
Ameena nampak heran dengan ucapan Richi barusan yang menyinggung soal Hanif dan lagi pula siapa juga yang memberitahu Richi mengenai hal ini, Ameena berusaha bertanya pada Richi mengenai siapa orang yang sudah
memberitahu Richi mengenai hal tersebut akan tetapi Richi mengatakan pada Ameena ia tak perlu mengetahui hal tersebut.
“Jujur saja padaku, kamu masih mencintai mantan suamimu itu kan?”
“Kamu mau jawaban yang jujur? Baiklah aku akan mengatakan jawaban yang jujur bahwa aku memang masih memiliki rasa pada mantan suamiku, apakah kamu sudah puas?”
Richi nampak begitu kecewa mendengar jawaban yang diberikan oleh Ameena barusan akan tetapi Ameena mengatakan pada Richi kalau sekarang ia sudah menikah dengan pria ini dan baginya Hanif adalah masa
lalunya.
“Mungkin aku tidak dapat menghapus semua ingatan tentangnya dengan cepat akan tetapi satu hal yang perlu kamu ketahui bahwa dia hanya masa laluku dan ketika aku memutuskan untuk menikah denganmu walaupun awalnya aku merasa terpaksa, akan tetapi sekarang aku sama sekali tidak menyesalinya.”
Richi dapat merasakan kejujuran dalam ucapan Ameena barusan hingga membuatnya berkaca-kaca dan meminta maaf atas sikap cemburunya pada Hanif barusan, Ameena mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Maafkan aku Ameena.”
“Kamu sudah berulang kali meminta maaf padaku, sudahlah.”
Akhirnya hubungan Ameena dan Richi kembali membaik pada malam hari ini hingga keesokan paginya Richi kembali mengantarkan Ameena ke rumah Luluk, diam-diam Boy memerhatikan mereka berdua dari dalam rumah dan pria itu nampak menggeram kesal karena sepertinya tidak ada hal yang terjadi di antara mereka berdua.
“Kenapa mereka nampak baik-baik saja?” gumam Boy.
Ameena kemudian masuk ke dalam rumah selepas ia berpamitan pada suaminya, Boy buru-buru menghindar dari jendela supaya Ameena tidak dapat melihatnya.
“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Ameena saat ia masuk ke dalam rumah dan melihat Luluk tengah berada di ruang tengah.
“Selamat pagi,” ujar Luluk tanpa menolehkan pandangan ke arah Ameena karena sibuk dengan majalah yang sedang ia baca.
****
Boy mendatangi tempat kerja Richi untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka kemarin, kenapa setelah ia mengirimkan foto tersebut justru seperti nampaknya tidak terjad apa pun di antara Richi dan Ameena.
“Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Richi.
“Aku datang ke sini tentu saja untuk bicara denganmu, memangnya untuk apa lagi?” jawab Boy.
“Kenapa kamu ingin bicara denganku? Apakah ada hal penting yang perlu kita bicarakan?”
“Tentu saja ada hal penting yang harus kita bicarakan karena sepertinya hubunganmu dengan Ameena baik-baik saja selepas aku mengirimkan foto itu.”
__ADS_1
“Ah ternyata soal foto tersebut, sebenarnya aku sudah menduganya bahwa kamu pasti akan mengungkit soal hal itu.”
“Kenapa kalian masih baik-baik saja? Apakah kamu benar-benar mencintai Ameena hingga tidak ada rasa cemburu sedikit pun saat melihat Ameena sedang bersama dengan orang yang ia cintai?”
“Ameena sudah menjelaskan semuanya padaku, Hanif memang masih ia cintai namun ia sama sekali tidak menyesal dengan keputusannya menikah denganku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku beruntung sekali mendapatkan Ameena saat kamu begitu kecewa selepas apa yang kamu lihat dengan kedua mata kepalamu sendiri, asal kamu tahu Boy sebenarnya malam itu aku tidak menyentuh Ameena, aku hanya
melepaskan pakaiannya dan membiarkan dia tidur di ranjang supaya ketika dia bangun dia mengira kalau kami sudah berhubungan.”
“Apa katamu? Jadi semua itu hanya tipuan semata?”
****
Boy merasa geram dan kecewa dengan keputusan yang sudah ia ambil untuk tidak menikah dengan Ameena selepas mendengar kenyataan yang diberikan oleh Richi barusan, ambisinya unuk menghancurkan Ameena jadi
sirna akan tetapi justru ia merasa bahagia kalau memang Richi waktu tidak menyentuhnya maka ia adalah orang pertama yang menyentuh Ameena dan anak yang Ameena kandung itu adalah anaknya.
“Richi, kamu boleh saja sombong saat ini akan tetapi lihat saja saat semua kebenaran akan terungkap, apakah kamu masih bisa menyombongkan diri d depanku?”
“Kenapa kamu tidak mau menyapaku saat aku pulang?”
“Maaf Tuan.”
Boy masih agak kesal dengan cerita Richi barusan padanya, rasanya ia ingin sekali mengatakan semuanya pada Ameena mengenai kebohongan Richi akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena ia justru menunggu sampai moment di mana Ameena akan tahu siapa ayah kandung dari anak yang sedang ia kandung saat ini.
“Jagalah kandunganmu dengan baik, Ameena.”
“Iya Tuan, saya akan melakukannya.”
****
Bulan berganti bulan dengan cepat, kehamilan Ameena sudah semakin besar dan mendekati hari persalinan semenjak hamil besar itu Luluk meminta Ameena berhenti bekerja untuk sementara karena khawatir sesuatu
hal yang buruk terjadi pada kandungannya walaupun Ameena sendiri mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan dapat bekerja.
“Kamu jangan memaksakan diri Ameena, aku mengatakan ini demi kebaikanmu dan calon anakmu,” ujar Luluk yang membuat Ameena akhirnya menuruti apa yang Luluk katakan.
Walaupun Ameena tidak bekerja untuk sementara waktu di rumah Luluk akibat sebentar lagi ia akan bersalin namun Luluk tetap memberikan gaji untuknya yang membuat Ameena bersyukur dengan kebaikan hati Luluk. Pada
__ADS_1
siang hari ini, Luluk datang mengunjungi Ameena di rumahnya dan kebetulan Richi memang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.
“Nyonya Luluk?”
“Halo Ameena, bagaimana kabarmu?”
“Saya baik Nyonya, silakan masuk ke dalam.”
Luluk pun kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dan duduk di kursi ruang tengah, di sana Ameena sempat menawarkan Luluk untuk minum akan tetapi Luluk menolaknya.
“Tidak apa Ameena, aku tidak haus.”
“Tapi Nyonya ….”
“Aku datang ke sini membawakan ini untukmu,” ujar Luluk yang membelikan perlengkapan bayi untuk kelahiran calon anaknya.
“Terima kasih banyak Nyonya, maaf sudah membuat anda repot.”
“Kamu tidak perlu merasa seperti itu Ameena.”
****
Nandhita baru saja melahirkan anak buah cintanya dengan Hanif, ia berharap selepas anak ini lahir ke dunia ini maka sikap Hanif padanya dan anak mereka akan jauh lebih baik dan hal tersebut terbukti di mana Hanif menjadi lebih perhatian semenjak Nandhita melahirkan anak mereka ini.
“Hanif.”
“Ada apa?”
“Aku senang sekali akhirnya kamu bisa bersikap baik padaku.”
“Aku bersikap baik padamu karena kamu baru saja melahirkan.”
Jawaban dari Hanif barusan membuat Nandhita sedih akan tetapi ia tidak akan membiarkan dirinya terlalu larut dalam kesedihan akibat ucapan pria ini padanya, tidak lama kemudian Luluk muncul di ruangan tersebut
untuk menjenguk Nandhita yang baru saja melahirkan anak pertamanya.
“Selamat ya sayang atas persalinannya,” ujar Luluk.
“Iya Tante, terima kasih banyak.”
“Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini,” ujar Hanif yang kemudian berjalan keluar dari ruangan inap ini.
__ADS_1