Cinta Ameena

Cinta Ameena
Hasil yang Dinanti


__ADS_3

Pada akhirnya Nandhita pun bergergas menuju sebuah alamat yang diberikan oleh Hanif padanya saat ini dan alamat yang Hanif berikan itu ternyata adalah rumahnya yang ada di Indonesia dan tentu saja Nandhita dengan senang hati datang ke sana untuk menemui pria yang ia cintai tersebut.


“Jadi kenapa kamu mau bertemu denganku?” tanya Nandhita saat ia sudah tiba di sana.


“Aku ingin kamu segera memberikan klarifikasi bahwa semua berita yang beredar di media tidaklah benar,” jawab Hanif.


Nandhita nampak tertawa mendengar ucapan Hanif barusan, tentu saja Nandhita menolak apa yang Hanif perintahkan sampai Hanif mau menikahinya.


“Kamu sudah benar-benar kehilangan akal sehatmu, Nandhita.”


“Iya, kamu memang benar, aku sudah kehilangan akal sehatku dan oleh sebab itu maka aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan dan kamu harus menurutinya.”


“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menuruti apa yang kamu inginkan, aku sama sekali tidak mencintaimu, apakah bahasaku tidak cukup jelas untuk membuatmu mengerti?!”


Namun Nandhita masih berkeras hati, ia tak akan melakukan seperti apa yang Hanif inginkan sampai pria ini mau menikah dengannya, Hanif tentu saja geram dan mengancam akan melakukan sesuatu hal yang buruk pada


Nandhita jika ia tak melakukan seperti apa yang ia perintahkan.


“Silakan saja, kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? Asal kamu tahu saja Hanif, kalau kamu ingin melakukan sesuatu hal yang buruk padaku maka pikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari semua itu, kamu juga akan


hancur.”


Hanif nampak mengepalkan tangannya geram dengan ucapan Nandhita barusan sementara Nandhita nampak menyeringai puas karena sudah berhasil membuat Hanif menciut, Nandhita pun berjalan mendekati Hanif dan


mengatakan pada pria itu akan jauh lebih baik sekarang juga ia menuruti apa yang ia inginkan.


“Dari pada perusahaanmu akan ditinggalkan oleh pemegang saham dan investor karena citra buruk yang ditimbulkan oleh pemberitaan ini, maka bukankah lebih baik kamu mengikuti apa yang aku katakan?”


****


Nandhita kembali ke rumah selepas pembicaraan dengan Hanif barusan, ia begitu senang karena bisa membuat Hanif tak bisa mengelak darinya. Nandhita akan terus melakukan ini sampai ia mendapatkan apa yang ia


inginkan namun ketika dirinya tiba di rumah, Nandhita secara tak sengaja mendengar pembicaraan antara Luluk dan Boy yang menyangkut soal rencana Boy untuk menikahi Ameena, tentu saja Nandhita terkejut bukan main saat


mendengarnya.


“Apakah aku barusan tidak salah mendengar?” lirih Nandhita.

__ADS_1


Nandhita terkejut ketika sosok Boy muncul tepat di depannya selepas bicara dengan Luluk barusan, Boy sendiri nampak menatap tajam Nandhita dan mengintrograsi wanita ini apa yang tengah dilakukannya.


“Aku baru saja pulang dan kebetulan melintas di sini.”


“Benarkah? Berarti kamu sudah mendengar semua yang tadi aku dan mama bicarakan kan?”


“Apa maksudmu, Boy?”


“Kamu tak perlu mengelak Nandhita, aku tahu bahwa kamu tadi sempat mendengar apa yang aku dan mama bicarakan.”


“Ada apa ini? Kok ribut-ribut di depan sini?” tanya Luluk yang membuat Nandhita dan Boy berhenti bertengkar.


“Mama tanyakan saja pada wanita ini,” jawab Boy yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Selepas Boy pergi kini Luluk bertanya pada Nandhita apa yang barusan terjadi dan Nandhita pun menceritakan bahwa tadi dirinya tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Luluk dan Boy soal rencana pernikahan Boy


dan Ameena.


“Apakah semua itu benar, Tante?”


****


awalnya sudah tak tertarik dengan wanita ini semakin tidak tertarik dengan kelakuan Cassandra yang membuatnya tidak nyaman.


“Lama tidak berjumpa, Nak.”


“Iya Tante, selama beberapa pekan ini aku ada di Inggris karena nenek sedang sakit.”


“Oh begitu, semoga saja nenekmu cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala, ya?”


“Terima kasih doa baiknya Tante.”


Cassandra nampak memanggil Boy yang sedang melintas di depan mereka dan mengajak Boy untuk turut serta dalam obrolan ini namun Boy menolaknya dengan alasan bahwa ia ada urusan.


“Boy, kemarilah temui Cassandra sebentar,” ujar mamanya.


Boy pun menghela napasnya dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh sang mama barusan, Cassandra girang bukan main saat pria yang ia sukai itu kini duduk tidak jauh darinya, Cassandra nampak begitu bersemangat untuk

__ADS_1


membuka obrolan dengan Boy namun sayangnya Boy sama sekali tak tertarik dengan hal tersebut.


“Maaf, seperti apa yang telah aku katakan sebelumnya, aku masih memiliki urusan yang harus aku kerjakan sekarang.”


****


Cassandra nampak kesal karena merasa diabaikan oleh Boy, ia pun bertanya pada Luluk mengenai apakah saat ini Boy sudah dekat dengan orang lain. Luluk pun mengatakan bahwa ada seorang wanita yang sangat dicintai


oleh Boy dan oleh sebab itu Boy menutup hatinya untuk wanita lain.


“Benarkah? Aku jadi penasaran siapa wanita itu, Tante?”


Kebetulan sekali sosok Ameena muncul di depan mereka untuk menyajikan minuman untuk Cassandra, Luluk pun memperkenalkan Ameena pada Cassandra sebagai wanita yang Boy cintai, sontak saja Cassandra dan Ameena


terkejut bersamaan akibat ucapan Luluk barusan.


“Apa maksud Tante? Wanita ini?” tanya Cassandra tak percaya.


“Iya Cassandra, namanya Ameena, dia wanita yang dicintai oleh Boy.”


Ameena merasa tak nyaman dengan situasi ini, ia pun kemudian berpamitan untuk kembali ke belakang, selepas Ameena pergi nampak Cassandra meminta Luluk untuk tidak bercanda dan Luluk mengatakan bahwa dirinya


memang sedang tidak bercanda saat ini.


“Untuk apa Tante bercanda sayang? Tante mengatakan hal yang sebenarnya, Ameena memang wanita yang dicintai oleh Boy.”


“Tapi wanita itu siapa? Apakah dia adalah asisten rumah tangga di rumah ini?”


Luluk menceritakan latar belakang Ameena pada Cassandra dan kebencian terlihat jelas di raut wajah Cassandra saat mendengar cerita Luluk ini, ambisinya untuk mendapatkan Boy semakin besar dan ia tak akan membiarkan Ameena menang darinya.


****


Nandhita nampak harap-harap cemas saat menunggu hasil test pack yang ia beli tadi di dalam kamar mandi, ia merasa ada tanda-tanda bahwa saat ini dirinya sedang mengandung dan ia harap bahwa apa yang ia harapkan ini


memang benar terjadi.


“Semoga saja aku hamil,” lirihnya sambil terus berdoa hingga akhirnya setelah menunggu beberapa menit ia pun mengambil test pack tersebut untuk melihat hasilnya.

__ADS_1


Senyum sumringah terlihat pada bibir Nandhita saat melihat hasil test pack ini, ternyata ia positif mengandung dan ia sengaja mengirimkan foto hasil test pack itu pada Hanif supaya pria itu juga tahu kabar bahagia ini.


“Akhirnya sebentar lagi Hanif akan benar-benar jadi milikku.”


__ADS_2