
Richi nampak terus menerus menghadang Ameena dan menanyakan di mana kini Ameena tinggal hingga membuat Ameena menjadi tidak nyaman, ia pun mengatakan pada Richi bahwa sebaiknya mulai sekarang Richi tak perlu mengganggu dirinya lagi.
“Kenapa kamu mengatakan itu, Ameena? Aku bertanya karena aku peduli padamu.”
“Namun aku merasa tidak nyaman dengan sikapmu yang seperti ini Richi.”
“Apakah karena kamu masih marah padaku atas apa yang telah aku lakukan padamu di masa lalu?”
“Tidak ada hubungannya dengan masa lalu.”
“Lantas apa? Kenapa kamu seperti mengabaikanku begini? Aku sangat khawatir padamu Ameena.”
Ameena menghela napasnya panjang, ia berterima kasih pada Richi karena sudah mau peduli padanya namun Ameena mengatakan pada Richi bahwa dirinya baik-baik saja jadi Richi tak perlu mengkhawatirkannya.
“Namun tolong kamu katakan di mana kamu tinggal Ameena.”
“Maaf, tapi aku tak dapat mengatakannya, Richi.”
Ameena pun bergegas pergi meninggalkan Richi namun pria itu masih saja membuntuti Ameena seperti yang pernah ia lakukan dulu untuk mencari tahu di mana Ameena tinggal, Ameena menghela napasnya panjang dengan
kelakuan pria itu yang masih saja belum mau menyerah mencari tahu di mana tempat tinggalnya sekarang.
“Kenapa kamu begitu keras kepala, Richi?”
“Siapa pria itu kalau boleh Bibi tahu?” tanya asisten rumah tangga ketika Ameena dan dirinya sudah masuk ke dalam mobil.
“Oh dia itu temanku, Bi,” jawab Ameena.
“Teman? Jangan-jangan dia pacar kamu lagi.”
“Tidak Bi, dia bukan pacarku, mana mungkin aku menjalin hubungan dengan pria lain setelah aku baru bercerai dari mas Hanif?”
“Iya juga sih, rasanya sangat tidak mungkin kalau Bibi pikir-pikir lagi.”
Akhirnya mobil yang membawa Ameena tiba juga di rumah Luluk, Ameena segera turun dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam bersama bibi untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga ini sementara Richi nampak senang karena akhirnya tahu di mana Ameena tinggal.
“Akhirnya aku tahu di mana kamu tinggal Ameena,” lirih Richi.
****
Ameena nampak bingung untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di supermarket hingga memengaruhi dirinya dalam bekerja di dapur saat ini menjadi kurang teliti, Luluk pun kemudian meminta Ameena untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
__ADS_1
“Ada apa, Ameena?”
“Anu Nyonya, sebenarnya ada sesuatu yang terjadi tadi di supermarket.”
“Oh benarkah? Apa itu kalau aku boleh tahu?”
Ameena menceritakan bagaimana dirinya dan Richi bisa bertemu dan kini Richi sudah mengetahui dirinya tinggal di rumah ini, Luluk sendiri nampak penasaran dengan siapa Richi itu dan Ameena memberitahu siapa pria tersebut. Luluk kini paham siapa itu Richi dan ia meminta Ameena untuk jangan mengkhawatirkan soal pria itu.
“Pria itu tidak akan dapat mengganggumu selama kamu tinggal di sini, tenang saja.”
“Iya Nyonya, terima kasih banyak.”
Luluk kemudian tersenyum pada Ameena sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Ameena yang kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur, tidak lama setelahnya nampak Boy baru saja tiba di rumah dan Luluk pun
menceritakan apa yang terjadi pada Ameena di supermarket itu pada putranya dan tentu saja seperti yang sudah Luluk duga bahwa Boy pasti marah saat tahu Ameena bertemu dengan Richi.
“Mama serius?”
“Ameena sendiri yang menceritakannya pada Mama barusan.”
Maka tanpa membuang banyak waktu nampak Boy langsung mencari di mana keberadaan Ameena, Luluk nampak menyeringai dengan begini ia yakin pasti Boy akan semakin ingin membuat Ameena menjadi miliknya.
****
“Apa itu Tuan?”
“Soal Richi, apakah itu benar?”
“Iya, soal Richi itu memang benar adanya.”
Boy nampak tak dapat menyembunyikan raut wajah marahnya saat tahu Ameena bertemu dengan Richi di supermarket itu, Boy mengatakan pada Ameena bahwa seharusnya Ameena tak perlu bertemu dengan pria
itu namun Ameena mengatakan bahwa pertemuan itu bukanlah sesuatu hal yang disengaja, lagi pula ia sama sekali tidak tertarik pada Richi.
“Sejujurnya Ameena, aku risau sekali kalau kamu akan jatuh cinta padanya.”
“Tuan ini bicara apa? Itu hanya masa lalu saja, sekarang aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun pada Richi.”
“Tapi bisa saja kan kalau suatu saat nanti setelah kalian bertemu terlalu sering maka rasa cinta yang pernah ada itu kembali?”
“Itu rasanya tidak mungkin Tuan, saya tidak mungkin akan kembali padanya.”
__ADS_1
“Karena kamu mencintai mas Hanif kan?”
Ucapan Boy tersebut membuat Ameena tertunduk, ia tak berani menatap pria itu sementara Boy sendiri pun nampak begitu sedih karena Ameena masih belum dapat melupakan mantan suaminya itu.
****
Pamungkas datang ke rumah Luluk untuk bicara dengan sang mantan istri dan melepas rindu dengannya namun Luluk sama sekali tidak menyukai Pamungkas datang ke tempatnya ini, ia bersikap ketus pada sang mantan
suami dan ia bahkan tak sudi berlama-lama menjamu Pamungkas di rumah ini.
“Kalau memang tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan maka silakan pergi dari rumahku ini.”
“Luluk tolonglah kamu jangan bersikap judes begini.”
“Aku tidak suka kamu datang tanpa pemberitahuan seperti ini, lebih baik sekarang juga kamu pergi.”
“Luluk, aku datang ke sini dengan niatan yang baik, aku ingin mengajak Boy kembali bergabung di perusahaan.”
“Tapi sayangnya Boy sama sekali tidak tertarik akan hal itu.”
“Luluk, kamu bisa kan mendorongnya supaya dia mau kembali ke perusahaan?”
“Maaf, soal itu aku tidak mau ikut campur, selama anakku berada di dekatku apa pun pekerjaannya aku akan selalu mendukungnya.”
Pamungkas nampak menahan kesal dengan ucapan Luluk barusan yang sangat sulit sekali untuk diajak melakukan kompromi.
“Percuma saja kan kamu datang ke sini dan bicara denganku? Sudahlah Pamungkas, dari pada membuang waktumu yang sangat berharga maka alangkah jauh lebih baiknya kamu pergi saja sekarang juga.”
“Aku tidak akan pergi Luluk, aku harap kita bisa kembali seperti dulu lagi.”
****
Nandhita nampak menyeringai saat video panasnya dengan Hanif ia sengaja unggah di internet supaya Hanif dan keluarganya tahu bahwa ia tidak main-main dengan ancamannya, ia hanya tinggal menunggu sampai Hanif
menghubunginya dan benar saja tidak lama setelah video itu viral di internet maka Hanif pun segera menghubungi Nandhita.
“Halo Hanif?”
“Apa maksudmu mengunggah video asusila itu ke internet? Apakah kamu sudah kehilangan akal sehat?”
“Iya, aku memang sudah kehilangan akal sehat dan akan melakukan apa pun untuk membuatmu menjadi milikku, Hanif.”
__ADS_1
“Kamu sakit Nandhita.”
“Terserah kamu mau mengataiku apa, aku hanya ingin dirimu untuk menjadi milikku selamanya.”