Cinta Ameena

Cinta Ameena
Dua Pria yang Begitu Perhatian


__ADS_3

Ameena nampak tak begitu menyukai perhatian berlebihan yang diberikan oleh Boy ini, walaupun suaminya tidak ada di sini namun Ameena tahu bagaimana cara menjaga dirinya dari orang lain apalagi Boy bukanlah suaminya.


“Saya sungguh baik-baik saja, Tuan.”


“Kamu yakin Ameena? Kalau memang kamu sedang tidak enak badan, kamu bisa pulang lebih cepat.”


“Saya benar-benar baik-baik saja, Tuan. Anda tak perlu merisaukan saya.”


Boy menghela napasnya berat, ia pun kemudian menganggukan kepalanya atas apa yang Ameena tadi ucapkan selepasnya ia pun pergi. Selepas Boy pergi, barulah Ameena dapat menghela napasnya lega karena di dekat Boy ia merasa seperti tidak nyaman karena perhatian yang diberikan padanya terlalu berlebihan pada Ameena.


“Kamu yakin Ameena? Kalau kamu sedang tidak enak badan, kamu bisa pulang saja,” ujar asisten rumah tangga.


“Aku baik-baik saja, Bi. Bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya?”


“Baiklah, kalau memang kamu masih ingin berkerja, akan tetapi tolong jangan memaksakan dirimu, ya?”


Ameena menganggukan kepalanya dan kemudian ia kembali fokus menyiapkan makanan untuk Luluk serta Boy sementara itu di luar dapur nampak Luluk memerhatikan Ameena dengan sebuah seringai, ia sudah tidak sabar


memberitahu Ameena yang sesungguhnya mengenai anak siapa yang tengah Ameena kandung.


“Mama kenapa berdiri di sini?” tanya Boy.


“Bukan apa-apa, Mama hanya membayangkan betapa indahnya ketika Ameena hancur saat tahu ia mengandung bukan anak Richi,” jawab Luluk.


“Hari itu pasti akan segera tiba, Ma. Akan tetapi kita harus sabar untuk saat ini.”


“Kamu benar, untuk saat ini biarkan saja dia tidak mengetahui semuanya.”


Selepas itu Luluk dan Boy pun pergi dari dapur dan menuju meja makan, tidak lama kemudian Ameena menyiapkan makanan untuk mereka di meja makan.


“Anakku bilang kalau kamu sedang tidak enak badan, apakah itu benar?” tanya Luluk pada Ameena.


“Saya baik-baik saja, Nyonya,” jawab Ameena.


“Kalau memang kamu sakit, maka jangan memaksakan dirimu untuk bekerja, aku dapat memahaminya karena aku juga pernah mengandung,” ujar Luluk dan Ameena pun menganggukan kepalanya.


****

__ADS_1


Ameena merasa bahwa sikap Luluk berubah setelah mengetahui bahwa ia sedang hamil, Luluk tidak lagi bersikap keras dan membuatnya tidak nyaman dengan semua ucapan menyakitkan yang sebelumnya pernah dilontarkan


olehnya sebelum ini. Ketika jam kerja sudah selesai, Richi sudah menjemput di depan pagar rumah, Ameena pun berpamitan pada Luluk dan Boy.


“Saya permisi dulu, Nyonya.”


“Hati-hati di jalan, Ameena.”


Ameena pun kemudian berjalan keluar dari rumah itu untuk menghampiri sang suami yang sudah menunggu di depan sana, Ameena segera naik ke boncengan sepeda motor yang dikemudikan oleh Richi dan mereka pun


segera pergi menuju rumah kontrakan. Sesaat setelah mereka tiba dan masuk ke dalam rumah itu, Richi pun bertanya pada Ameena apakah hari ini Luluk membuat hal yang buruk padanya.


“Tidak, nyonya Luluk sama sekali tidak melakukan hal yang buruk, bukan untuk hari ini saja namun semenjak dia tahu kalau aku sedang hamil maka nyonya Luluk tidak pernah melakukan hal yang buruk padaku lagi.”


“Benarkah semua yang kamu katakan itu, Ameena? Kamu jangan mencoba menipuku,” ujar Richi yang nampak tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang Ameena katakan barusan.


“Aku mengatakan yang sesungguhnya, kalau memang kamu tak percaya, silakan tanya saja bibi karena bibi yang selama seharian ini bekerja bersamaku di dapur,” jawab Ameena yang kemudian pergi ke kamar mandi.


****


Richi sudah menghubungi bibi asisten rumah tangga di rumah Luluk yang mana ia ingin mengetahui keadaan Ameena yang sebenarnya saat ia bekerja di rumah Luluk, bibi mengatakan bahwa Luluk memang tidak melakukan


“Apakah Bibi serius?”


“Saya serius Richi, untuk apa saya berbohong pada kamu? Kalau memang nyonya melakukan hal yang buruk pada Ameena, pasti saya akan langsung melerainya karena kan Ameena sedang hamil.”


“Baiklah Bi, aku percaya dengan apa yang Bibi sampaikan padaku, aku mohon pada Bibi untuk selalu menjaga Ameena saat dia bekerja di rumah itu, ya?”


“Kamu tenang saja Richi, tanpa perlu kamu minta pun aku akan menjaga Ameena karena aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri.”


Selepas obrolan singkat itu maka Richi pun segera menutup sambungan teleponnya yang bertepatan dengan Ameena yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Siapa yang barusan menelpon?”


“Bibi, aku yang menelponnya.”


“Oh benarkah? Lalu apakah yang bibi katakan padaku? Apakah aku berbohong ketika mengatakan sikap nyonya Luluk berubah?”

__ADS_1


“Aku minta maaf karena sudah tak percaya padamu barusan, Ameena.”


****


Semakin hari Boy seperti semakin perhatian pada Ameena, ia kerap kali menanyakan soal kandungan Ameena, apa yang ia raskaan, apakah Ameena sudah makan dan juga jangan meminta Ameena terlalu banyak beraktivitas


karena ia khawatir anak yang ada di dalam kandungan Ameena kenapa-kenapa.


“Saya baik-baik saja Tuan.”


“Aku tahu, akan tetapi aku khawatir dengan anak yang ada di dalam kandunganmu, Ameena.”


“Saya tahu bagaimana cara menjaga diri saya.”


Boy sebenarnya ingin bicara lebih lanjut dengan Ameena akan tetapi Nandhita dan Hanif tiba di rumah ini yang membuatnya jadi tak dapat bicara banyak pada Ameena. Hanif nampak menyapa Ameena dan langsung bertanya


apakah memang Ameena saat ini sedang hamil dan apakah ada sesuatu hal yang ia rasakan saat ini.


“Kamu jangan terlalu lelah dan memaksakan diri ketika bekerja,” ujar Hanif yang begitu perhatian pada Ameena yang mana hal tersebut tentu saja membuat Nandhita sebagai istri sahnya pun cemburu.


“Hanif, bagaimana bisa kamu begitu perhatian pada wanita itu dibandingkan istrimu sendiri? Aku juga sama-sama tengah mengandung!” seru Nandhita.


“Kamu dapat menjaga dirimu dengan baik dan lagi pula kamu kan tidak bekerja, berbeda dengan Ameena yang harus tetap bekerja walaupun dia sedang hamil.”


Ucapan Hanif barusan membuat Nandhita benar-benar kesal sekali, bagaimana bisa Hanif memuji wanita lain yang merupakan mantan istrinya di depan istrinya sendiri.


“Kamu keterlaluan sekali, Hanif,” ujar Nandhita yang kemudian pergi meninggalkan suaminya itu.


****


Pamungkas secara mengejutkan datang ke rumah Luluk tanpa diundang ketika Nandhita dan Hanif juga sedang berkunjung, kedatangan Pamungkas tentu saja membuat mereka semua terkejut.


“Mau apa kamu datang ke sini? Aku sama sekali tidak mengundangmu,” ujar Luluk tajam.


“Memangnya aku salah jika ingin mengunjungi rumah mantan istriku? Aku ingin menjaga hubungan kita tetap baik walaupun kita sudah berpisah, Luluk,” ujar Pamungkas tenang.


Luluk nampak tertawa mendengar ucapan Pamungkas barusan, ia tentu saja tidak mau beramah tamah dengan mantan suami yang sudah menyakiti hatinya.

__ADS_1


“Tidak bisakah kita melupakan semua kebencian di masa lalu dan memulai hubungan yang lebih baik, Luluk?”


__ADS_2