Cinta Ameena

Cinta Ameena
Rasa Benci yang Mulai Ada


__ADS_3

Richi nampak begitu tenang ketika disudutkan oleh Boy sedemikian rupa karena memang Boy sepertinya sangat membencinya apalagi karena Richi sudah berhasil kembali mendapatkan Ameena kemudian mencuci otak wanita


itu untuk membencinya, tentu saja Boy tidak akan tinggal diam dengan semua ini dan Boy bersumpah akan melakukan pembalasan terhadap Richi atas apa yang sudah pria ini lakukan.


“Silakan saja kamu lakukan apa pun yang kamu inginkan, aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu asal kamu tahu saja, soal Ameena apakah kamu yakin selepas ini Ameena akan kembali baik padamu setelah ia tahu


yang kamu lakukan padaku?” seringai Richi.


Boy makin meradang dengan apa yang Richi katakan barusan, akan tetapi Boy mengatakan pada Richi bahwa pria itu akan membayar semua yang telah ia lakukan di tempat ini.


“Tunggu dan lihat saja bagaimana pembalasanku!”


Selepas mengatakan itu, Boy langsung pergi meninggalkan penjara dengan raut wajah yang kesal bukan main. Bahkan sampai di rumah pun ia masih merasa kesal akibat obrolan singkatnya dengan Richi di penjara.


“Apa yang terjadi padamu, Nak?” tanya Luluk ketika Boy tiba di rumah dengan raut wajah yang begitu marah.


“Barusan aku pergi menemui Richi di penjara dan pria itu membuat emosiku mendidih,” ujar Boy.


Boy pun menceritakan apa yang sudah Richi katakan padanya hingga ia marah sampai begini, Luluk hanya mendengarkan apa yang Boy katakan tanpa berniat memotong cerita Boy hingga anaknya merasa lebih baik


walaupun dirinya sendiri harus menahan kekesalan karena Boy rupanya masih saja mengharapkan Ameena kembali baik padanya.


“Aku mau pergi ke kamarku dulu.”


“Baiklah.”


Boy pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mandi, saat ia sedang di dalam kamar mandi itulah ponselnya berdering namun karena Boy sedang mandi di dalam kamar mandi tentu


saja ia tidak dapat mendengar suara ponselnya yang berdering dengan keras di luar sana, barulah selepas ia mandi ia melihat ada notifikasi di ponselnya yang memperlihatkan bahwa barusan ada seseorang yang menghubunginya.


****


Cassandra tentu saja tidak akan patah semangat untuk memperjuangkan Boy untuk menjadi miliknya, ia sudah mendengar bahwa hubungan Ameena dan Boy sedang memburuk dan ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia


lewatkan begitu saja setelah penantian yang panjang. Cassandra kemudian pergi ke tempat di mana Boy biasa bernyanyi, ia menunggu sampai Boy selesai dan setelah pria itu turun dari panggung, buru-buru Cassandra pergi ke belakang untuk menemui Boy.

__ADS_1


“Hai Boy.”


Boy nampak menghela napasnya panjang setelah melihat keberadaan Cassandra, ia hendak pergi meninggalkan wanita itu namun sayangnya Cassandra sudah berhasil menahan tangannya supaya Boy jangan pergi dulu.


“Mau pergi ke mana kamu, Boy? Aku saja belum selesai bicara.”


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan saat ini, jadi tolong lepaskan aku.”


“Tentu saja ada yang perlu kita bicarakan saat ini, kamu jangan pergi dulu.”


Akan tetapi Boy bersikukuh dengan mengatakan tidak ada hal yang perlu mereka bicarakan saat ini dan kemudian ia tetap melepaskan cengkraman tangan Cassandra walaupun wanita itu menolaknya.


“Boy, kita benar-benar perlu bicara saat ini.”


Akan tetapi sayangnya Boy sama sekali tidak mau menggubris apa yang Cassandra katakan dan kemudian pergi meninggalkan wanita itu walaupun Cassandra telah memanggil namanya berulang kali.


****


Semenjak kejadian di toko bunga itu, hubungan Nandhita dan Jose kembali membaik bahkan mereka kembali akrab seperti dulu lagi. Jose sering mengirim pesan pada Nandhita hanya sekedar menanyakan kabar wanita itu


“Kenapa dia selalu mengirimkan pesan begini, sih?”


Nandhita hari ini mendapatkan kesempatan untuk pulang ke kota di mana tempat Luluk tinggal karena sudah lama sekali ia tidak mampir ke kota ini, ketika ia datang ke rumah nampak Luluk mempersilakannya untuk masuk.


“Sudah lama sekali kita tidak berjumpa sayang, bagaimana kabarmu?”


“Baik Tante, bagaimana dengan Tante sendiri?”


“Beginilah Tante, seperti yang kamu lihat.”


“Oh iya, di mana Boy dan Ameena?”


“Boy sedang pergi bernyanyi di café sementara a Ameena sudah tidak bekerja di sini lagi.”


“Ameena tidak bekerja di sini lagi? Kenapa memangnya, Tante?”

__ADS_1


“Begitulah, ia sepertinya sudah termakan bujuk rayu suaminya.”


****


Ameena pergi mengunjungi Richi di penjara dan saat itu tentu saja tidak disia-siakan oleh Richi untuk mengadukan semua yang diucapkan Boy padanya waktu itu, Ameena yang mendengarnya tentu saja sedih sekaligus merasa kesal pada Boy yang ingin bersikap sewenang-wenang pada Richi mentang-mentang Boy bisa mendapatkan apa pun. Richi sendiri berusaha untuk menenangkan Ameena walaupun tentu saja di dalam hatinya ia bersorak-sorai karena rencananya untuk menghancurkan hubungan baik antara Ameena dan Boy dapat berjalan sesuai dengan


rencananya walaupun ia harus mendekam di balik jeruji besi.


“Satu pesanku padamu Ameena, tolong kamu jangan pernah sekalipun kembali bekerja di rumah keluarga Boy, kamu mengerti kan apa yang aku bicarakan barusan?”


“Iya Richi, aku mengerti, aku tidak akan pernah kembali bekerja di rumah itu lagi.”


Richi yang mendengar ucapan Ameena barusan tersebut tentu saja tersenyum lega karena akhirnya Ameena mau mendengarkan apa yang ia katakan, tidak lama setelahnya waktu kunjung sudah habis dan polisi meminta Ameena untuk pergi dari sini sekarang juga.


“Maaf Richi, waktu kunjung sudah habis saat ini.”


“Tidak apa Ameena, sampai jumpa lagi.”


Ameena pun dengan berat hati beranjak dari tempat itu padahal ia masih ingin berlama-lama di sana akan tetapi peraturan tentu saja sudah dibuat dan ia tidak dapat melanggarnya.


****


Ketika tiba di rumah, Ameena menemukan Boy yang sedang berbicara dengan Alysa, mereka berdua nampak begitu bahagia sekali dan ketika Ameena datang, Alysa langsung menghampiri Ameena.


“Ibu, papa bilang ingin mengajakku pergi ke taman bermain besok, boleh kan aku pergi dengan papa?”


Ameena sontak saja melihat ke arah Boy sebelum akhirnya ia meminta Alysa untuk masuk terlebih dahulu karena ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan dengan Boy, Alysa pun dengan patuh mengikuti apa yang menjadi permintaan ibunya barusan.


“Kenapa Tuan ke sini?”


“Kamu sudah dengar kan apa yang Alysa katakan barusan? Aku datang ke sini untuk mengajaknya pergi ke taman bermain.”


“Aku tidak mengizinkannya pergi dengan Tuan.”


“Ameena!"

__ADS_1


__ADS_2