
Ameena masih memerhatikan Richi yang bertahan di bawah guyuran air hujan, ia tentu saja merasa tidak tega melihat pria itu msih bertahan di sana dan menyiksa dirinya sendiri akan tetapi Ameena merasa dilema kalau ia keluar dan memintanya pulang maka Richi pasti tidak akan mau dan akan menarik simpatinya lebih dalam lagi namun kalau ia membiarkan Richi di bawah guyuran air hujan seperti itu maka bukan tidak mungkin pria itu akan jatuh sakit.
“Kamu sedang melihat apa Ameena?” tanya Luluk yang membuat Ameena terkejut.
“Itu Nyonya, dia masih bertahan di sana,” jawab Ameena.
Luluk mengarahkan pandangannya ke arah di mana Ameena sejak tadi memerhatikan sesuatu dan ia menemukan sosok Richi yang hujan-hujanan di depan pagar, Luluk menanyakan apakah Ameena mau membawa pria itu masuk ke dalam atau tidak.
“Anu… saya bingung Nyonya.”
“Aku sudah menyuruhnya untuk pulang namun sepertinya dia itu keras kepala sekali.”
Ameena terdiam mendengar ucapan Luluk barusan, ia tidak dapat memungkiri kalau ia merasa iba pada Richi namun di sisi lain ia tak mau bertemu lagi dengan pria itu hingga akhirnya Luluk mengatakan pada Ameena
kalau ia sama sekali tidak keberatan kalau Richi dibawa masuk ke dalam rumah ini apalagi hujan semakin lebat diluar sana.
“Nyonya?”
“Bawalah dia masuk, aku akan menyiapkan handuk dan pakaian ganti untuknya.”
“Baik Nyonya.”
Maka Ameena pun menuruti apa yang Luluk katakan barusan, bergegas ia keluar dari rumah dengan membawakan payung untuk Richi, ketika Ameena keluar pagar rumah nampak Richi bahagia sekali namun Ameena langsung menyodorkan payung untuknya.
“Nyonya yang memintamu masuk ke dalam sekarang,” ujar Ameena yang tidak mau menatap Richi ketika memberikan payung tersebut pada pria ini.”
“Terima kasih Ameena.”
Ameena tak menanggapi ucapan Richi dan segera memimpin jalan di depan supaya mereka bisa segera masuk ke dalam rumah dan di sana nampak Luluk sudah menanti mereka, Luluk meminta supaya Richi masuk ke dalam
sebuah kamar dan mengganti pakaiannya di kamar itu.
****
Richi sudah selesai mengeringkan tubuh dan berganti pakaian, ia duduk di sofa ruang tamu dan di sana sudah ada Luluk dan Ameena yang menantinya. Richi berterima kasih atas kebaikan hati Luluk yang mempersilakannya untuk masuk ke dalam.
“Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu tahu kan bisa sakit kalau hujan-hujanan seperti tadi?”
“Saya melakukan itu untuk bertemu dengan Ameena.”
“Tapi bukankah Ameena sudah mengatakan tidak mau bertemu denganmu?”
__ADS_1
“Saya tidak peduli akan hal itu, yang jelas usaha saya berhasil.”
Ameena nampak memalingkan wajah dari Richi, sementara itu tidak lama kemudian nampak pintu depan terbuka dan munculah sosok Boy yang terkejut menemukan Richi di rumah ini.
“Mama, kenapa pria ini ada di sini?” tanya Boy yang nampak tak suka ketika Richi ada di sini.
“Nanti Mama akan ceritakan, kamu lebih baik ganti pakaianmu sekarang juga,” ujar Luluk.
Boy kemudian menuruti apa yang diperintahkan oleh mamanya sementara itu Ameena nampak tidak nyaman dengan posisi seperti ini dan setelah mengganti pakaiannya kini Boy bergabung dengan mereka dan menanyakan
apa maksud serta tujuan Richi datang ke rumah ini.
“Aku datang ke sini untuk menemui Ameena.”
“Apa katamu? Bukankah Ameena sudah berulang kali mengatakan tidak mau bertemu denganmu? Kenapa kamu keras kepala sekali?!”
****
Richi mengatakan bahwa ia tidak peduli akan ucapan Boy barusan, ia mengatakan pada Boy bahwa Ameena peduli padanya oleh sebab itu ia mempersilakannya masuk, sontak saja Boy menatap Ameena tak percaya dan meminta
Ameena untuk menjelaskannya sekarang juga padanya.
“Tidak, tentu saja bukan seperti itu,” ujar Ameena.
“Kenapa Mama melakukan itu?”
“Karena diluar tadi hujannya deras sekali, kalau Mama biarkan nanti dia sakit.”
“Seharusnya Mama membiarkan saja dia kedinginan diluar, sekarang dia jadi berhasil bertemu dengan Ameena kan?”
Boy nampak kesal sekali karena Richi bisa berhasil menemui Ameena namun di sisi lain justru Richi girang bukan main karena rencananya berhasil akan tetapi sayangnya waktu berkunjungnya sudah tidak lama lagi dan ia diminta untuk segera pulang oleh Luluk.
“Tolong kamu pulang sekarang juga, hujan sudah reda,” ujar Luluk.
“Kamu dengar apa yang Mamaku katakan barusan kan? Lebih baik sekarang juga kamu pulang,” usir Boy.
“Baiklah saya akan pulang akan tetapi lain kali saya akan datang untuk menemui Ameena lagi, saya berterima kasih pada kalian semua yang sudah menjamu saya dengan baik,” ujar Richi sopan yang membuat Boy naik pitam namun ia tahan.
****
Selepas Richi pulang nampak Boy uring-uringan dan menyalahkan mamanya karena membiarkan Richi menemui Ameena, lagi-lagi Luluk mengatakan ia melakukan semua itu karena khawatir kalau Richi mengalami sakit.
__ADS_1
“Mama tahu siapa dia kan?”
“Iya Mama tahu, dia masa lalu Ameena, lantas kenapa?”
“Kenapa? Kalau Ameena dan dia kembali bertemu maka bisa saja kan rasa cinta itu akan kembali muncul?”
“Kamu cemburu pada pria itu?”
“Mama sudah mengetahui jawabannya, kenapa masih menanyakan hal seperti itu padaku?”
Luluk nampak menyeringai mendengar jawaban yang diberikan oleh Boy barusan, ia kemudian memberikan saran pada Boy untuk segera melamar Ameena kalau memang Boy tidka mau kehilangan wanita yang ia cintai itu.
“Tapi Ma, apakah Ameena akan menerima lamaranku mengingat dia belum lama bercerai dari mas Hanif dan dia juga tidak mencintaiku?”
“Kalau kamu tidak mencobanya maka kamu tidak akan tahu, kalau kamu terus menerus ragu maka bukan tidak mungkin Richi duluan yang akan mendapatkan Ameena.”
Mendengar ucapan mamanya barusan membuat Boy berpikir bahwa benar juga kalau ia menunda waktu lagi maka bukan tidak mungkin Richi akan mendahuluinya untuk mendapatkan Ameena dan ia tidak bisa membiarkan hal
itu terjadi.
“Iya, apa yang Mama katakan memang ada benarnya juga.”
“Tentu saja Nak, selagi masih ada kesempatan maka kamu harus gunakan itu sebaik-baiknya.”
****
Nandhita mendapatkan telepon dari Hanif saat ia sedang mengemudikan mobilnya, ia nampak tersenyum ketika melihat nama Hanif di layar ponselnya dan ia tentu saja langsung menjawab telepon dari Hanif itu.
“Ada apa Hanif?”
“Di mana kamu sekarang?”
“Oh kamu mau mengajakku makan malam?”
“Berhenti membuatku kesal dan jawab saja pertanyaanku karena aku ingin bertemu denganmu sekarang juga.”
“Oh jadi kamu sudah kembali ke Indonesia? Cepat sekali, aku pikir kamu tidak akan kembali ke Indonesia lagi.”
“Cepat katakan di mana kamu berada!”
“Aku sedang mengemudi dalam perjalanan pulang, kenapa memangnya?”
__ADS_1
“Temui aku di alamat yang aku berikan sekarang juga!”