nandhita dan Arsen mengatakan bahwa ia bahagia dapat berlibur di rumah Nandhita, Hanif pun kemudian bertanya mengenai
Jose pada Arsen dan jawaban yang ia dapatkan dari Arsen sungguh sangat membuatnya terkejut.
“Om Jose sering datang ke rumah mama dan mengajakku bermain.”
“Benarkah? Jadi dia sering datang ke rumah mama begitu?”
“Iya Pa, dia orang yang baik sekali.”
__ADS_1
Hanif hanya menganggukan kepalanya mendengar cerita Arsen barusan, ia belum sempat mencari tahu kenapa Jose dan Nandhita dapat kembali dekat setelah apa yang terjadi di masa lalu mereka karena tadi sebelum Jose menjelaskan semuanya Nandhita sudah membawa Arsen padanya dan tentu saja mereka harus segera kembali ke kota karena besok Arsen sudah harus sekolah.
“Kita sudah sampai, Nak.”
Hanif dan Arsen kemudian turun dari dalam mobil dan Hanif baru mendapatkan kabar bahwa besok asisten rumah tangga yang biasa menjaga Arsen dan membersihkan rumah tidak dapat datang karena ada acara di kampungnya maka mau tidak mau Hanif mencari solusi atas masalah yang tengah ia hadapi ini.
“Apakah aku meminta bantuan Ameena saja, ya?”
Hanif nampak masih menimbang keputusannya barusan hingga akhirnya setelah dirasa sudah tidak memiliki opsi lain maka ia pun segera meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Ameena.
****
Ameena sendiri nampak terkejut ketika mendapati nomor mantan suaminya tertera di layar ponselnya, Ameena segera menjawab telepon dari Hanif tersebut dan Hanif sendiri tidak mau terlalu banyak basa-basi dengan Ameena, Hanif menjelaskan keperluannya kenapa menelpon Ameena saat ini dan kemudian Ameena paham apa yang diinginkan oleh Hanif.
“Mas Hanif tenang saja, besok aku akan menjemput Arsen dan kemudian membersihkan rumah serta menyiapkan makan malam untukmu.”
“Kamu tak perlu menyiapkan makan malam untukku, aku akan memesan makanan dari luar dan kamu juga tak perlu membersihkan rumah hanya saja tolong jaga Arsen selama aku pergi bekerja.”
“Iya Mas, aku mengerti.”
“Baiklah Ameena, aku dapat mengandalkanmu untuk hal ini, terima kasih banyak.”
“Tuan Boy?”
“Siapa barusan yang menelponmu?”
“Mas Hanif yang menelpon, saya permisi dulu.”
Namun sebelum Ameena dapat melarikan diri darinya, Boy tetap menghalangi jalan Ameena supaya Ameena tidak dapat pergi ke mana pun saat ini.
“Apa yang sedang Tuan Boy lakukan saat ini? Saya harus kembali bekerja.”
“Apakah aku mengatakan bahwa obrolan kita sudah selesai?”
“Tuan saya harus kembali bekerja sekarang.”
****
Boy mendapatkan telepon dari papanya awalnya Boy menolak panggilan dari papanya itu namun karena papanya menelponnya secara berulang kali maka Boy pun kemudian menjawab telepon dari papanya itu dengan malas.
__ADS_1
“Mau apa Papa menelponku saat ini?”
“Akhirnya kamu menjawab juga telepon Papa.”
“Aku tidak memiliki banyak waktu saat ini, apa yang ingin Papa katakan padaku?”
“Papa ingin bicara padamu besok, apakah kamu memiliki waktu?”
“Aku tidak memiliki waktu untuk bicara pada Papa.”
“Sayang sekali karena kamu tidak ada waktu untuk bicara denganku karena ada hal penting yang ingin sekali aku bicarakan denganmu, Boy.”
“Maaf namun aku besok benar-benar sibuk dan tidak memiliki waktu.”
“Baiklah kalau memang kamu tidak memiliki waktu padahal maksudku mengajakmu bertemu besok adalah untuk membicarakan soal pernikahanmu dengan Ameena.”
“Apa maksud Papa?”
“Bukankah kamu sangat ingin menikah dengan Ameena?”
“Iya, aku memang sangat ingin menikah dengan Ameena.”
“Kalau begitu besok mari kita bertemu dan bahas soal pernikahan itu.”
Akhirnya Boy pun setuju untuk bertemu dengan papanya besok, Boy sendiri sebenarnya heran kenapa papanya bisa tahu mengenai hal tersebut padahal ia belum memberitahu apa pun pada papanya namun ia tak mau terlalu memikirkan itu sekarang, lebih baik sekarang ia tidur saja karena hari sudah malam.
****
Arsen yang sudah diberitahu oleh Hanif bahwa nanti Ameena yang akan menjemputnya di sekolah sama sekali tidak terkejut ketika melihat Ameena yang datang menjemputnya saat ini. Ameena kemudian membawa Arsen ke
rumahnya karena memang kebetulan hari ini Ameena sedang libur bekerja di rumah Luluk jadi ia dapat membawa Arsen menuju rumahnya.
“Apakah kamu lapar Arsen? Tante sudah membuatkan makan siang untukmu di rumah.”
“Iya Tante, aku lapar sekali.”
Akhirnya Ameena dan Arsen tiba di rumah dan di rumah tentu saja sudah ada Alysa yang telah pulang sekolah duluan sebelum Arsen pulang, kedua anak itu langsung bermain sementara Ameena sibuk menyiapkan makanan untuk kedua anak itu di dapur, ketika tengah menyiapkan makanan di dapur terdengar ada suara pintu diketuk dari luar.
“Siapa gerangan yang datang, ya?”
__ADS_1