
Ameena sama sekali tidak merasa terkejut ketika melihat Boy ada di depan rumahnya karena ia sendiri telah menduga tidaklah mudah bagi Boy untuk menerima keputusannya untuk berhenti bekerja dari rumah itu. Hanif pun kemudian berpamitan pada Ameena sebelum masuk ke dalam mobilnya dan ketika Ameena hendak berbalik badan untuk masuk ke dalam rumah nampak Boy berusaha menhanannya.
“Kenapa Tuan Boy datang lagi ke sini? Bukankah sebelumnya saya sudah pernah mengatakan jangan pernah menemui saya lagi sebelum saya yang memintanya?”
“Ameena, apakah semua harus berakhir seperti ini?”
“Saya tidak mengerti apa yang sedang Tuan bicarakan ini, akan tetapi satu hal yang perlu Tuan ketahui bahwa saya sama sekali tidak suka kalau Tuan datang ke sini.”
“Jadi sebenci itu kamu padaku, Ameena?”
Ameena tidak menjawab pertanyaan Boy barusan dan memilih untuk segera masuk ke dalam rumah, Boy tentu saja berusaha sekuat tenaga untuk menahan Ameena supaya mau bicara dengannya namun usaha Boy itu
tidak berhasil membuat Ameena mau bicara padanya karena saat ini Ameena langsung masuk ke dalam rumah. Boy berusaha memanggil dan mengetuk pintu rumah Ameena berharap kalau wanita itu mau membukakan pintu untuknya akan tetapi Ameena benar-benar tidak mau melakukannya.
“Ameena, tolong buka pintunya.”
Ameena bergeming dan tetap membiarkan Boy ada di sana hingga membuat pria itu akhirnya menyerah, Boy pun pulang ke rumah dengan perasaan kecewa karena tidak dapat bicara dengan Ameena padahal ia ingin sekali
bicara dengan wanita itu saat ini. Ketika tiba di rumah, Luluk yang sedang berada di ruang tengah nampak memerhatikan raut wajah Boy yang kusut selepas pergi keluar barusan, walaupun Boy tidak mengatakan mau pergi ke mana barusan namun Luluk yakin bahwa barusan Boy berusaha pergi menemui Ameena dan kalau raut wajah Boy seperti itu maka pasti sesuatu hal yang tidak mengenakan terjadi pada anaknya.
“Berhasil menemui Ameena?” tanya Luluk.
“Tidak, dia menghindariku,” jawab Boy.
****
Keesokan harinya Hanif menelpon Boy dan mengajak Boy untuk bertemu di sebuah café yang dekat dengan kantor Hanif. Boy sendiri nampak tidak menolak ajakan bertemu Hanif tersebut hingga akhirnya ia tiba di sana dan
melihat Hanif telah menunggunya di sebuah meja, pengunjung café ini tidaklah banyak hingga memudahkan dirinya untuk menemukan di mana Hanif berada.
“Mas Hanif.”
“Duduklah, Boy.”
Boy melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Hanif barusan, Boy tentu saja penasaran dengan apa yang membuat Hanif sampai ingin menemuinya di sini namun ia masih menahan diri untuk tidak bertanya secara
__ADS_1
langsung pada Hanif mengenai apa maksud dan tujuan Hanif mengundangnya ke sini.
“Bagaimana kalau kita pesan sesuatu dulu sebelum bicara?” tawar Hanif.
“Aku ikut saja,” jawab Boy.
Maka Hanif pun memesan minuman untuk mereka pada seorang pelayan, selepas pelayan itu pergi Hanif menghela napasnya panjang sebelum akhirnya ia membicarakan apa maksud serta tujuannya mengundang Boy
untuk datang menemuinya di sini.
“Sejujurnya aku sudah mendengar konflik yang terjadi antara kamu dan Ameena.”
“Apakah Ameena yang memberitahu Mas Hanif?”
“Iya, dia bercerita banyak sekali hal padaku kemarin.”
Boy yang mendengar jawaban dari Hanif itu pun tidak dapat menahan diri untuk bertanya mengenai bagaimana perasaan Hanif pada Ameena saat ini.
“Kenapa kamu ingin tahu hal tersebut?”
****
“Kenapa Mas Hanif hanya tersenyum begitu? Apakah itu artinya yang menjadi kecurigaanku itu benar adanya?”
“Apa maksudmu mengatakan itu Boy?”
“Habisnya sikap Mas Hanif ini sangat aneh, mau tidak mau aku jadi berasumsi kalau memang apa yang aku katakan barusan itu memang benar adanya.”
Hanif membenarkan posisi duduknya dan kemudian memasang wajah serius, Hanif mengatakan pada Boy bahwa ia sama sekali tidak pernah mencintai Ameena sejak dulu hingga kini, justru Hanif merasa bahwa Boy yang sangat mencintai Ameena hingga rela melakukan apa pun untuk Ameena namun sayangnya Ameena sama sekali tidak dapat melihat semua itu karena memang Ameena tidak dapat mencintai Boy.
“Rasanya menyakitkan bukan ketika cinta bertepuk sebelah tangan?”
“Kenapa Mas Hanif mengatakan itu padaku?”
“Karena itu yang Ameena rasakan, dia mencintaiku namun hatiku masih untuk Salsabila seorang walaupun dia sudah tidak ada di dunia ini.”
__ADS_1
Boy terdiam mendengar ucapan Hanif barusan, mereka berdua tidak bicara selama beberapa saat hingga akhirnya Hanif mengatakan pada Boy untuk memberikan Ameena waktu supaya wanita itu dapat menata perasaannya selepas apa yang Boy lakukan pada Richi.
****
Ameena mencari pekerjaan diluar sana namun tidaklah mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan, ketika ia kembali ke rumah kontrakan dirinya menemukan Untari sudah menunggunya di sana, Ameena bergegas menghampiri Untari dan menyalami wanita itu.
“Mama sudah lama di sini?”
“Tidak kok baru saja tiba.”
Ameena segera membukakan pintu dan mempersilakan Untari untuk masuk ke dalam, Untari pun melangkahkan kakinya selepas dipersilakan oleh Ameena untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Kini mereka duduk di kursi ruang
tengah, sebenarnya Ameena ingin membuatkan Untari minum namun Untari menolaknya dan mengatakan bahwa ia datang ke sini untuk bicara pada Ameena.
“Kalau aku boleh tahu apa yang ingin Mama katakan padaku?”
“Apakah kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru Ameena?”
Ameena menggelengkan kepalanya, Untari tersenyum dan mengatakan pada Ameena bahwa Ameena tidak perlu mencari pekerjaan baru karena Untari akan membantu membiayai Ameena hingga Richi keluar penjara namun tentu saja Ameena menolak bantuan Untari itu karena merasa tidak enak.
“Tidak Ma, aku tidak dapat menerima bantuan itu.”
“Kalau begitu, begini saja Mama sebenarnya sudah menyiapkan opsi lain untukmu kalau jaga-jaga kamu menolak saran Mama.”
“Apa itu, Ma?”
****
Richi mendapatkan kunjungan saat ini, ia pun digiring untuk menemui orang yang ingin menjenguknya itu, ketika tiba di sana barulah Richi paham siapa orang yang ingin menemuinya saat ini. Orang tersebut tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Boy, Richi sendiri nampak menghela napasnya panjang saat tahu Boy orang yang ingin menemuinya namun Richi sebisa mungkin tersenyum pada Boy untuk membuat pria itu lebih marah padanya.
“Apakah kamu begitu senang dipenjara sampai-sampai tersenyum padaku begitu?”
“Aku senang karena melihatmu menderita Boy, apakah Ameena mau mendengarkan apa yang kamu katakan, hm?”
“Dasar pria licik, berani sekali kamu mencuci otak Ameena untuk membenciku!”
__ADS_1