
Nandhita bukannya tidak menyukai kehadiran Jose di kota ini, hanya saja Nandhita merasa heran karena Jose tidak tinggal di kota ini dan pekerjaannya pun juga tidak ada di kota ini namun pria ini selalu saja menyempatkan diri untuk datang menemuinya di sini yang mana tentu saja Nandhita jadi berpikir bahwa mungkin saja pria ini memiliki perasaan padanya namun tentu saja hal tersebut sangat tidak mungkin mengingat Jose tidak pernah memiliki perasaan apa pun padanya bahkan sejak mereka dulu menjalin hubungan, semua yang mereka lalui tidak pernah ada apa-apanya di mata Jose dan tidak sepatutnya Nandhita berharap lebih pada pria yang sama sekali tidak mencintainya. Jose sendiri bisa cepat akrab dengan Arsen, keduanya nampak sibuk bermain ketika Nandhita menjaga tokonya setidaknya kehadiran Jose bisa membuat Arsen tidak terlalu bosan di tokonya ini. Selepas bermain, Nandhita mengatakan saatnya Arsen tidur siang, ia mengantarkan Arsen menuju rumah dan menunggu sampai Arsen tertidur baru ia kembali ke toko yang sebelumnya dijaga oleh Jose selama ia pergi ke rumah sebentar.
“Apakah ada pembeli yang datang ketika aku pergi?” tanya Nandhita saat ia kembali ke toko.
“Tidak ada, sepertinya memang hari ini tidak ramai orang,” jawab Jose.
Nandhita hanya menganggukan kepalanya dan kemudian ia sibuk sendiri untuk tidak memiliki banyak waktu mengobrol dengan Jose, akan tetapi rupanya Jose malah sibuk mendekatinya dan mengajaknya berbincang.
“Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?” tanya Nandhita akhirnya.
“Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?” tanya Jose yang sepertinya begitu antusias saat mendengar pertanyaan Nandhita barusan.
“Kenapa sering sekali kamu datang ke sini? Maksudku kamu tidak tinggal di kota ini dan pekerjaanmu juga tidak ada di kota ini,” ujar Nandhita.
“Memangnya salah jika aku datang ke kota ini?”
“Tentu saja tidak, hanya saja aku penasaran apa maksudmu datang setiap saat ke sini kalau memang tidak ada keperluan mendesak.”
“Siapa yang mengatakan itu?”
“Apa?”
****
Cassandra diajak papanya kembali bicara namun Cassandra menolaknya karena tahu apa yang hendak papanya ini bicarakan, Cassandra hendak pergi namun papanya melarangnya dan mengatakan bahwa Cassandra
harus mendengarkannya dulu saat ini.
“Pa, aku saat ini harus segera pergi ke butik, nanti saja kalau mau bicara.”
“Kamu pikir Papa tidak tahu apa yang selama ini kamu lakukan, Cassandra?”
“Apa maksud Papa?”
“Kamu selama ini jarang pergi ke butik dan sibuk sekali mencoba mendekati Boy kan?”
__ADS_1
Cassandra menghela napasnya, Cassandra mengatakan bahwa semua itu bukan urusan papanya namun jawaban dari Cassandra itu malah membuat papanya kesal bukan main.
“Cassandra, Papa sudah memutuskan sesuatu, lebih baik kamu dijodohkan saja dengan orang lain.”
Sontak saja Cassandra terkejut dengan ucapan sang papa barusan, Cassandra menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin dijodohkan dengan siapa pun karena ia hanya ingin Boy seorang.
“Tidak, aku tidak akan menerima semua itu, aku hanya mencintai Boy dan kalau aku tidak berakhir dengan Boy maka aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku.”
“Berhenti bicara omong kosong seperti ini Cassandra.”
“Siapa yang bicara omong kosong, Pa? Aku serius ketika mengatakan aku tidak akan menikah jika tidak dengan Boy!”
Selepas mengatakan itu, Cassandra langsung pergi begitu saja meninggalkan papanya yang memanggil namanya.
****
Nandhita sendiri tidak mau terlalu berharap pada Jose namun di sisi lain ia tidak menampik bahwa ia cukup bahagia karena pria ini sering datang menemuinya di kota ini bahkan Jose sepertinya juga begitu menyayangi Arsen hingga membuat Nandhita berpikir kalau mungkin saja pria ini sedang mencoba mendekatinya kembali namun semua pikiran itu segera ditepisnya karena memang belum tentu semua yang ada di dalam kepalanya benar.
“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Jose yang membuat Nandhita terkejut.
“Ngomong-ngomong bagaimana menurutmu kalau aku mencari pekerjaan di kota ini?”
“Kenapa memangnya kamu ingin mencari pekerjaan di kota ini? Bukankah di kota itu kamu sudah memiliki pekerjaan yang bagus dan peluang kerja di sana jauh lebih banyak dibanding di kota ini.”
“Karena di sana jauh denganmu.”
“Apa?”
“Iya, karena kalau aku tinggal di sana maka aku tidak dapat setiap saat bertemu denganmu.”
Ucapan Jose barusan membuat Nandhita pipinya bersemu namun buru-buru ia berusaha bersikap biasa saja dengan ucapan pria itu barusan, Nandhita kemudian bertanya apa maksud Jose mengatakan hal tersebut.
“Bukankah kamu menyukainya Nandhita?”
“Aku sama sekali tidak paham apa yang sedang kamu bicarakan ini.”
__ADS_1
“Yang sedang aku bicarakan adalah kamu sebenarnya senang kalau aku berada di sini kan?”
“Siapa yang mengatakan itu?”
****
Boy masih mencoba mendekati Ameena dan meminta supaya Ameena mempertimbangkan permintaan darinya untuk mau menikah dengannya namun Ameena masih belum mau mengatakan apa pun bahkan beberapa kali Ameena mengatakan pada Boy bahwa ia tidak akan menikah lagi. Sikap keras kepala Ameena yang masih berusaha menghindar dan menolak ajakan menikah rupanya sama sekali tidak membuat Boy patah semangat, ia yakin bahwa Ameena seperti ini karena kedua pernikahan sebelumnya gagal dan ia masih trauma dengan hal tersebut.
“Ameena.”
“Apa yang Tuan Boy inginkan?”
“Aku hanya ingin mengobrol denganmu sebentar.”
“Maaf namun saat ini aku sedang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mengobrol.”
Namun sebelum Ameena pergi, Boy sudah terlebih dahulu menahan tangan Ameena dan mengatakan pada Ameena bahwa wanita ini tidak dapat pergi begitu saja sebelum mereka bicara.
“Tuan, tolong jangan seperti ini karena saya harus segera bekerja, masih banyak hal yang perlu saya kerjakan.”
“Aku melakukan semua ini karena siapa? Tentu saja karena kamu Ameena, kalau saja kamu tidak menghindar seperti ini maka sudah pasti sejak tadi aku tidak akan menghalangimu kan?”
Ameena menghela napasnya karena sikap Boy yang sangat keras kepala, Ameena sendiri sudah tahu apa yang hendak Boy bicarakan dengannya dan oleh sebab itu maka Ameena memilih untuk menghindari Boy.
****
Luluk diam-diam mengintip Boy dan Ameena yang tengah bicara saat ini, tentu saja Luluk tidak habis pikir dengan Boy yang masih saja ingin menikah dengan Ameena, nampak sekali kalau Ameena sepertinya juga tidak
tertarik untuk menikah dengan Boy dan Luluk dapat menghela napas lega karena Ameena tidak mudah untuk dibujuk dan dirayu oleh Boy. Selepas Ameena pergi kini Luluk menghampiri Boy yang tengah terdiam di tempatnya dengan raut wajah yang sedih akibat penolakan kembali oleh Ameena.
“Apa yang kamu dan Ameena bicarakan barusan, Nak?”
“Barusan aku membicarakan soal pernikahan pada Ameena namun Ameena sepertinya masih belum mau membicarakan mengenai hal itu, Ma.”
“Menurut Mama sudah saatnya kamu berhenti, Nak.”
__ADS_1