Cinta Ameena

Cinta Ameena
Merindukan Wajahmu


__ADS_3

Ameena nampak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh mamanya Hanif mengenai pandangan Ameena pada Hanif, tentu saja walaupun mamanya Hanif sudah mengatakan pada Ameena untuk mengatakan yang sejujurnya tanpa perlu merasa takut akan dihakimi namun Ameena masih merasa ragu untuk mengatakan yang sejujurnya pada mamanya Hanif.


“Kenapa kamu diam saja, Ameena?”


“Oh tidak apa-apa, Ma.”


“Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk katakan saja yang sejujurnya, aku ingin mendengar pengakuan jujur darimu mengenai putraku.”


“Mas Hanif adalah orang yang baik dan penyayang, Ma.”


“Oh benarkah?”


“Iya, dia orang yang baik dan penyayang.”


“Apakah dia hanya menyayangi mendiang Salsabila saja?”


“Tentu saja tidak Ma, dia juga menyayangiku.”


Mamanya Hanif nampak tersenyum dan kemudian ia menggenggam tangan Ameena, mamanya Hanif mengatakan pada Ameena supaya wanita ini bisa bertahan dan bersabar dalam menghadapi sikap Hanif yang kadang sulit


untuk ditebak.


“Iya Ma, terima kasih.”


“Ya sudah, kamu bisa tidur sekarang karena aku pun juga sudah lelah.”


“Iya Ma, aku permisi dulu.”


Ameena kemudian pergi ke kamar dan di sana nampak Hanif yang belum tidur, ketika Ameena masuk ke dalam kamar nampak Hanif menatap tajam ke arahnya dan langsung menanyakan apa saja yang Ameena dan mamanya bicarakan.


“Bukan apa-apa, Mas.”


“Kamu masih mencoba untuk tidak jujur padaku?!”


“Tidak, bukan begitu Mas, hanya saja….”


“Lebih baik kamu mengatakan yang sejujurnya padaku sekarang Ameena!”


Ameena nampak menghela napasnya panjang dan kemudian mengatakan pada Hanif bahwa tadi mamanya membicarakan mengenai pandangan Ameena pada Hanif, tentu saja Hanif nampak penasaran dengan pandangan Ameena pada dirinya di depan sang mama, ia khawatir kalau Ameena akan mengatakan sesuatu hal yang buruk pada mamanya.


“Tidak Mas, aku sama sekali tidak mengatakan hal yang buruk pada Mama, aku mengatakan kalau Mas Hanif adalah orang yang baik dan penyayang.”


“Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong padaku kan?”

__ADS_1


“Tidak Mas, aku mengatakan yang sebenarnya.”


“Baiklah kalau begitu, aku percaya dengan kata-katamu.”


****


Luluk mencoba bicara dengan Pamungkas mengenai nasib Boy di rumah ini namun suaminya itu bekeras bahwa ia sudah mengusir Boy dan Boy telah memilih jalannya sendiri, Luluk masih mencoba membujuk supaya suaminya


membuat Boy bisa kembali ke rumah ini namun Pamungkas sama sekali tidak menggubris apa yang Luluk katakan padanya.


“Apakah kehilangan Salsabila tidak cukup untukmu?”


“Apa maksudmu?”


“Kita sudah kehilangan Salsabila dan sekarang kamu mengusir Boy dari rumah ini, kamu sudah benar-benar keterlaluan Pamungkas, kamu tidak tahu betapa hancurnya hatiku saat mengetahui bahwa saat ini Boy adalah satu-satunya anak kita yang masih hidup namun kamu membuangnya!”


“Bukan aku yang membuangnya Luluk, namun dia sendiri yang memilih untuk pergi dari sini!”


“Kalau begitu seharusnya kamu tidak melakukan itu! Kamu jangan memaksanya untuk bekerja di kantor!”


“Jadi sekarang kamu menyalahkanku atas kepergian Boy?!”


“Iya, kamu memang layak untuk disalahkan!”


Luluk kemudian membuka lemari pakaian dan mengeluarkan kopernya, ia membawa beberapa pakaiannya dan ia tak memberitahu pada suaminya ia hendak pergi ke mana malam ini.


Luluk masih saja sibuk memasukan pakaiannya ke dalam koper tersebut tanpa menggubris pertanyaan dari sang suami hingga membuat Pamungkas geram.


“Aku bicara denganmu, Luluk!”


****


Luluk memutuskan untuk pergi dari rumah ini karena ia sudah tak tahan dengan sikap Pamungkas, Nandhita terkejut ketika melihat tantenya sudah keluar dari dalam kamar dengan membawa koper, Nandhita bertanya


apa yang terjadi pada Luluk namun Luluk mengatakan bahwa ia tidak mau mengatakan apa pun saat ini.


“Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku.”


“Baiklah Tante, kalau memang Tante butuh waktu untuk memikirkan semua ini dan menenangkan diri namun kalau Tante membutuhkan teman untuk curhat, maka Tante dapat menghubungiku kapan saja.”


“Terima kasih banyak Nandhita, Tante pergi dulu.”


“Hati-hati di jalan Tante.”

__ADS_1


Luluk kemudian menarik kopernya keluar dari rumah ini dan masuk ke dalam koper, Nandhita sendiri nampak tak percaya kalau Luluk akan mengambil keputusan seperti ini dan pertengkaran mereka berdua sampai membuat


Luluk pergi.


“Pasti mereka tadi bertengkar dengan hebat sekali dan sulit menemukan jalan tengah.”


Luluk tiba di hotel dan dengan dibantu oleh petugas hotel ia diantarkan menuju ke kamarnya, ketika ia sudah ada di dalam kamar itu dirinya terduduk di tepian kasur dan menangis tersedu-sedu dengan sikap suaminya yang membuang Boy dari kehidupan mereka.


“Sudah cukup menyakitkan kehilangan Salsabila namun kamu malah ingin juga membuang Boy dari kehidupan kita, bagaimana bisa kamu melakukan itu?”


****


Ameena dan Hanif pindah ke apartemen Hanif yang ada di pusat kota Oslo, Hanif sudah langsung pergi bekerja hari ini juga dan meninggalkan Ameena sendirian di apartemen tanpa mengatakan sepatah kata pun. Hanif telah


memberikan kartu SIM pada Ameena supaya wanita itu bisa menelpon atau mengakses internet, Ameena kini bisa melihat banyaknya pesan lewat aplikasi yang bermunculan di sana dan salah satunya yang menarik perhatiannya adalah Boy.


“Kenapa Tuan Boy menelponku, ya?”


Ameena kemudian mencoba untuk menelpon Boy namun sayangnya Boy tidak menjawab telepon darinya.


“Mungkin saja sat ini dia sedang sibuk.”


Ameena kemudian mencoba untuk membersihkan apartemen Hanif yang nampak agak sedikit berantakan karena kemarin malam mereka baru tiba dan belum sempat membereskan apartemen ini. Hanif sudah mengajari Ameena


bagaimana cara menggunakan pemanas ruangan karena cuaca di luar sudah mulai dingin akibat musim dingin yang sebentar lagi tiba.


“Tidak ada bahan makanan lagi di kulkas, bagaimana bisa aku memasak untuk makan malam?” gumam Ameena.


Ameena baru ingat bahwa ia tidak diberikan uang oleh Hanif untuk berbelanja kebutuhan makanan karena ia baru menyadarinya sekarang bukannya sebelum Hanif pergi bekerja.


“Apakah aku harus menelponnya sekarang?” gumam Ameena.


Saat Ameena hendak menelpon Hanif, Boy menelponnya dan langsung saja Ameena menjawab telepon dari Boy.


“Halo Tuan?”


****


Boy bercerita pada Ameena bahwa dirinya kini sudah tidak lagi tinggal di rumah keluarganya dan tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana, ia diterima bekerja sebagai pelayan restoran dengan pekerjaan sampingan sebagai seorang penyanyi di sebuah café selain itu ia juga bisa memainkan alat musik untuk menghibur beberapa tamu yang datang di hari-hari tertentu. Boy pun bertanya pada Ameena mengenai bagaimana hari-hari Ameena di


Norwegia, Ameena nampak berusaha menutupi sikap Hanif padanya selama di Norwegia karena tidak ingin Boy berpikiran macam-macam pada suaminya.


“Bolehkah kita melakukan video call saja?”

__ADS_1


“Apa? Kenapa demikian Tuan?”


“Karena aku merindukan wajahmu, apakah kamu keberatan Ameena?”


__ADS_2