Cinta Ameena

Cinta Ameena
Janji Pria Itu


__ADS_3

Walaupun hubungannya dengan Hanif tidaklah baik semenjak mereka memutuskan menikah dan memiliki anak akan tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan bagi Nandhita untuk bercerai dengan Hanif. Hanif sendiri nampak tidak mendebat keputusan Nandhita yang tidak mau berpisah dengannya akan tetapi Hanif memberikan sebuah ultimatum jika sampai Nandhita ketahuan melebihi batas dengan Jose maka ia tidak akan segan menggugat cerai Nandhita.


“Aku sudah mengatakan berulang kali padamu bahwa antara aku dan dia tidak memiliki hubungan khusus.”


Keesokan harinya Nandhita bertemu dengan Jose untuk berkeluh kesah mengenai rumah tangganya dengan Hanif, Jose sendiri hanya diam dan mendengarkan semua keluh kesah Nandhita hingga perasaan wanita itu menjadi


lebih baik dan Nandhita pun jadi merasa tidak enak pada Jose karena sering kali ia meluapkan masalah rumah tangganya pada Jose.


“Maaf karena sekali lagi aku membuatmu menjadi tempat sampahku.”


“Aku sama sekali tidak masalah untuk hal itu.”


“Benarkah?”


“Iya, lagi pula kita ini kan teman?”


Ucapan Jose barusan yang mengatakan bahwa mereka teman agaknya membuat Nandhita agak kecewa entah kenapa ia begitu kecewa karena Jose mengatakan bahwa mereka hanyalah teman padahal memang itulah kenyataannya, mereka hanya sebatas teman saja.


“Kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu mendadak murung begitu?”


“Apa? Oh aku baik-baik saja,” kilah Nandhita.


Untungnya saja Jose tidak memperpanjang masalah itu dan Nandhita pun kemudian mengajak Jose untuk makan siang bersama di sebuah tempat, awalnya Jose sempat menolak namun karena Nandhita terus memaksanya maka


ia pun menuruti apa yang Nandhita inginkan. Mereka sudah tiba di sebuah restoran pilihan Nandhita dan Nandhita pun sudah memesan menu makan siang untuk mereka berdua karena Jose tidak tahu menu makanan apa yang enak di sini.


“Aku mau pergi ke toilet sebentar,” pamit Nandhita.


“Baiklah.”


Nandhita pun kemudian pergi ke toilet meninggalkan Jose sendirian di meja, saat Nandhita pergi nampak Jose mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sebuah pesan pada seseorang.

__ADS_1


****


Untari merasa keberatan dengan keputusan Hanif yang masih ingin bertahan dengan Nandhita padahal sudah jelas sekali kalau Nandhita bukanlah wanita baik-baik dan ia sudah kepergok jalan dengan pria lain akan tetapi Hanif mengatakan pada mamanya bahwa Untari tidak perlu terlalu mengurusi rumah tangganya.


“Sejujurnya Mama heran padamu, Nak, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa sikapmu menjadi seperti ini padanya?”


“Apa maksud Mama mengatakan itu?”


“Maksud Mama adalah bukankah kamu sama sekali tidak mencintai Nandhita? Kenapa sekarang sikapmu seolah sangat membelanya dan tidak ingin kehilangannya padahal sudah jelas-jelas kalau dia berselingkuh dengan


pria lain.”


“Mama jangan berburuk sangka dulu pada Nandhita, belum tentu apa yang menjadi asumsi Mama itu benar kan?”


“Nah, itulah yang Mama maksudkan barusan, kamu seperti sangat tidak percaya dengan apa yang Mama katakan namun kamu sangat percaya dengan yang Nandhita katakan.”


“Itu kan hanya perasaan Mama saja, aku sama sekali tidak mencintai Nandhita akan tetapi aku tidak mau berburuk sangka pada Nandhita,” ujar Hanif yang kemudian ia menghentikan obrolannya dengan sang mama karena ada sebuah pesan masuk di ponselnya, buru-buru Hanif meraih ponselnya dan mencari tahu siapa orang yang mengirimnya pesan ini dan selepas ia membaca pesan itu dirinya nampak menyeringai puas, Untari yang melihat itu pun tentu saja penasaran dengan apa yang terjadi pada Hanif.


****


“Kamu ini semenjak hasil tes DNA muncul kalau aku perhatikan sering sekali melamun,” ujar Boy yang membuat Ameena terkejut.


“Apa maksud Tuan?”


“Sudahlah Ameena, aku tahu kalau kamu menjadi seperti ini akibat hasil tes DNA yang baru keluar itu kan?”


Ameena tidak dapat menjawab pertanyaan yang Boy berikan barusan hingga membuat Boy yakin pa yang dikatakan olehnya tadi adalah sebuah hal yang benar.


“Sejujurnya saya masih tidak paham kenapa hasil tes DNA-nya begitu, Tuan, Richi adalah ayah kandung Alysa, bagaimana bisa hasil tes DNA mengatakan hal yang berbeda?”


“Karena memang Richi bukanlah ayah kandung Alysa, Ameena.”

__ADS_1


“Bagaimana bisa Tuan mengatakan itu? Saya yakin kalau Richi adalah ayah kandung Alysa karena dia suami saya dan saya tidak pernah berhubungan dengan pria lain kecuali suami saya.”


“Bisa saja itu anaknya mas Hanif kan?”


“Tidak mungkin Tuan, saya dan mas Hanif tidak pernah melakukan itu selama kami menikah.”


****


Hanif pergi ke pemakaman umum tempat di mana jenazah mendiang istri tercintanya dikebumikan, Hanif datang seorang diri dengan membawa bunga kesukaan Salsabila, ia bersimpuh di sebelah makam mendiang Salsabila dan mengusap batu nisannya. Air mata Hanif nampak tumpah karena ia begitu merindukan mendiang istrinya, ia meminta maaf pada Salsabila karena baru datang ke pemakaman saat ini.


“Aku minta maaf karena baru datang ke sini sekarang, sayang.”


Hanif menghabiskan waktu beberapa menit untuk bermonolog di makam mendiang Salsabila, ia menganggap bahwa di sana Salsabila mendengarkan semua keluh kesah yang ia ceritakan pada wanita yang selalu ia


cintai walau sekarang mereka sudah berbeda dunia.


“Satu hal yang perlu kamu ketahui Salsabila bahwa cintaku padamu tidak akan pernah pudar walaupun sekarang aku sudah menikah dengan orang lain karena kamu adalah cinta pertama dan terakhirku.”


Selepas mengatakan itu Hanif memanjatkan doa untuk mendiang Salsabila sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki pergi dari area pemakaman umum menuju ke dalam mobilnya untuk pulang ke rumah, akan tetapi rupanya diam-diam Nandhita memerhatikan Hanif dari dalam mobilnya dan ia nampak kesal karena rupanya Hanif masih merindukan mendiang Salsabila.


“Bahkan setelah dia sudah tidak ada pun Hanif masih mendatangi tempat ini, kenapa kamu begitu menyebalkan Salsabila?”


****


Boy mengatakan pada Ameena bahwa ia dapat bicara seperti itu karena ia tahu satu hal mengenai kebenaran anak siapa Alysa itu dan tentu saja Ameena begitu penasaran seraya meminta Boy untuk mengatakan apa yang


ia ketahui mengenai ayah kandung dari Alysa itu.


“Maafkan aku Ameena namun tidak sekarang aku harus memberitahumu mengenai hal ini.”


Ameena tentu saja kecewa dengan ucapan Boy barusan karena ia berharap Boy mau menceritakan semuanya padanya namun rupanya Boy hanya ingin mempermainkannya saja.

__ADS_1


“Kamu jangan salah paham Ameena, aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu hanya saja saat ini bukanlah waktu yang tepat untukku memberitahu rahasia ini, kelak aku pasti akan memberitahumu.”


__ADS_2