Cinta Ameena

Cinta Ameena
Melakukan Video Call


__ADS_3

Ameena nampak terkejut dengan permintaan dari Boy ini, ia nampak dilema ketika Boy meminta video call walaupun ia tahu bahwa Boy tidak akan melakukan hal yang buruk padanya selain hanya meminta video call barusan namun Ameena merasa bingung apakah ia harus menyanggupi permintaan video call dari pria ini atau tidak.


“Ameena, apakah kamu masih di sana?”


“Iya, saya masih di sini.”


“Kalau begitu kenapa hanya diam saja?”


“Saya bingung Tuan.”


“Bingung? Kenapa bingung?”


“Anu ….”


“Aku tidak memintamu melakukan hal yang aneh selain video call saja kan? Aku ingin memastikan kalau mas Hanif tidak melakukan kekerasan padamu.”


“Tentu saja tidak, mas Hanif sama sekali tidak melakukan kekerasan padaku.”


“Kalau begitu berikan aku bukti kalau memang demikian, Ameena.”


Ameena menghela napasnya dan kemudian mengubah panggilan menjadi video call, di sana akhirnya Ameena bisa juga melihat sosok Boy. Di mata Ameena Boy nampak agak berubah karena sepertinya pria itu kurang tidur dan seperti tidak terurus dengan baik selepas memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut.


“Sepertinya kamu baik-baik saja di sana.”


“Sudah saya bilang bahwa saya baik-baik di sini, akan tetapi sepertinya Tuan sedikit ada masalah.”


“Kamu tak perlu mengkhawatirkanku Ameena, aku baik-baik saja.”


“Tapi Tuan ….”


“Kenapa? Kamu tidak percaya padaku?”


“Bukan seperti itu, saya tidak bisa lama-lama karena harus pergi ke supermarket.”


“Baiklah, hati-hati di jalan.”


Ameena kemudian mematikan sambungan video call-nya dengan Boy, walaupun hanya berlangsung tidak sampai sepuluh menit namun Ameena merasakan degup jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat wajah Boy akan


tetapi Ameena berusaha menghilangkan hal tersebut, ia tak boleh melakukan hal ini lagi karena bagaimanapun juga ia sudah memiliki seorang suami.


“Tidak, aku tidak boleh melakukan hal ini lagi.”


Ameena kemudian mencoba menelpon Hanif untuk memberitahu bahwa bahan makanan di kulkas sudah habis dan ia tidak memiliki uang untuk berbelanja di supermarket namun sayangnya nomor ponsel Hanif tidak dapat dihubungi.

__ADS_1


“Apakah saat ini Mas Hanif sangat sibuk?”


****


Pamungkas nampak tidak dapat fokus bekerja di kantornya karena memikirkan pertengkaran dirinya dengan Luluk kemarin malam, ia benar-benar tak menyangka kalau Luluk akan pergi meninggalkannya seperti apa yang ia lakukan tadi malam namun Pamungkas terlalu gengsi untuk meminta maaf pada istrinya karena apa yang telah ia lakukan semalam menyakiti hati istrinya.


“Kenapa aku harus memikirkan wanita itu?”


Pamungkas hendak kembali fokus dalam pekerjaannya namun bayang-bayang Luluk menghampirinya, ia dihantui oleh ucapan Luluk yang mengungkit soal Salsabila yang telah meninggal dunia dan kini mereka hanya memiliki Boy saja.


“Astaga Luluk, kamu benar-benar!”


Pamungkas kemudian menelpon orang suruhannya dan meminta mereka mencari di mana keberadaan Luluk sesegera mungkin, selepas ia menutup sambungan teleponnya asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan kerja


Pamungkas dan mengatakan bahwa saat ini ada agenda penting yaitu berupa rapat dengan anggota dewan direksi perusahaan.


“Baiklah, aku akan segera ke sana.”


Asisten pribadi Pamungkas itu kemudian pergi meninggalkan ruangan kerja pria itu sementara Pamungkas hendak berdiri dari kursinya untuk pergi menuju ruang rapat namun pandangannya malah tertuju pada sebuah foto yang ia letakan di atas meja kerjanya yang menampakan foto keluarganya yang diambil beberapa waktu yang lalu.


“Salsabila, Papa benar-benar merindukanmu, Nak,” ujar Pamungkas berkaca-kaca seraya mengusap foto mendiang putrinya yang telah tiada.


****


dan ia sendiri juga kelaparan saat ini.


“Ya Allah, tidak ada makanan di sini, apa yang harus aku lakukan?”


Ameena tidak dapat melakukan apa pun kecuali menunggu sampai Hanif pulang kerja dan Hanif baru tiba menjelang pukul 6 sore di apartemen mereka, ia melihat Ameena seperti tidak dalam kondisi sehat dan


bertanya apa yang terjadi padanya. Ameena pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Hanif baru menyadari kalau sejak tadi ia memang sengaja tidak membunyikan nada dering di ponselnya hingga ia tak tahu kalau Ameena mencoba menghubunginya.


“Maaf.”


Hanif kemudian nampak menelpon seseorang lewat ponselnya dan bicara dalam bahasa yang tidak Ameena pahami dengan orang tersebut selama beberapa saat hingga kemudian Hanif menutup sambungan teleponnya.


“Sebentar lagi makanan datang.”


“Mas ….”


“Halal!”


Hanif kemudian pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya sementara Ameena masih terduduk di sofa menunggu sampai makanan yang dipesan oleh Hanif tiba, tidak lama kemudian akhirnya pesanan itu tiba dan Ameena yang menerima pesanan itu dan membawanya masuk ke dalam.

__ADS_1


“Kenapa hanya diam saja? Bukankah tadi katanya kamu lapar?” tanya Hanif yang melihat Ameena sama sekali tidak menyentuh makanan itu.


“Mas Hanif makan juga,” jawab Ameena.


****


Luluk mencari di mana keberadaan Boy namun ia tidak mengetahui di mana saat ini Boy berada karena ponselnya tidak dapat dihubungi, Luluk bertekad tidak akan pulang ke rumah itu tanpa Boy dan ia tak akan peduli pada suaminya yang menyebalkan itu.


“Pria itu sudah keterlaluan, walau bagaimanapun Boy adalah anaknya.”


Luluk kemudian memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran karena hari sudah siang dan waktunya makan siang, tidak lama setelah Luluk duduk di kursi nampak di luar sana hujan dengan derasnya mulai mengguyur


kota.


“Anda mau pesan apa?”


Luluk reflek menoleh ke arah sumber suara dan ia terkejut ketika menemukan sosok Boy yang mengenakan seragam pelayan restoran.


“Boy?”


Boy juga sama terkejutnya dengan Luluk pun segera berbalik badan untuk menghindari Luluk namun tentu saja semua sudah terlambat karena Luluk sudah terlebih dahulu melihatnya.


“Boy, tunggu dulu, Mama ingin bicara denganmu.”


“Maaf tapi aku sedang bekerja sekarang.”


“Mama akan bicara dengan pemilik restoran ini supaya kamu diberikan waktu bicara dengan Mama.”


Luluk kemudian memanggil pelayan lain dan ia mengatakan bahwa ingin bertemu dengan pemilik restoran ini supaya Boy bisa bicara lama dengannya sekarang.


****


Akhirnya keesokan harinya Ameena diberikan uang oleh Hanif untuk berbelanja di supermarket namun yang jadi masalahnya adalah Ameena belum paham di mana letak supermarket di kota ini mengingat ia kemarin tidak diajak


Hanif berjalan-jalan di kota ini karena Hanif langsung sibuk dengan urusan pekerjaan. Ameena mengandalkan maps di ponselnya untuk mencapai supermarket dan ia melihat jarak dari aprtemen ini ke supermarket tidaklah terlalu jauh hanya membutuhkan waktu berjalan kaki selama 10 menit.


“Baiklah Ameena, kamu bisa melakukan ini.”


Ameena kemudian mempersiapkan mantel tebalnya karena cuaca di luar sana lumayan dingin walaupun belum memasuki musim dingin, saat ia baru saja keluar dari apartemen dan hendak menuju supermarket seseorang menabrak pundaknya secara tak sengaja.


“Maaf.”


“Kamu?”

__ADS_1


__ADS_2