Cinta Ameena

Cinta Ameena
Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Hanif nampak tengah bicara dengan kedua orang tuanya mengenai Ameena, saat ini kedua orang tuanya nampak memerhatikan kalau antara Hanif dan Ameena sedang ada masalah namun Hanif menampik hal tersebut dan ia


lebih memilih untuk menghindari pertanyaan tersebut. Hanif kembali ke kamar dan menemukan Ameena tengah meringkuk kedinginan namun ia sama sekali tidak bertanya apa yang terjadi pada Ameena dan ia malah membuka jaket yang ia kenakan dan menyalakan pemanas ruangan yang ada di ruangan ini. Ameena baru tahu kalau ternyata ada pemanas ruangan di kamar ini dan ia kemudian mengatakan pada Hanif bahwa ia harus membeli beberapa jaket yang tebal karena jaket yang ia miliki tidaklah cukup untuk membuat tubuhnya hangat menjelang musim dingin ini.


“Tentu saja jaket tipis seperti itu tidak akan bisa menghalau rasa dingin yang bahkan akan jauh lebih parah bulan depan karena musim dingin sudah di depan mata.”


“Apakah Mas Hanif memiliki jaket tebal lain?”


Hanif nampak membuka lemari pakaiannya dan kemudian memberikan sebuah jaket tebal untuk Ameena, Hanif mengatakan bahwa jaket itu harus Ameena jaga karena jaket itu adalah jaket yang berharga untuknya.


“Awas saja kalau kamu menghilangkan atau merobek jaket itu.”


“Iya Mas.”


Setelah itu Hanif kemudian sibuk dengan ponselnya dan Ameena seperti hendak mengatakan sesuatu namun ia ragu untuk mengatakannya pada Hanif. Hanif sendiri mengetahui bahwa sebenarnya Ameena hendak mengatakan


sesuatu padanya namun ia sengaja mendiamkan Ameena karena malas berbicara dengan wanita ini.


“Mas Hanif.”


“Ada apa lagi?”


“Anu… aku belum memiliki kartu SIM di sini, bagaimana aku bisa menelpon atau mengakses internet kalau belum memiliki kartu SIM?”


“Kenapa kamu tidak membelinya di bandara tadi?!”


“Aku takut kalau Mas Hanif sudah menungguku maka dari itu aku jadi tidak sempat melakukannya.”


****


Boy menjalani hari-harinya di kantor dengan tidak bersemangat, ia nampak asal-asalan mengerjakan pekerjaannya dan hal tersebut membuat Pamungkas geram, ia memanggil Boy masuk ke dalam ruangan kerjanya. Boy nampak malas ketika dipanggil oleh Pamungkas ke ruangan kerjanya karena ia tahu bahwa papanya itu pasti akan memarahinya sekarang.


“Ada apa anda memanggilku ke sini?”


“Apakah kamu benar-benar tidak tahu alasan kenapa aku memanggilmu ke sini?”


“Tidak, saya tidak tahu apa yang membuat Tuan memanggil saya ke sini.”


Pamungkas nampak menghela napasnya panjang, ia kemudian menghampiri Boy yang berdiri agak jauh dari meja kerjanya.

__ADS_1


“Bisakah kamu serius dalam bekerja? Papa tengah mempersiapkanmu menjadi Presiden Direktur perusahaan ini, kelak perusahaan ini akan ada di bawah kendalimu!”


“Aku sama sekali tidak tertarik meneruskan bisnis perusahaan ini, bukankah Papa sudah pernah mendengarnya sebelumnya?”


“Jangan membantah apa yang aku katakan, Boy!”


“Pa, bisakah Papa menghargai keputusan yang aku buat? Aku bahagia menjadi seorang musisi.”


“Omong kosong aku akan menghargai keputusan yang kamu buat, Boy. Kamu tahu seharusnya kamu bersyukur lahir di keluarga kaya raya seperti yang tengah kamu nikmati saat ini karena di luar sana banyak orang miskin yang bermimpi menjadi seperti dirimu, menjadi pimpinan perusahaan dan memiliki keluarga kaya raya yang tidak perlu memikirkan bagaimana cara mereka makan hari ini.”


“Namun kalau aku tidak bahagia lahir dari keluarga kaya raya bagaimana?”


“Boy!”


“Sejak kecil Papa selalu saja memaksaku untuk mengikuti semua yang Papa perintahkan, aku ini manusia Pa, bukannya robot!”


****


Boy memutuskan untuk pulang ke rumah dan ia langsung mengemasi semua barang-barangnya, Luluk yang tengah berada di rumah nampak terkejut ketika melihat putranya itu langsung mengemasi barang-barangnya masuk


ke dalam koper, Luluk pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi saat ini namun Boy sama sekali tidak mau mengatakannya pada Luluk.


“Nak, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Apa maksudmu Papa mengusirmu? Dia tidak akan pernah mengusirmu karena kamu adalah anak kami.”


“Namun kenyataannya begitu, baru saja dia mengusirku dari rumah ini karena aku harus mengikuti apa yang dia perintahkan.”


Luluk kini tahu apa yang membuat suaminya murka seperti itu, Luluk mencoba memberikan pengertian pada Boy namun Boy tetap saja berpegang pada pendiriannya, ia tak akan sudi menginjakan kakinya di rumah ini


lagi dan memilih untuk meninggalkan keluarganya.


“Tolong jangan lakukan ini, Nak. Sudah cukup Mama kehilangan Salsabila dan Mama tak mau kehilanganmu.”


“Bukan aku yang menginginkan semua ini Ma, akan tetapi Papa yang menginginkan semua ini.”


“Nak ….”


“Maafkan aku Ma, tolong jangan cari aku lagi.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Boy langsung pergi dari rumah, Luluk berusaha untuk mengejar Boy namun Boy sama sekali tidak berpaling ke arahnya dan terus saja menarik kopernya keluar dari rumah ini tanpa membawa


mobilnya.


****


Nandhita baru saja tiba di rumah dan ia nampak bingung ketika melihat Luluk tengah bersedih di ruang tengah, Nandhita pergi menemui Luluk dan bertanya apa yang terjadi pada Luluk. Maka tantenya itu pun kemudian


bercerita pada Nandhita mengenai apa yang baru saja terjadi di rumah itu, Nandhita sendiri nampak terkejut saat tahu Boy sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini karena perseteruannya dengan Pamungkas.


“Tante sudah cukup sakit kehilangan Salsabila namun sekarang Tante tidak sanggup lagi kalau harus kehilangan Boy.”


“Apakah Tante sudah mencoba bicara dengan om?”


“Belum.”


“Kalau begitu coba saja nanti Tante bicara dengan om, siapa tahu om akan berubah pikiran dan Boy dapat kembali ke rumah ini kan?”


“Semoga saja begitu, tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat om Pamungkas, dia sulit sekali diajak negosiasi.”


“Semoga saja kali ini om Pamungkas bisa diajak untuk berkomunikasi hingga Boy bisa kembai ke rumah ini.”


“Iya Nandhita, terima kasih banyak, ya.”


“Iya Tante.”


Maka kemudian ketika suaminya pulang ke rumah Luluk langsung mengajak sang suami untuk bicara empat mata di dalam kamar, Nandhita yang memerhatikan itu dari balik dinding nampak penasaran dengan apa saja yang


akan dibicarakan oleh keduanya.


****


Ameena untuk pertama kalinya makan malam dengan keluarga Hanif, keluarga Hanif nampak menyambutnya dengan ramah berbeda dengan Hanif yang bersikap dingin padanya. Selepas makan malam nampak Ameena diajak bicara dengan mamanya Hanif dan tentu saja Ameena tak dapat menolak ajakan tersebut dan kini mereka bicara di ruang tengah yang mana di sana mereka duduk di dekat perapian untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat.


“Jadi Ameena bagaimana menurutmu Hanif?”


“Iya?”


“Kamu dengar kan pertanyaanku dengan baik barusan?”

__ADS_1


“Iya, aku mendengarnya.”


“Tidak apa katakan saja yang sejujurnya padaku, aku ingin mendengar secara jujur Hanif di matamu seperti apa.”


__ADS_2