Cinta Ameena

Cinta Ameena
Mereka Tak Lagi Di Sini


__ADS_3

Nandhita pulang ke rumah dengan membawa perasaan kesal bukan main karena tahu Ameena sedang hamil, ia tak menyangka kalau Ameena sedang hamil dan yang lebih membuatnya kesal adalah Luluk sepertinya melindungi


kehamilan Ameena padahal ini adalah waktu yang tepat jika ingin membuat Ameena celaka.


“Kenapa kamu begitu marah saat kembali ke rumah?” tanya Untari yang melihat menantunya ketika kembali ke rumah justru malah cemberut.


“Wanita itu, dia sedang positif hamil,” jawab Nandhita kesal.


“Siapa yang sedang kamu bicarakan ini, Nandhita?” tanya Untari yang belum paham siapa yang dibicarakan oleh Nandhita.


“Tentu saja Ameena, wanita itu sedang hamil dan yang membuatku lebih kesal adalah tante Luluk seperti melindungi kehamilan Ameena.”


Untari tentu saja terkejut mendengar kabar bahwa Ameena sudah hamil, tentu saja ia ingin segera mengetahui kabar bahagia itu langsung dari Ameena. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Untari langsung pergi meninggalkan Nandhita yang kesal karena mama mertuanya malah mengacuhkannya di saat dirinya tengah kesal.


“Bagus sekali, dia malah pergi meninggalkanku di sini,” geram Nandhita.


Untari masuk ke dalam kamarnya dan kemudian mencoba menghubungi Ameena, ia ingin tahu secara langsung dari Ameena apakah yang dikatakan oleh Nandhita itu adalah sesuatu hal yang benar atau tidak. Butuh waktu


beberapa saat sampai Ameena menjawab telepon darinya dan Untari pun langsung menanyakan kabar bahagia itu.


“Iya Ma, aku memang sekarang sedang positif mengandung.”


“Syukurlah, Mama bahagia mendengarnya, Nak.”


“Iya Ma, aku juga sangat bersyukur karena akhirnya diberikan keturunan.”


“Kamu harus menjaga anak itu baik-baik Ameena.”


“Iya Ma, aku akan menjaga anak ini dengaan baik.”


Diam-diam Nandhita menguping apa yang Untari dan Ameena bicarakan di pintu depan kamar, Nandhita tentu saja kesal setengah mati karena mama mertuanya malah memerhatikan kehamilan Ameena dibandingkan dirinya.


“Ameena, awas saja kamu,” geram Nandhita.


****


Hanif baru saja tiba di rumah dan Untari langsung menceritakan bahwa Ameena saat ini tengah mengandung, Hanif tentu saja terkejut dan tak percaya dengan apa yang sang mama katakan barusan karena ia merasa itu tidak mungkin.


“Kenapa tidak mungkin? Ameena kan sudah menikah dengan Richi.”


Hanif baru ingat kalau sekarang Ameena sudah menikah dengan pria itu, akan tetapi Hanif merasa kesal sekali karena mendengar berita kehamilan Ameena, seperti ada sesuatu hal yang membuatnya begitu emosi saat


mendengar kabar bahagia itu.


“Hanif, kamu baik-baik saja?”


“Oh, aku hanya lelah saja setelah seharian ini bekerja.”


“Lebih baik kamu segera mandi dan istirahat.”

__ADS_1


“Iya Ma, aku ke kamar dulu.”


Hanif pun kemudian berjalan menuju kamarnya dan Nandhita, ketika ia tiba di kamar nampak Nandhita sudah menantinya di atas ranjang dan kemudian Nandhita pun turun dari ranjang dan menghampirinya.


“Kamu sudah pulang sayang? Aku merindukanmu,” ujar Nandhita yang bersikap manja pada Hanif.


“Apakah kamu sudah mendengar kabar kalau Ameena mengandung?”


Mood Nandhita seketika hancur saat Hanif mengungkit soal Ameena, tentu saja Nandhita tidak suka kalau nama wanita itu disebut di depan wajahnya.


“Kamu paling bisa menghancurkan suasana hati seseorang, ya?”


“Jadi sepertinya kamu sudah tahu akan berita itu.”


“Tentu saja aku sudah tahu karena tante Luluk sendiri yang menceritakannya denganku dan kamu tahu apa yang membuatku bertambah kesal? Tante Luluk sekarang melindungi Ameena.”


****


Richi bicara pada Ameena bahwa ia sudah mengontrak sebuah rumah yang letaknya tidaklah jauh dari tempat kerjanya dan ia meminta Ameena untuk mereka dapat pindah ke sana karena ia ingin menjelang hari kelahiran anak mereka, Richi dan Ameena memiliki ruang tersendiri.


“Apakah kamu yakin nyonya Luluk akan mengizinkannya?”


“Kalau kamu ragu untuk bicara dengannya, maka aku saja yang bicara.”


“Tidak, biar aku saja yang bicara.”


“Iya, aku akan bicara dengan nyonya Luluk, semoga saja nyonya Luluk mau menerima semua ini.”


Maka keesokan harinya Ameena dan Richi bicara dengan Luluk mengenai rencana mereka pindah dari rumah ini, Luluk nampak sama sekali tidak keberatan seperti yang mereka takutkan justru malah Luluk menawarkan rumah kontrakan untuk mereka.


“Tidak perlu Nyonya, saya sudah punya rumah kontrakan yang siap kami huni,” ujar Richi.


“Oh itu bagus, apakah letaknya jauh dari sini?” tanya Luluk.


“Iya, rumahnya dekat dengan tempat kerja saya,” jawab Richi.


“Kalau begitu sangat jauh dari sini untuk Ameena dapat bekerja.”


“Saya bisa naik angkutan umum untuk datang ke sini Nyonya,” ujar Ameena.


“Jangan Ameena, aku akan mengantarmu ke sini,” tolak Richi.


“Apa yang suamimu katakan itu bagus Ameena, dia melakukan itu karena tidak mau calon anak kalian kenapa-kenapa.”


Akhirnya selepas pembicaraan singkat itu Ameena dan Richi pun pamit dari hadapan Luluk untuk melanjutkan aktivitas mereka.


****


Ameena dan Richi merasa bersyukur karena rupanya Luluk bisa dengan mudahnya menerima saran dari mereka karena sebelumnya Luluk begitu sangat ngotot memertahankan Ameena untuk tetap tinggal di rumah ini.

__ADS_1


“Semoga saja ini adalah awal dari kebahagiaan kita berdua Ameena,” ujar Richi bahagia.


“Semoga saja begitu.”


Ameena dan Richi kemudian mengemasi pakaian mereka masuk ke dalam koper sementara itu Boy yang tidak sengaja melintas di depan kamar mereka nampak terkejut saat mereka berdua memasukan pakaian ke dalam


koper.


“Kalian mau pergi ke mana?” tanya Boy penasaran.


“Kami akan pindah ke rumah baru,” jawab Richi.


“Rumah baru?”


“Iya, kami sudah bicara pada nyonya Luluk dan beliau setuju akan hal tersebut.”


“Oh benarkah?”


“Kalau kamu tidak percaya padaku, silakan kamu tanyakan sendiri pada beliau.”


Namun Boy justru sama sekali tidak menyimak ucapan Richi barusan karena fokusnya justru pada Ameena.


“Apa yang kamu rasakan saat ini Ameena? Apakah perutmu terasa sakit atau ada sesuatu yang kamu butuhkan sebelum pergi?”


“Kenapa kamu begitu perhatian pada istriku?” tanya Richi yang tak suka dengan perhatian yang Boy berikan.


“Apakah aku salah? Aku hanya tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada calon anak kalian.”


****


Ameena dan Richi sudah pergi dari rumah Luluk menuju rumah kontrakan baru yang sudah dibayar oleh Richi, selepas mereka pergi justru Hanif muncul seorang diri di rumah ini dan membuat Luluk terkejut karena tak


menyangka mantan menantunya ini datang ke rumah.


“Halo sayang.”


“Halo Ma.”


“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Luluk penasaran karena sejak tadi Hanif seperti tengah mencari sesuatu.


“Anu, aku mendengar bahwa Ameena saat ini sedang mengandung, apakah itu benar?”


“Oh tentu saja itu benar sayang, sekarang Ameena memang sedang mengandung.”


“Lalu dia di mana sekarang? Kok sejak tadi aku tak melihatnya?”


“Oh tentu saja kamu tidak melihatnya karena dia dan suaminya sudah tidak lagi tinggal di sini.”


“Apa maksud Mama?!”

__ADS_1


__ADS_2