
Cassandra kehilangan jejak Boy kemarin ketika ia mencoba mengikuti ke mana perginya pria itu karena memang kemarin Boy sudah pulang duluan dan ia sengaja memilih jalan sempit yang mana mobil yang Cassandra kemudikan jelas tidak akan dapat melalui jalan itu. Cassandra berdecak kesal karena kehilangan jejak Boy malam kemarin namun sekarang ia sudah berada di restoran tempat di mana Boy bekerja dan mendesak pemilik
restoran untuk mengatakan di mana tempat tinggal Boy.
“Siapa anda? Kenapa ingin mengetahui data pribadi karyawan saya?”
“Saya adalah kekasihnya, wajar jika saya ingin tahu di mana ia tinggal kan?”
“Kalau memang anda adalah kekasihnya maka bukankah seharusnya anda tahu di mana kekasih anda tinggal?”
Cassandra nampak tak percaya pemilik restoran ini begitu ngotot untuk tidak memberitahunya di mana Boy tinggal, percuma saja ia menghabiskan waktu di tempat ini dan ketika ia keluar dari ruangan nampak Boy yang baru datang dan pria itu terkejut melihat kehadiran Cassandra di sini.
“Boy.”
Namun Boy sama sekali tidak menatap Cassandra, ia ingin segera bekerja namun wanita itu menahan tangannya.
“Boy tunggu dulu.”
“Lepaskan tanganmu!”
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memberitahuku kamu tinggal di mana.”
“Aku tidak akan memberitahumu, pasti mamaku yang menyuruhmu melakukan semua ini kan?”
“Mamamu? Sama sekali tidak.”
“Sudahlah Cassandra, aku tidak percaya padamu.”
Boy melepaskan cengkraman tangan wanita itu dan masuk ke dalam ruang ganti khusus karyawan, Cassandra nampak berdecak kesal mungkin saat ini ia tak mendapatkan informasi apa pun mengenai di mana Boy tinggal
namun bukan dirinya kalau tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Baiklah kalau memang kamu tak mau memberitahuku di mana kamu tinggal sekarang, tapi bukan artinya kamu bisa selamanya merahasiakan ini dariku, Boy.”
Cassandra kemudian pergi dari restoran tersebut dan ia bertekad akan mencari tahu di mana Boy tinggal menggunakan cara yang lain. Sementara itu Boy baru saja keluar dari ruang ganti nampak menghela napasnya
lega karena wanita itu sudah pergi.
****
Luluk terkejut ketika menemukan suaminya berada di depan kamar hotel, ia hendak menutup kembali pintu namun suaminya menahan pintu supaya tidak tertutup dan apa yang suaminya lakukan itu membuat Luluk kesal.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Aku datang ke sini untuk menemuimu.”
“Untuk apa? Bukankah kamu sudah tak mempedulikanku lagi?”
“Siapa yang bilang kalau aku tidak mempedulikanmu lagi?”
“Sikapmu yang tidak peduli pada Boy adalah cerminannya.”
“Aku ….”
__ADS_1
“Sudahlah, aku tak ingin menghabiskan energiku untuk bertengkar denganmu hari ini, jadi selagi aku masih berbaik hati silakan pergi dari hotel ini.”
“Kamu bukan pemilik hotel ini, lagi pula kamu menggunakan uangku untuk menginap di hotel ini.”
“Astaga kamu ini memang benar-benar.”
“Luluk, aku minta maaf.”
Luluk nampak heran dan tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh suaminya, ia sampai mengerutkan kening takut ia salah dengar dengan apa yang barusan suaminya katakan.
“Apa katamu?”
“Aku minta maaf,” ujar Pamungkas yang nampak tak nyaman ketika mengatakan itu pada Luluk.
“Sejak kapan kamu mau meminta maaf begini?”
“Aku menyesal karena sudah membuatmu pergi dari rumah, tolong kembalilah ke rumah.”
“Aku sudah pernah mengatakannya padamu bahwa aku akan kembali ke rumah jika Boy kembali ke rumah.”
****
Travis mengantarkan Ameena ke supermarket awalnya Ameena menolak itu dan ia masih ingin berusaha melihat ke maps namun pria itu mengatakan bahwa ia tidak memiliki niat jahat dan ia mempersilakan Ameena untuk sekalian melihat maps-nya apakah ia sengaja membuatnya tersesat atau tidak.
“Bagaimana? Tidak tersesat kan?”
“Iya, aku minta maaf karena sudah berburuk sangka padamu.”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Ameena.”
“Soal apakah kamu sudah menikah atau belum.”
“Aku sudah menikah, memangnya kenapa?”
“Oh begitu rupanya, seperti apa suamimu? Kenapa aku tak melihatnya di pesawat waktu itu?”
“Bukan urusanmu.”
Ameena buru-buru pergi mencari bahan makanan namun karena bahasa yang digunakan di supermarket ini bukanlah bahasa yang ia pahami maka ia harus membuka ponsel dan menerjemahkan satu persatu barang yang ada di supermarket ini supaya ia tak salah beli.
“Apa yang ingin kamu cari?”
“Bahan makanan, tapi….”
“Kamu takut bahan makanan di sini tidak halal kan?”
“Kamu tahu?”
“Tentu saja tahu, kamu bisa membeli sayur dan buah, ikan atau sejenisnya, beberapa kebutuhan rumah tangga lain seperti pembersih lantai, sabun mandi dan yang lainnya di sini, aku akan menunjukan di mana kamu dapat menemukan daging yang halal.”
“Terima kasih.”
Akhirnya dengan bantuan Travis maka Ameena dapat mengambil beberapa bahan makanan dari rak supermarket itu sebelum pria itu mengantarkannya menuju toko daging yang menjual daging halal.
__ADS_1
****
Boy nampak terkejut ketika mendapati papanya berada di restoran tempatnya bekerja, ia sama sekali tidak menyukai kehadiran pria itu di sini namun papanya itu mengatakan ingin bicara dengannya.
“Apakah ada hal lain lagi yang perlu kita bicarakan.”
“Kembalilah ke rumah.”
Boy nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh papanya barusan yang memintanya untuk kembali ke rumah, Pamungkas tidak mau berbasa-basi dan mengatakan bahwa Boy harus ikut dengannya sekarang juga pulang
ke rumah supaya Luluk mau pulang ke rumah.
“Jadi Papa memaksaku untuk pulang ke rumah supaya mama mau pulang?”
“Mamamu pergi dari rumah semenjak aku mengusirmu waktu itu dan dia mengatakan tidak akan kembali ke rumah kalau kamu tidak kembali ke rumah.”
“Mama sudah menceritakan semuanya padaku waktu itu.”
“Kalau begitu jangan keras kepala dan turuti apa yang aku perintahkan.”
“Aku tidak mau melakukannya.”
“Apa katamu?!”
“Papa sudah mengusirku dan aku tidak akan mau kembali ke sana lagi.”
Pamungkas nampak geram mendengar penolakan yang dilakukan oleh Boy barusan, ia tak menyangka kalau anaknya ini dapat menolaknya di depan umum seperti ini.
“Apa maksudmu?”
“Papa sudah mendengar keputusanku kan? Jadi silakan pergi dari sini karena aku harus melanjutkan pekerjaanku.”
****
Ameena menyiapkan makan malam untuk suaminya dengan bahan makanan yang ia beli di supermarket dan juga toko daging yang halal tersebut. Ameena juga berpikir bahwa ia harus mengatakan yang sejujurnya pada
suaminya bahwa ia pernah melakukan video call dengan Boy yang mana seharusnya ia tidak melakukan hal tersebut tanpa persetujuan dari suaminya.
“Mas.”
“Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Memangnya kamu ingin membicarakan apa?”
“Anu… sebenarnya waktu itu Boy dan aku melakukan video
call.”
Hanif nampak mengerutkan kening mendengar ucapan Ameena barusan, akan tetapi Ameena langsung mengatakan bahwa mereka tidak melakukan apa pun dan itu hanya dilakukan sebentar saja.
“Kamu benar-benar menyukainya, ya?”
__ADS_1
“Tidak Mas!"