
Ameena akhirnya dapat melihat pemakaman Salsabila dari jarak yang agak jauh setelah Boy mengajaknya untuk ikut ke sana, sebenarnya Boy sudah mengajak Ameena untuk jalan lebih dekat lagi namun Ameena menolak karena di sana ada Luluk dan Nandhita, kedua orang itu pasti saat ini masih belum dapat menerimanya. Maka dari jarak yang agak jauh inilah Ameena menyaksikan prosesi pemakaman, Ameena tentu saja sedih karena Salsabila harus pergi untuk selamanya dan ia tidak akan pernah melupakan janjinya pada Salsabila bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Hanif selamanya.
“Aku janji padamu untuk menepati semua yang telah aku janjikan padamu, percayalah.”
Akhirnya setelah prosesi pemakaman selesai, Ameena pun pulang ke rumah seorang diri karena Hanif masih pulang ke rumah keluarga Salsabila untuk menyiapkan pengajian. Ameena cukup tahu diri untuk tidak datang
ke acara itu karena keluarga Salsabila pasti sangat tak menyukainya. Alangkah terkejutnya Ameena ketika mendapati Richi berdiri di depan pagar rumah ketika ia kembali. Richi yang melihat Ameena segera menghampiri wanita itu dan bertanya dari mana saja Ameena namun ia tak mau menjawab pertanyaan yang Richi
ajukan ini.
“Lebih baik kamu tak perlu mengetahui aku dari mana.”
“Kenapa? Kamu kok wajahnya seperti sedih begitu, sih?”
“Sudah aku katakan kamu tak perlu mengetahuinya.”
Ameena hendak pergi masuk ke dalam rumah namun Richi menghadang jalannya hingga membuat Ameena kesal, ia meminta Richi untuk jangan melakukan hal ini padanya.
“Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu Ameena.”
“Aku tak perlu mengatakan apa pun padamu, pergi sekarang juga.”
“Ameena, apakah kamu tak ingin menghabiskan waktu denganku sebentar saja?”
“Aku sudah menikah sekarang, apakah itu masih belum juga menyadarkanmu?”
“Tapi kamu hanya berstatus sebagai istri kedua dengan pria itu, kalau kamu menikah denganku maka kamu akan menjadi satu-satunya.”
Ameena tak mau memperpanjang obrolan ini dengan Richi, ia memilih untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan Richi yang masih mencoba memanggil namanya.
****
Hanif begitu terpukul dengan kepergian Salsabila dan Nandhita yang melihat kesedihan Hanif itu pun memiliki rencana bagaimana ia bisa mengatur supaya Hanif dan Ameena bisa segera bercerai.
“Hanif.”
“Oh kamu rupanya.”
“Aku lihat sepertinya kamu masih begitu berduka akibat kepergian Salsabila, ya?”
“Tentu saja aku sangat berduka dengan kepergiannya, bagaimana bisa aku tak berduka ketika wanita yang aku cintai pergi meninggalkanku?”
“Aku juga sangat merasa kehilangan Salsabila namun sekarang Salsabila sudah tak merasakan sakit lagi di dunia ini, dia pasti sudah bahagia di sana.”
Nandhita pun mencoba membuka percakapan mengenai Ameena pada Hanif, ia berusaha untuk menghasut Hanif menceraikan Ameena namun jawaban yang Hanif berikan sungguh membuat Nandhita terkejut.
“Aku telah berjanji pada Salsabila ketika ia masih hidup bahwa aku akan tetap bersama dengan Ameena.”
“Tapi kan kamu sama sekali tidak mencintai Ameena, Hanif.”
“Aku tahu bahwa aku tak mencintai Ameena, akan tetapi demi Salsabila maka aku akan mencoba untuk mencintainya dan menganggap bahwa dia adalah Salsabila.”
__ADS_1
“Tidak Hanif, itu sama sekali tidak benar, kamu tak bisa menganggap bahwa Ameena adalah Salsabila karena Ameena dan Salsabila adalah orang yang berbeda.”
“Kenapa kamu bersikap seperti ini, Nandhita?”
“Apa maksudmu?”
“Sepertinya kamu tidak senang dengan keputusanku.”
****
Nandhita nampak menggeram kesal karena hampir saja Hanif mencurigainya kalau sebenarnya dirinya memang menentang hubungan Hanif dan Ameena karena seharusnya Hanif menjadi miliknya.
“Hei.”
Nandhita menoleh ke arah sumbe suara dan menemukan Boy yang tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri, saat ini Boy menghampiri Nandhita dan berdiri tepat di sebelahnya.
“Mau apa kamu datang ke sini?”
“Sejujurnya aku memiliki pertanyaan untukmu.”
“Apa?”
“Kamu menyukai mas Hanif kan?”
“Apa maksudmu menanyakan itu?”
“Sudahlah Nandhita, aku bisa melihat pancaran itu dari kedua matamu.”
diwasiatkan oleh mendiang Salsabila sebelum ia pergi.
“Apakah kamu sudah memendam perasaan itu sejak lama?”
“Iya, aku menyukainya sejak pertama kali Salsabila mengenalkannya.”
“Jadi diam-diam kamu menyukai mas Hanif tanpa sepengetahuan kakakku?”
“Iya Boy, sekarang adalah waktunya aku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”
“Apakah kamu yakin akan mendapatkan mas Hanif?”
“Kenapa? Kenapa aku harus tidak yakin?”
“Karena Ameena menjadi istri satu-satunya mas Hanif sekarang dan mas Hanif bilang kalau dia akan mulai mencintai Ameena detik ini.”
“Ameena sama sekali bukan tandinganku, aku akan membuat Hanif dan Ameena segera bercerai.”
****
Ameena merasa canggung karena sekarang di rumah ini hanya ada dirinya dan Hanif saja, sikap Hanif pada Ameena juga dirasa agak berbeda dari sebelum Salsabila meninggal dunia dan sikap Hanif ini membuat
Ameena agak sedikit terkejut.
__ADS_1
“Kamu kok sepertinya tidak nyaman denganku Ameena?”
“Saya baik-baik saja Tuan.”
“Kamu jangan bicara formal padaku.”
“Maaf?”
“Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan sayang.”
“Apa?”
“Aku ini suamimu kan, Ameena?”
Ameena menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Hanif barusan kemudian Hanif pun mendekati Ameena hingga membuat jantung Ameena berdegup lebih cepat ketika jarak di antara mereka sungguh sangat dekat seperti ini.
“Aku minta maaf atas sikapku yang agak buruk selama ini padamu, Ameena.”
“Tidak masalah, aku bisa memahaminya bahwa anda pasti sangat mencintai mendiang istri anda.”
“Kamu benar Ameena dan sekarang aku akan melakukan seperti apa yang menjadi wasiatnya yaitu menjadikan kamu istriku satu-satunya.”
“Tuan?”
“Jangan panggil aku Tuan, Ameena.”
“Aku minta maaf, aku hanya belum terbiasa untuk itu.”
“Kalau begitu mulai dari sekarang kamu harus membiasakan diri untuk memanggilku tanpa ada embel-emebel Tuan, kamu dapat mengerti Ameena?”
“Iya aku mengerti.”
Hanif kemudian tersenyum mendengar jawaban Ameena barusan, Hanif kini mengajak Ameena untuk masuk ke dalam kamar dan tentu saja hal tersebut membuat Ameena terkejut.
****
Sikap yang ditunjukan oleh Hanif memang berbanding terbalik ketika Salsabila masih hidup, jika sebelumnya Hanif cenderung dingin dan acuh kini perlahan sikap Hanif begitu lembut padanya, Hanif sering sekali memanggil dirinya dengan sayang dan membuat Ameena tersipu. Ameena memang mengagumi sosok Hanif yang begitu sempurna di matanya, ia tak pernah menyangka kalau akan mendapatkan seorang suami seperti Hanif dengan cara yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.
“Ameena.”
“Ada apa, Mas?”
“Setelah acara 40 hari kepergian Salsabila maka ikutlah denganku.”
“Ikut? Memangnya kita akan ke mana, Mas?”
“Kita akan pindah ke Norwegia, Ameena.”
“Norwegia?”
“Iya, keluargaku tinggal di sana dan aku ingin kita memulai hidup baru di sana bersamamu.”
__ADS_1