
Luluk nampak menatap tajam Ros yang menghentikan aksinya untuk memberikan pelajaran untuk Ameena sementara itu tentu saja sebagai seorang ibu Ros tidak rela jika putrinya diperlakukan dengan tidak baik
oleh Luluk bahkan Ros meminta supaya Luluk untuk pergi dari rumah ini sebelum kesabarannya habis.
“Baiklah, saya akan pergi dari sini namun urusan saya dengan Ameena belum selesai.”
Selepas mengatakan itu nampak Luluk melangkah pergi dari rumah ini dan masuk ke dalam mobilnya sementara Ros menarik Ameena untuk masuk ke dalam rumah, ketika mereka sudah sampai di dalam rumah Ros langsung
bertanya pada Ameena apakah putrinya itu baik-baik saja dan Ameena menganggukan kepalanya.
“Kenapa wanita itu bersikap buruk padamu, Nak?”
“Tidak apa Bu.”
“Siapa sebenarnya wanita itu?”
“Dia adalah mamanya tuan Boy, Bu.”
“Mamanya tuan Boy?”
“Iya Bu, sudahlah pokoknya aku baik-baik saja dan Ibu tak perlu mengkhawatirkanku.”
Ros sebenarnya masih khawatir pada Ameena apalagi tadi putrinya itu sempat mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Luluk namun sepertinya Ameena tidak ingin menunjukan itu di depannya.
“Kamu tak perlu berpura-pura untuk baik-baik saja di depan Ibu, Nak.”
“Aku benar-benar baik-baik saja, Bu.”
Akan tetapi Ros tidak percaya begitu saja dengan yang Ameena katakan, ia memeluk Ameena untuk beberapa saat dan hal tersebut membuat Ameena merasa jauh lebih baik.
“Terima kasih, Bu.”
“Tidak masalah sayang.”
Selepas itu Ameena pamit pada Ros untuk mengantar kue yang Ros buat ke rumah seorang pembeli yang rumahnya tidaklah jauh dari rumah mereka. Ros pun meminta Ameena untuk berhati-hati di jalan saat mengantarkan kue tersebut, ia hanya dapat mendoakan semoga saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada Ameena ketika mengantarkan kue tersebut. Akhirnya Ameena berhasil menyelesaikan tugasnya mengantarkan kue untuk seorang pelanggan yang memesan dari ibunya akan tetapi saat dalam perjalanan pulang ke rumah, justru ia malah bertemu dengan Richi.
“Ameena.”
Ameena nampak tak mau memandang Richi dan memilih untuk menghindari namun Richi segera mengejar Ameena.
****
__ADS_1
Richi berhasil menahan Ameena dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada wanita ink dan kenapa Ameena seperti menghindarinya begini namun Ameena tak mau mengatakan apa pun pada Richi dan meminta pria ini
untuk menyingkir dari jalannya.
“Aku tidak akan ke mana pun sampai kamu menjawab pertanyaanku, Ameena.”
“Aku tidak memiliki waktu untuk meladenimu, ada banyak hal yang perlu aku kerjakan saat ini.”
“Kalau begitu, bukankah mudah untuk mengatakan padaku apa yang terjadi padamu?”
Namun Ameena tetap tak mau memberitahu Richi mengenai apa yang terjadi sebenarnya, Ameena memilih untuk tetap menghindari pria itu akan tetapi Richi kembali berhasil mengejarnya dan menghadang Ameena untuk
melarikan diri.
“Kenapa kamu selalu mengikutiku?”
“Karena kamu tak mau jujur padaku.”
“Tolong jangan seperti ini.”
“Aku tidak akan seperti ini kalau kamu mau jujur padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu.”
Ameena menghela napasnya panjang dan kemudian ia mengancam jika Richi masih tak mau membiarkannya lewat maka ia akan berteriak untuk memanggil warga sekitar menolongnya.
“Sekarang kamu bisa memilih, apakah mau membiarkanku lewat atau aku akan berteriak.”
Maka terpaksa Richi membiarkan Ameena untuk pergi walaupun sebenarnya ia sangat ingin sekali bicara dengan wanita itu.
****
Nandhita mendatangi kantor di mana Hanif bekerja, ia sudah dihadang oleh satpam di depan namun ia mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Hanif sekarang juga dan tak peduli dengan yang dikatakan oleh satpam barusan. Keributan di lobi kantor tersebut sampai juga ke telinga Hanif yang sedang bekerja di ruangannya, asisten pribadinya mengatakan bahwa ada seseorang yang membuat keributan di lobi dan orang tersebut selalu saja menyebut namanya, Hanif pun segera pergi untuk melihat siapa gerangan orang yang membuat keributan itu, rupanya orang tersebut adalah Nandhita. Nandhita sendiri nampak bahagia ketika melihat Hanif menghampirinya, ia langsung melepaskan diri dari cengkraman satpam barusan dan memeluk Hanif namun tindakan spontan Nandhita tersebut tidak disukai oleh Hanif.
“Apa yang kamu lakukan di kantor ini?”
“Apa yang aku lakukan? Tentu saja aku ingin bertemu denganmu, Hanif.”
“Aku tidak ingin bertemu denganmu, silakan kamu keluar dari sini selagi aku bicara baik-baik.”
“Kalau aku tidak mau melakukannya bagaimana?”
“Nandhita, jangan paksa aku supaya menggunakan cara kasar.”
__ADS_1
“Kalau kamu ingin menggunakan cara kasar dan tetap akan mengusirku dari sini maka jangan salahkan aku kalau karirmu akan hancur.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak lupa atas apa yang sudah kita lakukan pada malam itu kan? Mamamu sudah mengetahui apa yang kita lakukan dan kalau sampai kamu mengusirku dari sini maka aku akan membuat satu dunia mengetahui hal ini.”
****
Boy mendatangi rumah Ameena saat ini untuk mengajak wanita itu pergi bersamanya namun yang keluar dari dalam rumah tersebut adalah Ros dan wanita itu mengatakan bahwa Ameena saat ini sedang tidak ada di rumah.
“Benarkah?”
“Iya Tuan, kalau saya boleh tahu ada kaperluan apa Tuan datang mencari anak saya?”
“Bukan apa-apa, kapan Ameena akan kembali?”
“Kalau soal itu saya juga tidak tahu, Tuan.”
“Baiklah, aku pulang dulu.”
Boy kemudian segera berbalik badan dan masuk ke dalam mobilnya untuk pergi dari sini, selepas Boy benar-benar pergi kini Ros masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Ameena bahwa Boy sudah pulang. Ameena dapat menghela napas lega karena akhirnya Boy bisa pergi juga, Ros pun bertanya sebenarnya Ameena dan Boy itu kenapa, sepertinya Boy sangat ingin menemuinya.
“Aku dan tuan Boy tidak memiliki hubungan apa pun, Bu.”
“Benarkah? Kamu tidak menyembunyikan apa pun dari Ibu kan?”
“Tentu saja tidak, Bu. Tuan Boy pernah mengatakan padaku bahwa dia menyukaiku ketika aku masih menjadi istri mas Hanif.”
“Apa? Jadi dia menyukaimu?”
“Iya, tapi aku tidak menyukainya, aku tidak suka dia selalu mengejar-ngejarku seperti tadi.”
“Ibu mengerti sekarang, akan tetapi dia sudah pergi dan kamu tak perlu khawatir akan hal itu lagi.”
****
Ketika Ameena dan keluarganya tengah lelap tertidur nampak ada orang asing yang turun dari dalam mobil dengan membawa sebuah dua buah jerigen berisi bensin dan menuangkan isi jerigen itu pada seluruh penjuru rumah Ameena, tidak lama kemudian ia mengelurkan sebuah korek api dan menyulut api dari benda tersebut sebelum akhirnya ia membuang korek api yang sudah menyala itu untuk menyambar bensin yang sudah ia siramkan pada rumah keluarga Ameena.
“Saya sudah melakukan seperti apa yang anda perintahkan, Nyonya.”
Selepas memberikan laporan maka orang tersebut buru-buru pergi dari sana sebelum ada orang yang memergoki aksinya sementara itu Ameena terkejut ketika bangun sudah banyak api yang membakar rumahnya.
__ADS_1
“Ya Allah, apa yang terjadi saat ini?!”