
Tentu saja ini adalah kali pertama Hanif mengetahui yang sebenarnya bahwa Alysa bukanlah anak kandung Richi melainkan Boy, Hanif merasa kesal dan marah pada Boy karena sudah berani melakukan hal yang tidak baik
pada Ameena saat Ameena sudah menikah dengan pria lain namun di sisi lain ia juga sadar diri bahwa dia bukanlah suami Ameena lagi dan tak berhak untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga mantan istrinya itu.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan Nandhita, Hanif?”
“Iya Ma?”
“Kamu sejak tadi tidak menyimak apa yang Mama bicarakan, ya?”
“Maaf, tadi Mama tanya apa?”
“Mama bertanya soal Nandhita, apakah kamu dan dia ada masalah?”
Hanif mengatakan pada Luluk bahwa hubungannya dengan Nandhita tidak ada masalah dan baik-baik saja akan tetapi Luluk justru mengatakan yang sebaliknya, ia mendengar dari Arsen bahwa papa dan mamanya tidak baik bahkan beberapa kali bertengkar.
“Anakmu tidak mungkin berbohong kan?”
Hanif menghela napasnya panjang, Hanif mengatakan pada Luluk bahwa memang beberapa kali ia dan Nandhita mengalami pertengkaran namun mereka bersuaha tidak menunjukannya di depan Arsen.
“Mama tahu itu, kamu berusaha menjadi papa yang baik untuk Arsen dan menurut Mama kamu sudah melakukannya dengan baik, Salsabila pasti senang di sana karena akhirnya melihatmu memiliki seorang anak.”
Entah kenapa suasana berubah menjadi kelabu saat Luluk menyebut nama mendiang putrinya yang sudah meninggal dunia, Hanif pun meminta Luluk untuk jangan mengatakan itu karena tak mau membuat mama mertuanya ini sedih.
“Sejujurnya beberapa waktu belakangan ini Mama merindukannya dan juga Mama mendatangi pemakamannya untuk memanjatkan doa.”
“Iya Ma, aku juga beberapa kali datang ke sana karena aku merindukannya, walaupun aku sudah menikah dengan Nandhita namun Salsabila tetaplah cinta pertama dan terakhirku.”
Akhirnya Hanif pun mengajak Arsen untuk pulang namun anaknya itu menolak karena masih mau bermain dengan Alysa.
“Sayang besok kan kamu sekolah,” ujar Hanif yang berusaha memberitahu anaknya.
__ADS_1
“Besok sepulang sekolah kamu ke sini lagi, sayang,” ujar Luluk.
****
Boy kemudian mengantarkan Alysa menuju rumah kontrakan Richi, Alysa sudah terbiasa menyebut Boy dengan sebutan papa sejak ia masih kecil dan tentu saja awalnya Richi dan Ameena keberatan dengan panggilan papa
itu namun lama kelamaan mereka membiarkan Alysa untuk memanggil Boy dengan sebutan papa dan baru Ameena tahu yang sebenarnya mengenai kenapa Boy bersedia dipanggil papa oleh Alysa.
“Kita sudah sampai, Nak.”
“Terima kasih Pa.”
Boy mengantarkan Alysa untuk masuk ke dalam rumah dan di sana mereka disambut oleh Richi yang sudah menatap Boy tajam, Richi meminta untuk Alysa masuk ke dalam karena ada sesuatu hal yang perlu mereka bicarakan saat ini. Selepas Alysa masuk ke dalam rumah barulah Boy bertanya pada Richi apa yang ingin dibicarakan oleh pria ini.
“Kamu benar-benar kurang ajar.”
Richi hendak memukul Boy namun sebelum Richi melakukan itu, tangan pria itu sudah ditahan oleh Boy dan Boy sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan Richi yang begitu tajam menatapnya seolah siap untuk
“Apakah Ameena sudah menceritakan semuanya padamu mengenai kebenarannya?”
“Mustahil sekali kalau Alysa adalah anak kandungmu, kenapa kamu tega melakukan itu?!”
“Karena aku ingin melihat kalian menderita saat tahu Alysa bukanlah anak kandungmu, Richi namun selepas mendengar kalau ternyata saat itu kamu tidak benar-benar melakukan hal itu pada Ameena maka aku merasa bersalah sudah melakukan itu pada Ameena.”
****
Hubungan keluarga Richi dengan Boy memburuk setelah pengungkapan rahasia itu, Richi tidak mengizinkan Ameena maupun Alysa untuk bertemu dengan Boy maupun Luluk lagi, Ameena tentu saja tidak dapat membantah perintah suaminya ini karena tidak mau membuat Richi bertambah marah padanya. Richi memang tidak pernah berbuat kasar padanya setelah tahu apa yang terjadi pada Ameena namun Ameena dapat merasakan kalau sikap Richi padanya berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
“Richi ….”
“Jangan pergi ke mana pun, aku tidak mengizinkan kamu maupun Alysa keluar rumah hari ini.”
__ADS_1
Ameena kemudian tidak jadi mengatakan apa keinginannya pada sang suami, ketika itu pintu rumah mereka diketuk dari luar dan Richi pun kemudian berjalan menuju pintu untuk melihat siapa orang yang datang ke rumah
mereka pada siang hari ini. Alangkah terkejutnya ia ketika menemukan sosok Boy yang berdiri di depan pintu, tentu saja emosi Richi tersulut dan ia pun meminta Boy untuk segera pergi dari rumah ini sebelum emosinya meledak.
“Apakah kamu pikir aku akan melakukan seperti apa yang kamu perintahkan barusan? Aku datang ke sini karena mamaku menyuruhku membawa Alysa ke rumah.”
“Kamu tidak memiliki hak untuk mengambil anakku, Boy! Sekarang juga pergilah dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapan keluarga kami karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkan Ameena maupun Alysa untuk bertemu denganmu.”
****
Boy tentu saja tidak mau melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Richi maka terjadilah keributan di sana yang membuat Ameena keluar rumah untuk melerai pertengkaran mereka, Richi sama sekali tidak menyukai Ameena keluar dari dalam rumah padahal ia tadi sudah menyuruh Ameena untuk tetap di dalam.
“Apakah kamu memang sengaja untuk bertemu dengan pria ini, Ameena? Hingga kamu memilih untuk keluar dari dalam rumah dan tidak menuruti apa yang suamimu perintahkan?!”
“Aku keluar karena takut kamu melakukan hal yang buruk pada tuan Boy, Richi. Kalau kamu membuat celaka tuan Boy maka kamu sendiri yang akan rugi karena akan berhadapan dengan polisi.”
“Aku sama sekali tidak takut dengan semua uang dan koneksi yang dia miliki, sampai kapan pun dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang ia inginkan!”
Boy nampak menyeringai mendengar ucapan Richi barusan yang seolah sangat percaya diri sekali bahwa Boy tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan saat ini.
“Aku suka sekali rasa percaya dirimu, Richi, mari kita buktikan nanti.”
****
Nandhita tiba di rumah setelah menghabiskan waktu dengan Jose, hubungan Nandhita dengan Jose berjalan dengan baik bahkan mereka sekarang diam-diam mulai menjalin hubungan di belakang Hanif. Nandhita sudah
mengutarakan perasaannya pada Jose 3 tahun lalu dan awalnya Jose terkejut sekali saat Nandhita bilang kalau ia menyukainya dan ingin menjadi kekasihnya. Jose juga sempat menjauhi Nandhita namun berkat semua bujuk rayu wanita itu maka Jose pun akhirnya bertekuk lutut dan mau menjadi simpnan Nandhita.
“Dari mana saja kamu? Apakah kamu baru saja menemui simpananmu itu?” tanya Untari tajam saat melihat menantunya datang.
“Kenapa Mama ini selalu saja berburuk sangka padaku?”
__ADS_1
“Karena itulah kenyataannya, kamu pikir walaupun aku hanya di rumah saja maka aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana? Selama ini aku sudah cukup sabar dalam menghadapi kelakuanmu namun kali ini aku benar-benar sudah habis kesabaran dan akan meminta Hanif untuk menceraikanmu!”