
Boy sama sekali tidak menampik apa yang dikatakan oleh Richi karena memang ia menyukai Ameena dan mereka akan bersaing untuk mendapatkan wanita itu akan tetapi Boy memberikan saran untuk Richi supaya pria
ini mundur saja karena Richi tidak akan pernah dapat bersaing dengannya mendapatkan Ameena seperti apa yang diinginkan oleh pria itu. Ucapan Boy yang lebih seperti sebuah penghinaan barusan tentu saja membuat Richi geram, ia meminta supaya Boy jangan sesumbar dulu karena belum tentu Ameena menyukainya.
“Memang Ameena belum tentu menyukaiku, akan tetapi hubunganku dengan dia sampai saat ini masih baik-baik saja kan? Sementara hubunganmu dengan Ameena kalau aku perhatikan jauh dari kata baik.”
Ucapan Boy barusan membuat Richi bertambah kesal dengan pria ini, Richi memutuskan untuk segera pergi dari restoran ini meninggalkan Boy. Selepas kepergian Richi, Boy pun pergi meninggalkan restoran itu setelah ia membayar pesanannya dan Richi di kasi. Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen nampak Boy mencari cara supaya dapat mendekati Ameena dan membuat wanita itu menjadi miliknya.
“Aku harus memaksimalkan keadaan ini, jangan sampai hubungan Ameena dan pria itu membaik dan kemudian aku malah tidak mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya.”
Akhirnya Boy tiba juga di apartemen tempatnya dan Luluk tinggal untuk sementara waktu, ketika ia tiba di apartemen itu nampak Luluk tengah bertelepon dengan seseorang namun ketika mengetahui bahwa Boy tiba di
apartemen ini maka Luluk buru-buru menutup teleponnya dan sikap Luluk tersebut tentu saja mengundang rasa curiga dari Boy.
“Kok Mama menutup sambungan teleponnya?”
“Karena Mama sudah selesai bertelepon, kamu sudah menemui Ameena?”
“Iya, aku sudah menemuinya.”
“Syukurlah kalau begitu, kamu tidak akan pergi lagi kan, Nak?”
Namun Boy tidak menjawab pertanyaan dari Luluk barusan, ia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan Luluk pun menghela napasnya lega setelah melihat Boy masuk ke dalam kamar.
“Untungnya saja dia tidak bertanya lebih lanjut mengenai hal tersebut.”
****
Keesokan harinya Ameena mendapati Luluk berdiri di depan rumah, ia terkejut bukan main saat membuka pintu rumah mendapati wanita itu di sana, Luluk nampak menatapnya tajam dan hal tersebut membuat Ameena menjadi tidak nyaman.
“Saya ingin bicara dengan kamu.”
“Sekarang, Nyonya?”
“Tentu saja, memangnya kapan lagi?!” bentak Luluk.
Ameena menundukan kepalanya, ia pun pasrah saja ketika Luluk menariknya masuk ke dalam mobil dan wanita itu membawanya ke sebuah jalan yang agak sepi untuk mereka berdua bicara.
“Baiklah, saya tidak ingin berbasa-basi denganmu, kamu pasti tengah bahagia sekarang kan?”
__ADS_1
“Maaf?”
“Sudahlah Ameena, kamu sudah berhasil memengaruhi anakku dan pasti sekarang di dalam kepalamu sedang tersusun rencana jahat untuk membuat anakku itu menikahimu kan?”
“Nyonya, saya tidak memiliki pikiran seperti itu.”
“Kamu boleh saja terus menyangkalnya Ameena, akan tetapi saya tahu apa yang ada di dalam kepalamu itu!”
“Nyonya saya ….”
“Kamu mungkin bisa senang saat ini Ameena karena Boy begitu tergila-gila padamu hingga dia mau untuk saya ajak kembali ke kota ini karena dirimu akan tetapi jangan harap kalau saya akan dengan mudah menerima kamu sebagai pasangan Boy!”
Ameena hanya menundukan kepalanya dan Luluk pun menyuruh Ameena untuk segera turun dari dalam mobilnya, tanpa membuang waktu Ameena langsung turun dari mobil Luluk dan selepas Ameena turun wanita itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan Ameena yang masih terdiam ditepi jalan.
****
Nandhita mengganggu Hanif dengan menelpon pria itu terus menerus ketika sedang bekerja, karena dirasa mengganggu maka Hanif pun menutup sambungan teleponnya dengan Nandhita. Tentu saja sikap Hanif itu
membuat Nandhita kesal dan ia segera mendatangi apartemen Hanif agar dapat bicara empat mata dengan pria itu, Hanif yang baru saja pulang bekerja nampak terkejut ketika mendapati Nandhita berdiri di depan pintu apartemennya.
“Mau apa lagi kamu datang ke sini?”
“Sudah tidak ada hal yang perlu kita bicarakan.”
“Oh benarkah? Aku rasa masih banyak hal yang perlu kita bicarakan, Hanif.”
“Nandhita, aku lelah karena baru pulang bekerja, bisakah kamu jangan menggangguku?!”
Namun Nandhita sama sekali tidak menggubris ucapan Hanif barusan, justru wanita itu sengaja mendekatkan tubuhnya pada Hanif dan hendak menarik wajah pria itu namun Hanif segera menepis tangan Nandhita dan mendorong tubuh wanita itu supaya jangan mendekatinya.
“Kamu ini kenapa, Hanif?”
“Kamu yang kenapa?! Kenapa kamu bersikap seperti ini, Nandhita?!”
Nandhita nampak menyeringai dan kemudian ia mengatakan betapa ia sangat tergila-gila pada Hanif dan berharap kalau Hanif bisa menikah dengannya tentu saja Hanif makin muak dengan apa yang Nandhita katakan ini dan
meminta Nandhita untuk jangan terlalu berharap kalau ia mau menikahinya.
“Oh benarkah? Lantas bagaimana kalau sampai mamamu tahu apa yang terjadi malam itu?”
__ADS_1
****
Ameena kembali ke rumah selepas dibawa paksa oleh Luluk tadi, ketika tiba di rumah nampak sang ibu sudah menunggunya dengan gelisah dan langsung menanyakan dari mana saja Ameena dan Ameena menjawab bahwa
ia baru saja keluar sebentar.
“Ke mana, Nak?”
“Ibu tak perlu tahu aku ke mana, yang jelas saat ini aku sudah baik-baik saja kan?”
Ros langsung memeluk tubuh putrinya, ia takut sekali kalau Ameena kenapa-kenapa tadi namun untungnya saja saat ini Ameena dalam keadaan baik-baik saja, ia pun kemudian menyuruh Ameena untuk masuk ke dalam namun
sebelum itu Richi muncul di rumah Ameena dan menyapa mereka.
“Mau apa kamu ke sini?” tanya Ros.
“Saya ke sini untuk bicara dengan Ameena sebentar, Bu,” jawab Richi.
“Saya tidak mengizinkan kamu bicara dengan putri saya.”
“Hanya sebentar saja.”
“Richi, tidak ada hal lain yang perlu kita bicarakan saat ini,” ujar Ameena.
“Tolong Ameena, ini hanya sebentar saja.”
Namun Ameena sama sekali tidak mau bicara dengan Richi dan ia memilih untuk masuk ke dalam rumah, Richi tentu saja berusaha untuk mengejar Ameena namun Ros menghalanginya.
“Kamu sudah dengar apa yang Ameena katakan kan? Jadi bukankah lebih baik kamu pergi sekarang juga karena dia tidak mau menemuimu?”
****
Nandhita nampak geram dengan penolakan yang Hanif lakukan padanya dan tentu saja ia tidak akan main-main dengan ucapannya pada pria itu bahwa ia akan mendatangi mamanya dan menceritakan semua yang terjadi
pada malam itu. Nandhita menelpon Untari dan mengatakan ingin bertemu dengan mamanya Hanif itu sekarang juga di sebuah restoran dan Untari pun menyetujuinya. Nandhita sudah duduk menunggu sampai Untari tiba dan tidak lama kemudian wanita itu tiba juga di restoran tersebut, Untari langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Nandhita saat ini.
“Terima kasih Tante sudah mau datang menemuiku.”
“Sebenarnya apa yang hendak kamu bicarakan denganku, Nandhita?”
__ADS_1