Cinta Ameena

Cinta Ameena
Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Ameena merasa lega karena bisa tinggal bersama dengan Untari untuk sementara waktu di rumah ini akan tetapi yang membuatnya khawatir adalah Alysa, walaupun ia tahu bahwa Alysa tengah berada di rumah Luluk dan


tentu saja anaknya itu aman dengan neneknya namun tetap saja sebagai seorang ibu, Ameena tidak dapat berpisah untuk waktu yang lama dengan anaknya. Ameena nampak gelisah sekali saat ini dan rupanya Untari melihat kejadian itu, Untari pun bertanya pada Ameena apa yang tengah mengganggu pikirannya.


“Aku hanya sedang memikirkan Alysa.”


“Alysa? Bukankah Alysa aman di rumah neneknya?”


“Iya Ma, aku tahu hanya saja Mama kan seorang ibu pasti paham apa yang tengah aku rasakan.”


Untari nampak tersenyum mendengar ucapan Ameena barusan, Untari pun kemudian berusaha menenangkan Ameena dan mengatakan bahwa Alysa pasti akan baik-baik saja dan tidak lama lagi mereka pasti akan kembali bertemu.


“Iya Ma, aku yakin itu.”


Untari menyarkankan Ameena untuk menelpon Boy saja kalau memang Ameena sudah sangat merindukan anaknya namun Ameena mengatakan nanti saja ia akan mencoba untuk menghubungi Boy, sementara Ameena tengah berbincang dengan Untari waktu tidak terasa sudah beranjak malam dan Hanif tiba di rumah, Hanif nampak terkejut ketika mendapati Ameena di rumah ini.


“Ameena? Kok bisa ada di sini?”


“Anu Mas ….”


Untari pun menceritakan kenapa Ameena bisa ada di sini, Hanif sendiri menyimak cerita sang mama hingga akhirnya ia paham kenapa Ameena bisa ada di sini, selepas itu Hanif pun kemudian pergi ke kamarnya untuk


berganti pakaian dan mandi.


“Sudah saatnya makan malam, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat sekali.”


“Iya Ma.”


Akhirnya Untari dan Ameena pun bergegas ke meja makan untuk makan malam, sebenarnya tadi Ameena hendak membantu menyiapkan makan malam namun Untari melarangnya karena itu adalah tugas dari asisten rumah


tangga.


“Sudahlah Nak, duduk saja kita tunggu sampai Hanif selesai mandi dan berganti pakaian,” ujar Untari dengan senyum.


****

__ADS_1


Arsen nampak nampak dengan lahap di meja makan seraya menceritakan harinya di sekolah tadi pada papa dan neneknya, Hanif dan Untari nampak begitu antusias mendengar cerita Arsen di meja makan ini. Melihat Arsen


mengingatkan Ameena pada Alysa, ia ingin tahu apakah Alysa saat ini sudah makan malam atau apakah saat ini Alysa juga tengah menceritakan harinya di sekolah pada Luluk dan Boy?


“Tante kenapa diam saja?” tanya Arsen yang membuat Ameena terkejut.


“Tidak apa sayang, Tante menyimak cerita Arsen barusan,” jawab Ameena.


“Di mana Alysa? Kok Tante hanya sendiri saja ke sini?”


“Alysa ada di rumah nenek Luluk,” jawab Untari.


“Nenek Luluk? Papa, besok sepulang sekolah aku mau ke rumah nenek Luluk, ya?” tanya Arsen pada papanya.


“Iya besok kamu boleh sepulang sekolah ke rumah nenek Lukuk,” jawab Hanif yang membuat Arsen seketika bahagia sekali.


Selepas makan malam selesai, Ameena membantu asisten rumah tangga membersihkan meja makan dan mencuci piring walaupun asisten rumah tangga sudah meminta Ameena untuk jangan melakukannya.


“Aduh saya benar-benar tidak enak karena kan kamu tamu di sini, tidak seharusnya melakukan pekerjaan ini.”


“Bibi ini apa-apaan, sih? Saya bukan tamu di sini, saya hanya menumpang saja untuk sementara waktu di sini.”


****


Akhirnya keesokan harinya Ameena pamit pada Untari dan Hanif untuk pergi menemui Ameena di rumah Luluk namun Hanif mengatakan bahwa ia akan mengantarkan Ameena pergi ke rumah Luluk. Tentu saja niat baik Hanif itu ditolak oleh Ameena, Ameena mengatakan bahwa hal tersebut sangat merepotkan Hanif karena sebentar lagi Hanif harus pergi ke kantor namun Hanif mengatakan pada Ameena bahwa hal tersebut sama sekali tidak membuatnya repot justru ia malah senang dengan dapat mengantarkan Ameena pergi ke rumah Luluk.


“Jangan menolak kebaikan hati Hanif Ameena, dia melakukan semua ini karena mendengar apa yang sudah dilakukan oleh Richi padamu, siapa tahu ketika kamu pergi sendiri ke rumah Luluk maka Richi akan menghadangmu.”


Ameena terdiam mendengar ucapan Untari barusan yang memang ada benarnya, akan tetapi ia masih tak mau merepotkan Hanif, Hanif sendiri mengatakan bahwa ia sama sekali tidak merasa direpotkan oleh hal tersebut.


“Ayo masuklah.”


Ameena pun kemudian masuk ke dalam mobil milik Hanif itu, Ameena melambaikan tangan pada Untari yang mengantar mereka sampai di depan teras. Perlahan mobil yang Hanif kemudikan meninggalkan area rumah menuju


rumah Luluk. Sepanjang perjalanan menuju rumah Luluk, tidak ada percakapan berarti di antara mereka hingga akhirnya Hanif membuka percakapan di antara mereka.

__ADS_1


“Sudah lama sekali kita tidak begini kan, Ameena?”


****


Ameena tentu saja terkejut dengan ucapan Hanif barusan yang seolah mengingatkannya dengan masa lalu mereka ketika mereka masih menikah, akan tetapi tentu saja di masa lalu Hanif bukanlah seperti Hanif yang sekarang.


“Kenapa diam saja Ameena? Tidak merindukan masa-masa itu?”


“Mas Hanif ini membicarakan apa?”


“Sejujurnya Ameena, aku jadi merasa bersalah karena telah memerlakukanmu buruk di masa lalu.”


“Sudahlah Mas Hanif, semua sudah terjadi dan tak ada yang perlu disesali.”


“Iya, kamu memang benar, ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat dan sekarang kita berdua sudah memiliki anak.”


Ameena sendiri nampak hanya diam saja ketika Hanif membahas hal tersebut, rasa cinta Ameena pada Hanif masih sama seperti dulu namun ia tidak berani mengungkapkan yang sebenarnya pada pria ini.


“Ameena, kenapa hanya diam saja? Kamu sakit?”


“Tidak Mas, aku baik-baik saja.”


“Benarkah? Kalau memang kamu sedang sakit kita bisa mampir dulu ke apotek untuk membelikanmu obat.”


“Tidak Mas, sungguh aku baik-baik saja, terima kasih atas perhatianmu.”


Akhirnya mobil Hanif tiba di depan rumah Luluk, Ameena membuka sabuk pengaman dan berterima kasih pada Hanif yang sudah mau mengantarkannya ke rumah Luluk.


“Sampai bertemu nanti sore, Ameena.”


Ameena terkejut dengan ucapan Hanif barusan namun setelah ia sadar, buru-buru Ameena turun dari dalam mobil pria itu dan bergegas masuk ke dalam rumah Luluk.


****


Luluk menyambut Ameena di rumah ini, Luluk sempat berbasa-basi mengenai keadaan Ameena selepas kemarin diselamatkan oleh Untari dan setelahnya Ameena pun kembali bekerja seperti biasa di rumah ini namun tidak lama kemudian Luluk mendapatkan telepon yang membuatnya benar-benar terkejut.

__ADS_1


“Apa katamu? Boy dirawat di rumah sakit?”


Ameena yang tengah bekerja di dapur nampak terkejut dengan ucapan Luluk barusan yang tidak senaja ia dengar, Ameena tentu saja khawatir dengan keadaan Boy dan ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu hingga berakhir di rumah sakit akan tetapi ia tak berani bertanya lebih lanjut pada Luluk.


__ADS_2