
Ameena sama sekali tidak masalah dengan apa yang dikatakan oleh Luluk barusan karena dirinya sendiri pun tidak ada pikiran untuk menikah dengan Boy walaupun pria itu sudah berulang kali mengatakan ingin menikah dengannya namun sampai saat ini Ameena tidak memiliki pikiran untuk menikah dengan Boy. Keesokan harinya ketika ia kembali bekerja di rumah itu, Boy kembali menghampirinya dan kesempatan ini Ameena gunakan untuk mengatakan bahwa sebaiknya Boy tidak lagi mengatakan bahwa ingin menikah dengannya.
“Kenapa kamu mengatakan itu, Ameena?”
“Karena kemarin nyonya datang ke rumah saya.”
“Apa katamu? Kemarin mama datang ke rumah? Apa saja yang mama bicarakan denganmu?”
“Nyonya mengatakan pada saya bahwa beliau sama sekali tidak setuju jika anda mau menikah dengan saya.”
Ucapan Ameena barusan membuat Boy terkejut, ia tidak menyangka kalau rupanya sampai saat ini mamanya masih saja tidak setuju dengan keputusannya untuk menikahi Ameena dan tentu saja setelah ini Boy harus bicara
dengan mamanya akan tetapi sebelum itu Ameena mengatakan pada Boy bahwa ia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang diminta oleh Luluk.
“Saya memang tidak memiliki niatan untuk menikah lagi dan semoga saja Tuan dapat menerima itu.”
Ucapan Ameena itu hanya dianggap sebagai angin lalu saja oleh Boy dan pria itu segera pergi meninggalkan Ameena untuk mencari keberadaan sang mama, begitu ia menemukan keberadaan Luluk maka Boy pun langsung bicara dengan sang mama.
“Boy, ada apa kamu mencari Mama?”
“Apakah kemarin Mama menemui Ameena?”
“Kenapa memangnya kamu menanyakan hal itu, sayang?”
“Jawab saja pertanyaanku barusan.”
“Iya, kemarin memang Mama menemui Ameena, apakah ada masalah dengan hal itu?”
Boy pun mengatakan bahwa Ameena telah menceritakan semua yang dikatakan oleh Luluk pada wanita itu kemarin dan Luluk sendiri sama sekali tidak menampik untuk hal tersebut.
“Mama mengakui bahwa Mama memang mengatakan hal tersebut pada Ameena.”
“Kenapa Mama mengatakan hal itu?”
“Kamu sudah tahu dengan pasti kenapa Mama mengatakan itu, kenapa masih bertanya lagi?”
****
__ADS_1
Cassandra pergi menemui Boy dan untungnya saja saat ia tiba nampak Boy yang baru saja keluar dari rumahnya, tentu saja Cassandra tanpa membuang banyak waktu langsung pergi menghampiri pria itu. Boy sendiri nampak
kesal bukan main karena lagi-lagi ia menemukan Cassandra di depan rumahnya, Boy pun kemudian mengabaikan wanita itu dan pergi menjauh darinya.
“Boy tunggu dulu.”
Namun tentu saja Boy sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita itu dan terus saja berjalan menjauhi Cassandra, sementara itu Cassandra sendiri masih berlari menghampiri Boy hingga akhirnya ia dapat juga mensejajarkan langkah kakinya dengan pria itu.
“Aku memanggilmu, kenapa tidak berhenti dan menengok padaku.”
Boy masih saja diam dan tak mau menatap wajah Cassandra, ia terus saja berjalan hingga akhirnya Cassandra pun meraih lengan Boy dan meminta Boy untuk berhenti. Boy pun memberhentikan langkah kakinya dan mengatakan pada Cassandra untuk jangan mengganggunya lagi.
“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.”
“Aku sama sekali tidak tertarik untuk mendengar ceritamu, jadi tolong biarkan aku sendiri.”
Namun Cassandra sama sekali tidak membiarkan hal tersebut terjadi, ia menahan lengan Boy dan meminta Boy untuk mau mendengarkan ceritanya.
“Boy, kenapa kamu bersikap seperti ini? Tolonglah dengarkan ceritaku.”
****
“Kamu harus mengikuti apa yang papamu inginkan, jadilah anak yang berbakti.”
“Kamu mengatakan itu karena kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan Boy, aku hanya mencintaimu, hanya kamu yang ada di dalam hatiku.”
“Cassandra, jangan menjadi anak yang durhaka dan ikuti saja perintah papamu.”
“Lantas bagaimana denganmu? Bukankah mamamu tidak menyetujui hubunganmu dengan Ameena namun kamu masih memaksakan hubunganmu dengan Ameena untuk berhasil?”
Ucapan Cassandra barusan membuat Boy terdiam, raut wajahnya mendadak berubah dan ia nampak tidak suka dengan ucapan Cassandra barusan yang mengakibatkan Boy pergi meninggalkan Cassandra, akan tetapi wanita
itu tentu saja tidak tinggal diam dan masih saja mengikuti ke mana pun Boy pergi.
“Kenapa? Kamu merasa marah padaku? Bukankah aku mengatakan yang sebenarnya? Kamu dan aku sama-sama tidak mau menuruti apa yang orang tua kita putuskan, bukan?”
“Urus saja masalahmu sendiri.”
__ADS_1
****
Luluk menemui Ameena di dapur, Ameena nampak terkejut karena Luluk datang ke dapur dengan raut wajah marah padanya dan Ameena sudah tahu pasti Luluk datang ke sini untuk memarahinya akibat ia yang telah memberitahu Boy mengenai pembicaraan mereka semalam.
“Nyonya saya minta maaf.”
“Kenapa kamu harus meminta maaf padaku?”
“Karena saya sudah memberitahu tuan Boy mengenai apa yang kita bicarakan kemarin.”
Luluk tidak mengatakan apa pun untuk sejenak, ia menghela napasnya pelan dan kemudian Luluk mengatakan pada Ameena bahwa ia sama sekali tidak masalah dengan hal tersebut, justru ia merasa senang karena Ameena
mau memberitahu Boy mengenai pembicaraan mereka semalam.
“Aku datang ke sini untuk memastikan satu hal padamu, Ameena.”
“Apa itu Nyonya?”
“Apakah setelah pembicaraanmu dengan Boy, keputusanmu mengenai menolak dengan Boy sudah berubah?”
Ameena tentu saja menggelengkan kepalanya, ia mengatakan pada Luluk bahwa keputusannya untuk tidak mau menikah dengan Boy adalah keputusan yang bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Luluk yang mendengar itu tentu saja lega mendengarnya dan Luluk juga memberikan peringatan pada Ameena untuk jangan sampai Ameena melanggar apa yang sudah menjadi kesepakatan di antara mereka berdua.
“Saya mengerti Nyonya, saya tidak akan mengecewakan anda.”
****
Hari ini Hanif pergi menjemput Arsen di rumah Nandhita karena besok Arsen sudah kembali bersekolah setelah liburan panjang, ketika Hanif tiba di sana nampak rumah Nandhita sedang kedatangan seorang tamu yang mana
setelah Hanif perhatikan lebih seksama lagi maka ia dapat mengenali siapa tamu yang tengah berkunjung di rumah Nandhita ini.
“Hanif?” ujar Nandhita yang terkejut melihat sang mantan suami tiba di rumahnya.
“Aku datang ke sini untuk menjemput Arsen, di mana dia?”
“Dia sedang di kamar membereskan pakaiannya, aku panggil dia dulu, silakan duduk.”
Nandhita kemudian pergi menuju kamar Arsen untuk memberitahu bahwa Hanif sudah datang dan siap untuk menjemputnya sementara menunggu Nandhita memanggil Arsen, Hanif duduk di sofa ruang tamu yang mana di sana ada Jose yang sedang bertamu juga.
__ADS_1
“Lama tidak berjumpa denganmu.”