Cinta Ameena

Cinta Ameena
Jelang Keberangkatan


__ADS_3

Nandhita pergi menemui Luluk untuk mengatakan bahwa ia akan pergi ke Norwegia lusa, tentu saja Luluk terkejut ketika Nandhita mengatakan itu, ia pun bertanya pada Nandhita dalam rangka apa dia pergi ke Norwegia dan Nandhita mengatakan bahwa ia hanya ingin liburan karena sudah lama tidak bepergian ke luar negeri.


“Tante tahu sendiri kan selama 3 tahun ini terjadi pandemi dan semua orang tidak boleh bepergian ke mana pun, sejujurnya aku merasa jenuh dan ingin melihat salju di Norwegia.”


“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, ya.”


“Iya Tante, ngomong-ngomong apakah Boy sudah ditemukan?”


“Sayangnya sampai saat ini Boy belum ditemukan.”


“Semoga saja selepas ini Boy dapat segera ditemukan supaya Tante tidak khawatir lagi.”


“Terima kasih doa baiknya.”


“Aku permisi dulu, Tante.”


“Baiklah Nandhita.”


Nandhita pun kemudian pergi dari hotel tempat Luluk menginap menuju rumah di mana dirinya tinggal yaitu bersama dengan Pamungkas, Nandhita pun juga pamit pada Pamungkas sebelum kepergiannya ke Norwegia.


“Hati-hati di jalan.”


“Iya Om, terima kasih banyak.”


Nandhita kemudian merapihkan pakaian apa saja yang akan ia bawa ke Norwegia ke dalam kopernya hingga setelah semua sudah masuk koper dirinya kini hanya tinggal menunggu besok pagi karena penerbangannya akan


berangkat pukul 8 pagi namun tentu sebelum pukul 8 pagi ia harus sudah sampai di bandara antisipasi kalau bandara akan ramai dan membuat antrean check in dan imigrasi mengular.


“Lebih baik aku memastikan bahwa pria itu tidak lupa berkemas.”


Nandhita menelpon Richi dan menanyakan pada pria itu apakah sudah berkemas atau belum dan Richi mengatakan bahwa saat ini ia tengah berkemas, Nandhita memberitahu Richi bahwa besok sebelum pukul 4 pagi mereka sudah harus tiba di bandara supaya menghindari kepadatan penumpang dan antrean imigrasi yang mungkin dapat memakan waktu lebih lama dari biasanya mengingat musim liburan.


“Kamu tenang saja, aku tak akan sampai ketinggalan pesawat besok pagi.”

__ADS_1


“Awas saja kalau sampai kamu ketinggalan pesawat, aku tidak akan mengampunimu.”


****


Hanif masih misuh-misuh karena Ameena mengatakan yang sebenarnya bahwa Travis bukan siapa-siapanya dan mereka tak menjalin hubungan apa pun. Hanif langsung masuk ke dalam kamar begitu saja dan tak menyapa Ameena lagi hingga keesokan harinya Ameena sudah bangun terlebih dahulu untuk melaksanakan ibadah salat subuh, seperti kebiasaannya Ameena pergi ke kamar Hanif dan mengetuk pintu kamarnya untuk mengingatkan Hanif soal salat subuh.


“Mas, sudah subuh, Mas Hanif sudah bangun kan?”


Namun Hanif tak mengatakan apa pun, Ameena berusaha berpikiran positif bahwa mungkin saja Hanif sudah bangun dan ambil wudhu, maka dirinya pun kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah salat subuh. Di dalam doanya pagi itu Ameena meminta dirinya diberikan kesabaran yang berlebih dalam menghadapi sikap dingin Hanif, ia juga berdoa semoga saja bisa menepati janji yang sudah sebelumnya ia buat dengan mendiang Salsabila. Selepas melaksanakan ibadah salat subuh, Ameena pun segera bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Hanif namun Hanif yang baru keluar kamar langsung menuju pintu tanpa menoleh padanya.


“Mas Hanif mau ke mana?”


Hanif tak mengatakan apa pun pada Ameena dan ia langsung berlalu keluar dari unit apartemen ini, Ameena hanya menghela napasnya panjang melihat kelakuan suaminya itu.


****


Sementara itu Pamungkas lewat orang suruhannya berhasil melacak di mana keberadaan Boy saat ini yang rupanya sudah pindah ke kota lain dan tentu saja Pamungkas langsung menuju kota itu untuk membujuk Boy pulang ke rumah bersamanya. Boy nampak terkejut ketika membuka pintu rumah kontrakannya mendapati Pamungkas di sana, Boy menghela napasnya dan kemudian mengatakan bahwa ia tidak mau bertemu dengan Pamungkas namun papanya itu mengatakan bahwa mereka harus bicara.


“Untuk apa lagi kita bicara? Bukankah sudah tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan, Pa?”


“Aku sengaja melakukan itu supaya dapat menghindari kalian semua namun ternyata aku salah, aku lupa kalau Papa pasti memiliki jalan untuk menemukanku.”


“Nah, kamu tahu sendiri itu, lantas kenapa kamu memilih untuk melarikan diri?”


“Pa, tolong jangan mengusikku lagi, aku tidak mau berurusan dengan Papa lagi.”


“Andai saja bukan karena mamamu, maka Papa tidak akan mau mendatangimu ke sini! Mamamu menangis dan hampir menjadi gila saat tahu kamu sudah tidak bekerja dan tinggal di kota itu lagi, rumah tangga kami pun


terancam berantakan gara-gara kamu!”


“Apa kata Papa?”


“Iya, mamamu mengatakan ingin bercerai dariku kalau kamu tidak mau kembali ke rumah.”

__ADS_1


****


Boy menelpon Luluk dan mengatakan bahwa Luluk jangan mengkhawatirkan keadaannya karena ia baik-baik saja di kota ini yang tak mau ia sebutkan namanya, akan tetapi Luluk benar-benar khawatir dengan keadaan Boy dan


meminta anaknya ini untuk pulang ke rumah namun Boy sama sekali tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh mamanya dan meminta Luluk untuk menghargai apa yang sudah ia putuskan.


“Nak, kenapa kamu begitu tega pada Mama?”


“Ma, aku bukannya tega pada Mama, akan tetapi tolong berikan aku waktu untuk dapat hidup dengan caraku sendiri.”


“Nak ….”


“Sudah dulu ya, Ma. Aku ada urusan.”


Setelah itu Boy langsung menutup sambungan teleponnya dengan berat hati, ia menghela napasnya panjang dan berusaha untuk tidak menangis walaupun rasanya dadanya ini begitu sesak ketika harus mengatakan hal


tersebut pada Luluk.


“Maafkan aku Ma, akan tetapi semoga saja Mama bisa memahami apa yang sudah aku putuskan ini.”


Boy kemudian segera mandi dan berganti pakaian untuk memulai pekerjaannya di sebuah rumah makan, di sana Boy kembali bekerja sebagai pelayan dan juga sesekali ia mendapatkan tawaran menjadi seorang penyanyi di


beberapa live music maupun café dan ia begitu menikmati pekerjaannya ini tanpa mengeluh sedikitpun.


****


Ameena melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 2 siang namun belum ada tanda-tanda Hanif akan kembali ke apartemen, ia sudah mencoba untuk menghubungi Hanif namun sayangnya ponsel Hanif tida aktif hingga akhirnya Ameena pun berinisiatif untuk mencari Hanif keluar apartemen. Ketika ia mengunci pintu apartemen, dirinya bertemu dengan Travis yang sepertinya hendak masuk ke dalam unit apartemennya untuk makan siang, Travis bertanya pada Ameena mau ke mana wanita ini.


“Apakah kamu melihat suamiku di luar?”


“Suamimu? Aku tidak melihatnya, memangnya ada apa?”


“Tidak ada apa-apa, aku permisi dulu.”

__ADS_1


“Tunggu dulu Ameena, apakah kalian berdua sedang bertengkar?”


“Maaf, akan tetapi itu semua bukan urusanmu.”


__ADS_2