
Richi tentu saja terkejut dengan pertanyaan yang barusan diajukan oleh Boy, ia kemudian mengatakan pada Boy bahwa ia sangat yakin kalau Alysa adalah anaknya dan Boy makin melebarkan seringainya yang membuat Richi geram bukan main.
“Apa maksudmu menanyakan hal konyol seperti itu, Boy?”
“Tentu saja aku hanya bertanya padamu, kenapa sepertinya kamu merasa tersinggung dengan pertanyaanku barusan?”
“Tentu saja aku tersinggung karena seolah-olah kamu meragukan kalau Alysa adalah anakku padahal memang Alysa adalah anakmu.”
“Iya, dia memang anakmu dan kamu tidak perlu marah akan hal itu.”
Richi menggeram kesal dan menghela napasnya berat, ia merasa percuma saja bicara dengan Boy karena pria ini hanya ingin mempermainkannya saja, Richi pun kemudian memutuskan untuk pergi dari tempat itu meninggalkan
Boy yang nampak begitu puas dengan reaksi yang barusan Richi berikan.
“Aku memang sengaja tidak memberitahumu sekarang mengenai kebenarannya Richi, aku ingin kamu menunggu lebih lama sampai akhirnya kamu akan mengetahui fakta yang selama ini sengaja aku tutupi mengenai siapa
ayah kandung Alysa.”
Boy pun kemudian membayar tagihan untuk minuman yang ia dan Richi pesan barusan sebelum meninggalkan café tersebut. Boy melajukan kendaraannya kembali pulang ke rumahnya dan ketika ia sampai di rumah nampak
Luluk langsung menghampirinya dan menariknya untuk masuk ke dalam ruang perpustakaan supaya mereka dapat bicara.
“Apa yang Richi bicarakan denganmu, Nak?”
“Mama kenapa wajahnya panik sekali begitu?”
“Dia tidak melakukan hal yang buruk padamu kan?”
“Tidak, dia sama sekali tidak melakukan apa pun padaku, kami hanya berbincang saja, Ma.”
“Mama tahu kalau kalian berbincang, akan tetapi apa yang kalian perbincangkan.”
“Kami memperbincangkan soal Alysa, Ma.”
Luluk nampak terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Boy barusan, Luluk pun menanyakan apakah Boy memberitahu Richi yang sebenarnya soal anak itu atau tidak.
“Tentu saja aku tidak mengatakan yang sebenarnya padanya, Ma karena aku masih ingin menyembunyikannya lebih lama lagi.”
__ADS_1
****
Richi sudah menunggu di depan gerbang rumah keluarga Luluk menantikan Ameena keluar dari dalam rumah tersebut, sepanjang menunggu kedatangan Ameena dan buah hatinya, Richi memikirkan pecakapannya dengan Boy yang membuatnya kesal barusan dan ketika Ameena keluar dari rumah itu nampak Boy juga ikut mengantarkan Ameena hingga membuat Richi emosi.
“Hati-hati di jalan, Ameena,” ujar Boy yang nampak begitu perhatian pada Ameena dan Alysa yang membuat Richi cemburu.
“Apakah kamu tidak melihat kalau aku ada di sini? Berani sekali kamu bersikap mesra pada istri orang,” ujar Richi.
“Aku tentu saja melihatmu sejak tadi Richi, sepertinya kamu jadi begitu sensitif selepas obrolan kita tadi.”
Ameena nampak terkejut dengan ucapan Boy barusan karena memang ia tidak tahu menahu kalau tadi Boy pergi menemui suaminya, sebenarnya Ameena mau langsung bertanya pada Richi mengenai apa yang mereka
perbincangkan akan tetapi Ameena memilih untuk membicarakan hal tersebut di rumah saja.
“Tuan Boy, kalau begitu kami pulang dulu.”
“Baiklah Ameena, hati-hati di jalan.”
Richi melajukan motornya menuju rumah kontrakan mereka, tidak ada obrolan yang berarti terjadi sepanjang perjalanan pulang ke rumah hingga akhirnya selepas mereka tiba di rumah dan sudah menidurkan Alysa,
kini Ameena mengajak Richi untuk bicara.
“Aku sudah tahu apa yang akan kamu bicarakan denganku, Ameena.”
****
Untari dan Hanif begitu bahagia dengan kelahiran Arsen ke dunia ini, bayi itu menjadi sumber bahagia mereka berdua dan Hanif jadi pulang lebih cepat akibat ingin bermain dengan anaknya itu. Nandhita tentu saja bahagia karena Hanif begitu perhatian pada anaknya dan ia bahkan meninggalkan kebiasaan lemburnya demi bermain dengan Arsen akan tetapi yang membuat Nandhita kesal adalah sikap Hanif dan Untari yang sama-sama kompak mengacuhkannya dan tidak pernah menganggapnya sebagai istri dan menantu di rumah ini padahal Nandhita adalah ibu dari Arsen.
“Hanif, aku ingin bicara denganmu,” ujar Nandhita selepas mereka masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur.
“Aku tidak ingin bicara apa pun denganmu, aku lelah sekali seharian bekerja, lain kali saja kalau mau bicara,” ujar Hanif yang langsung menyelimuti dirinya dengan selimut dan menolak untuk berkontak mata dengan Nandhita.
Tentu saja sikap Hanif yang seperti ini membuat Nandhita geram bukan main, ia merasa Hanif selalu saja mengacuhkannya padahal dirinya adalah istri dan ibu dari Arsen. Nandhita langsung menarik selimut yang
sebelumnya sudah digunakan oleh Hanif untuk membuatnya terasa hangat, sontak saja apa yang Nandhita lakukan ini memicu kemarahan Hanif.
“Apa-apaan kamu ini? Apakah kamu tidak lihat kalau aku baru saja ingin tidur, hah?!”
__ADS_1
“Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku ingin bicara, kenapa kamu malah mengacuhkanku begini, Hanif?”
****
Nandhita berusaha membujuk Hanif untuk tetap tidur dengannya malam ini namun Hanif memilih untuk tidur di kamar tamu, ia bahkan mengunci pintu kamar tersebut supaya Nandhita tidak dapat masuk dan mengacaukan
tidurnya.
“Hanif, buka pintunya.”
Nandhita berusaha menggedor pintu kamar tersebut namun Hanif sama sekali tidak mau membukakan pintu tersebut hingga Untari menghampirinya dan melakukan protes atas apa yang dilakukan oleh Nandhita.
“Apa-apaan kamu ini, Nandhita? Kamu tahu kalau Arsen baru saja tidur dan kamu malah membuat keributan dengan berteriak seperti ini? Hari sudah malam dan jangan mengganggu orang lain yang hendak tidur.”
“Aku terpaksa melakukan semua ini karena Hanif, Ma. Hanif mengacuhkanku.”
“Hanif sudah lelah seharian bekerja di kantor dan ketika pulang tadi dia bermain dengan Arsen, harusnya kamu pahami dia.”
Nandhita berusaha mendebat apa yang dikatakan oleh mertuanya itu namun Untari tidak mau ada perdebatan malam ini, ia justru meminta Nandhita kembali ke kamarnya dan jangan membuat keributan karena hari sudah malam.
“Hari sudah malam dan jangan buat keributan di rumah ini, paham?”
Nandhita kemudian kembali ke kamarnya dengan berat hati sekaligus kesal dengan sikap mama mertuanya ini, akan tetapi ia tidak dapat melawan apa yang diperintahkan oleh Untari barusan.
****
Richi masih berusaha untuk menghubungi nomor Cassandra akan tetapi sayangnya nomor ponsel Cassandra tidak aktif sejak kemarin dan hal tersebut membuat Richi menjadi kesal dibuatnya.
“Kenapa dia tiba-tiba saja tidak mengaktifkan nomor ponselnya?”
Richi berusaha menghubungi nomor tersebut untuk yang ke sekian kalinya namun tetap saja hasilnya nihil, Ameena menghampiri suaminya dan bertanya apa yang terjadi saat ini.
“Bukan apa-apa, Ameena.”
“Soal yang kemarin kita bicarakan, apakah kamu tidak percaya kalau Alysa adalah anakmu?”
“Kamu ini bicara apa Ameena? Tentu saja aku percaya kalau Alysa adalah anakku, kenapa kamu malah menanyakan hal konyol seperti itu?”
__ADS_1
“Aku bertanya begitu karena sepertinya kamu meragukan hal tersebut.”
“Apa?”