
Nandhita masih tak percaya dengan fakta bahwa Jose dan Hanif ternyata sudah saling kenal sejak lama maka untuk memuaskan rasa ingin tahunya, Nandhita pergi ke kantor Hanif untuk menemui suaminya namun ketika ia
tiba di sana, dirinya justru tidak mendapatkan izin untuk masuk ke dalam oleh satpam yang berjaga di depan pintu.
“Kamu tahu kan siapa saya? Kenapa tidak mengizinkan saya masuk ke dalam?”
“Maaf Nyonya, akan tetapi tuan yang memerintahkan saya supaya anda tidak boleh masuk ke dalam.”
Nandhita tentu saja terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh satpam tersebut, Nandhita kemudian mencoba menghubungi Hanif namun sayangnya Hanif tak mau menjawab telepon darinya.
“Dia itu benar-benar keterlaluan sekali, bagaimana bisa tidak mau menjawab telepon dariku?”
Nandhita tentu saja tidak berputus asa dalam mencoba menghubungi Hanif, ia terus mencoba hingga akhirnya Hanif mau menjawab telepon darinya.
“Kenapa menelponku terus?”
“Aku ada di bawah akan tetapi satpam tidak mengizinkanku untuk masuk ke dalam.”
“Tentu saja satpam tidak mengizinkanmu masuk ke dalam karena aku tidak memberikanmu izin masuk.”
“Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku Hanif? Aku ini istrimu, masa dengan istrimu sendiri kamu memerlakukanku begini?”
“Untuk saat ini memang kamu masih istriku namun tidak lama lagi kamu bukan istriku lagi.”
Nandhita tentu saja tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Hanif, Nandhita tentu saja protes dengan ucapan Hanif barusan namun Hanif tak mau mendengarkannya dan langsung mematikan sambungan
teleponnya.
“Apa-apaan dia itu? Bagaimana bisa dia menutup teleponnya begitu saja?”
Nandhita benar-benar kesal bukan main dengan sikap Hanif yang kurang ajar begini padanya, ia kemudian segera pergi dari kantor suaminya dengan perasaan yang bercampur aduk.
“Aku tidak boleh berpisah dengan Hanif, tidak boleh,” gumamnya.
Nandhita kemudian tahu bagaimana caranya supaya ia dan Hanif tidak berpisah, maka ia pun segera melajukan kendaraannya menuju sebuah tempat.
****
Untari mendapatkan telepon dari sopir yang biasa menjemput Arsen pulang sekolah katanya Arsen sudah pulang dijemput oleh Nandhita, tentu saja Untari yang mendapatkan kabar itu terkejut dan mencoba menghubungi Nandhita.
“Di mana kamu sekarang?”
“Tumben Mama menelponku.”
“Jawab saja pertanyaanku, kamu di mana sekarang?”
__ADS_1
“Aku tidak dapat mengatakan di mana aku sekarang.”
“Kembalikan cucuku, aku tidak mau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.”
“Mama ini bicara apa? Tentu saja tidak akan ada hal buruk yang menimpa Arsen, dia itu anakku, Ma. Aku tidak mungkin melakukan hal yang buruk padanya.”
“Aku sama sekali tidak percaya dengan ucapanmu Nandhita, katakan di mana sekarang kamu berada supaya sopirku bisa menjemput Arsen.”
“Aku sudah mengatakannya pada Mama bahwa aku tidak dapat memberitahunya.”
Setelah itu Nandhita menutup sambungan teleponnya secara sepihak yang tentu saja membuat Untari kesal bukan main dengan tindakan menantunya yang kurang ajar itu.
“Ya ampun dia ini kurang ajar sekali, aku belum selesai bicara namun dia sudah mematikan sambungan teleponnya?”
Untari tentu saja tidak tinggal diam, ia menelpon Hanif dan menceritakan semua yang dilakukan oleh Nandhita barusan. Hanif mengatakan pada Untari bahwa sesegera mungkin ia akan mencari di mana Arsen dan membawa
anaknya itu pulang.
“Baiklah Nak, Mama percaya padamu, Mama hanya takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.”
****
Boy mendekati Ameena yang tengah membersihkan halaman belakang rumah dan tentu saja Ameena terkejut bukan main dengan kedatangan Boy yang tidak terduga ini.
“Ameena, aku minta maaf atas apa yang sudah aku katakan padamu.”
“Tuan tak perlu membahas soal itu.”
“Sejujurnya aku benar-benar kesal pada Richi karena dia berhasil menipuku dengan tipuan murahannya itu dan pada akhirnya hubungan kita berakhir.”
Ameena tak menanggapi ucapan Boy barusan dan wanita itu malah berusaha menghindari Boy namun Boy menghalangi Ameena supaya jangan pergi dulu.
“Tuan, saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Ameena, apakah setelah kamu bercerai dengan Richi maka kamu dapat memberikanku kesempatan lagi?”
“Tuan, saya tidak mau membahas hal itu.”
“Kenapa? Berikan aku alasannya.”
“Saya tidak dapat mengatakan alasannya, tolong Tuan Boy mengerti akan hal ini.”
Boy menghela napasnya berat, lagi-lagi Ameena masih bersikap seperti ini padanya dan tentu saja tidak ada hal yang dapat ia lakukan, ia tidak mau memaksa Ameena untuk menjawab pertanyaannya karena sepertinya
Ameena tidak nyaman dengan hal tersebut.
__ADS_1
“Aku minta maaf, Ameena.”
“Tidak perlu meminta maaf Tuan dan juga ada sesuatu yang ingin saya katakan pada Tuan bahwa mulai besok saya tidak akan lagi tinggal di sini.”
“Apa maksudmu Ameena?”
****
Ameena mengatakan bahwa ia sudah menyewa sebuah rumah untuk menjadi tempat tinggalnya dan Alysa untuk sementara waktu, keputusan sepihak Ameena itu tentu saja mendapatkan pertentangan oleh Boy, pria itu merasa bahwa Ameena telah mengambil sebuah keputusan tanpa persetujuan darinya.
“Saat ini kita tidak memiliki hubungan apa pun kan Tuan? Untuk apa saya harus melaporkan semuanya pada Tuan?”
“Tapi Ameena… aku adalah ayah kandung dari Alysa, setidaknya kamu kan bisa membicarakan hal ini denganku.”
“Iya Tuan, saya tahu akan hal tersebut akan tetapi kalau saya membicarakan masalah ini dengan Tuan maka saya yakin bahwa Tuan akan menolak ide saya ini.”
Boy menghela napasnya berat karena memang apa yang Ameena katakan itu bisa dikatakan benar dan sepertinya oleh sebab itulah Ameena tidak memulai pembicaraan mengenai ia yang telah menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggalnya dan Alysa.
“Berapa biaya sewa perbulannya?” tanya Boy.
“Tuan tidak perlu tahu soal itu,” jawab Ameena tegas.
“Tentu saja aku harus tahu, aku ingin membayar biaya sewa rumah itu karena aku adalah ayahnya Alysa,” ujar Boy.
Setiap kali Boy mengatakan bahwa dia adalah ayah kandung Alysa membuat dada Ameena begitu sesak, ia sampai detik ini masih tak menyangka bahwa Boy tega melakukan hal buruk padanya hingga akhirnya Alysa lahir ke dunia
ini.
****
Akhirnya posisi Nandhita ditemukan juga oleh Hanif, sepulang bekerja Hanif langsung pergi menuju lokasi di mana Nandhita dan Arsen berada, di sana Hanif langsung mengajak Arsen untuk pulang ke rumah. Nandhita sendiri tidak berusaha menghalangi Hanif ketika hendak membawa Arsen pergi dan ketika mereka dalam perjalanan pulang Hanif mencoba membuka pembicaraan dengan anaknya itu.
“Apakah tadi menyenangkan menghabiskan waktu dengan mama?”
Arsen tidak menjawab pertanyaan dari Hanif namun kalau Hanif perhatikan dari raut wajahnya sepertinya Arsen tidak menyukainya.
“Kenapa tidak menjawab pertanyaan Papa?”
“Tadi mama membujukku supaya Papa tidak berpisah dengan mama.”
“Oh benarkah? Lalu apakah kamu menyetujui itu?”
“Aku tidak menjawabnya karena aku tidak mengerti apa yang mama bicarakan, apakah Papa dan Mama akan
berpisah?”
__ADS_1