Cinta Ameena

Cinta Ameena
Curiga Pada Mantan Suami


__ADS_3

Luluk nampak begitu pernasaran mengenai reaksi berlebihan yang ditunjukan oleh Hanif saat ia mengetahui kalau Ameena sudah tidak lagi tinggal di sini, Luluk pun bertanya pada Hanif mengenai kenapa reaksi mantan menantunya seperti ini.


“Apa maksud Mama menanyakan hal itu?”


“Maksudku adalah sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatianmu sampai-sampai kamu ingin tahu lebih detail mengenai Ameena.”


“Itu kan menurut Mama saja.”


“Iya, apa yang kamu katakan barusan itu memang benar, apakah kamu masih mencintai Ameena, Hanif?”


“Ma, sudah berapa kali aku mengatakan pada Mama bahwa aku tidak mencintai wanita itu? Satu-satunya wanita yang aku cintai adalah mendiang istriku, tolong Mama jangan bertanya yang aneh-aneh lagi, ya?”


Karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahunya maka Hanif pun segera pamit dari rumah ini, selepas Hanif pulang nampak Boy baru saja tiba di rumah dan ia nampak heran ketika menemukan sang


mama tengah berdiri di teras rumah sendirian.


“Apa yang tengah Mama lakukan sendirian di sini?”


“Mama tidak sendirian, barusan Hanif datang ke sini.”


“Mas Hanif datang ke sini? Untuk apa dia datang ke sini, Ma?”


“Tentu saja untuk menanyakan soal Ameena.”


Sontak saja Boy terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh mamanya barusan, Luluk pun bercerita pada Boy bahwa sepertinya ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Hanif mengenai perasaannya yang sebenarnya pada Ameena.


“Mama ini selalu saja berpikiran yang buruk pada orang lain,” ujar Boy.


“Mama tidak berpikiran buruk pada orang lain, Nak. Hanya saja perasaan Mama mengatakan kalau sebenarnya Hanif itu mencintai Ameena hanya saja dia tidak mau menyakiti perasaan Mama dengan berterus terang mengatakan itu.”


Boy menghela napasnya, ia tidak mau mendengar lebih jauh mengenai celotehan mamanya yang belum tentu saja terbukti kebenarannya, ia memilih untuk masuk ke dalam rumah.


“Baiklah, Nak.”


Boy pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, hanya saja Luluk masih terdiam di tempatnya seraya memikirkan kemungkinannya soal Hanif yang masih mencintai Ameena.


****


Keesokan paginya Ameena diantar oleh Richi ke rumah Luluk untuk bekerja, Ameena langsung pergi ke dapur untuk memulai bekerja dan Luluk yang kebetulan melintas di dekat dapur pun sontak menoleh ke arah Ameena


yang sudah datang, ia pun berjalan menghampiri Ameena.


“Ameena.”


“Iya Nyonya.”

__ADS_1


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


Selepas itu Luluk pergi dan Ameena pun mengikuti ke mana wanita itu ingin membawanya, rupanya Luluk mengajaknya bicara di taman belakang rumah.


“Apakah kamu tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?”


“Saya tidak tahu Nyonya.”


“Hanif kemarin ke sini dan ia menanyakan tentangmu.”


Ameena nampak terkejut mendengar ucapan Luluk barusan, Luluk sendiri menceritakan bagaimana sikap Hanif yang begitu aneh sekali kemarin sepertinya Hanif tengah menyembunyikan sebuah rahasia darinya.


“Dan entah kenapa aku merasa kalau sebenarnya dia itu menyukaimu, Ameena.”


“Itu tidak mungkin Nyonya, mana mungkin mas Hanif menyukai, saya? Dia sama sekali tidak menyukai saya.”


“Awalnya juga aku berpikir begitu Ameena, akan tetapi kemarin ketika ia datang ke sini dan menanyakanmu secara langsung padaku, aku merasa ada sesuatu hal yang berbeda dari sorot matanya, seperti ada sebuah kekhawatiran saat kamu tidak lagi tinggal di sini.”


Ameena sendiri bingung harus menanggapi apa cerita dari Luluk barusan, ia pun kemudian memutuskan untuk kembali bekerja.


****


Nandhita tiba di rumah Luluk untuk membuat perhitungan dengan Ameena karena semalam Hanif datang ke sini dan menanyakan soal Ameena, yang membuat Nandhita jengkel adalah kejujuran Hanif yang datang ke sini untuk


mencari Ameena padahal sudah jelas kalau ia adalah istrinya namun kenapa suaminya itu malah mencari wanita lain?


“Nandhita, kenapa kamu datang ke sini, sayang?”


“Di mana Ameena? Aku harus menemuinya sekarang juga.”


Akan tetapi Luluk menghalangi Nandhita karena ia tahu apa yang akan Nandhita lakukan pada Ameena, tentu saja Nandhita merasa kesal karena Luluk tidak mau membiarkan dirinya bertemu dengan Ameena padahal saat


ini Nandhita sudah benar-benar kesal dan ingin melampiaskan segala kekesalannya ini pada Ameena karena ia menganggap bahwa semua masalah yang terjadi pada hidupnya ini karena ulah wanita itu.


“Ada apa dengan Tante ini? Kenapa sekarang malah membela Ameena dan melindunginya? Bukankah Tante tidak menyukainya sejak awal?”


Luluk menengok ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa semua aman dan tidak ada orang yang tengah menguping pembicaraan mereka.


“Karena ada sesuatu yang akan menghancurkan Ameena dan Richi di kemudian hari.”


Sontak saja Nandhita terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Luluk barusan, ia ingin tahu lebih jauh mengenai apa sebenarnya tengah Luluk bicarakan ini namun sayangnya Luluk tak mau memberitahunya.


****


Cassandra tidak pantang menyerah untuk mendekati Boy, ia mencoba segala cara untuk menarik hati pria itu namun sayangnya Boy sama sekali tidak melihat ke arahnya. Cassandra merasa frustasi dengan sikap Boy

__ADS_1


yang tak mau melihat ke arahnya padahal ia sudah melakukan banyak sekali cara untuk membuat Boy mau melihatnya.


“Cassandra.”


“Om Pamungkas?”


“Lama sekali kita tidak berjumpa, ya?”


“Iya Om, sudah lama sekali.”


Pamungkas secara tak sengaja berjumpa dengan Cassandra di sebuah café ketika jam makan siang, mereka berdua menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bercerita mengenai apa yang tengah Cassandra alami saat ini.


“Begitulah Om, aku sendiri juga tidak tahu kenapa Boy tidak mau melihat ke arahku dan parahnya tante Luluk malah mendukungnya.”


“Luluk melakukan itu pasti karena ada sebuah sebab, ia tak mungkin melakukan hal tersebut tanpa perhitungan yang matang.”


“Aku pun merasa begitu Om, hanya saja aku penasaran sekali apa yang sebenarnya tengah mereka rencanakan karena sampai saat ini mereka tak mau mengatakan apa pun padaku.”


Cassandra dan Pamungkas terus mengobrol hingga tak terasa jam makan siang sudah habis dan Pamungkas harus segera kembali ke kantor.


“Lain kali kita mengobrol, ya?”


“Iya Om, terima kasih banyak waktunya.”


****


Ameena memikirkan ucapan Luluk yang mengatakan bahwa Hanif mencarinya kemarin dan sepertinya Hanif begitu khawatir saat tahu Ameena sudah tidak lagi tinggal di rumah ini, Ameena berusaha menghilangkan bayang-bayang percakapan tersebut akan tetapi bayangan percakapan itu masih saja terngiang di dalam kepalanya dan hal tersebut cukup mengganggu Ameena.


“Ya Allah, kenapa aku harus memikirkan hal itu?” lirihnya.


“Kamu kenapa, Ameena?” tanya asisten rumah tangga yang menghampirinya.


“Oh, saya tidak apa-apa Bi,” jawab Ameena.


“Kamu benar-benar serius? Wajahmu nampak agak pucat.”


“Iya Bi, Bibi tak perlu khawatir karena aku baik-baik saja.”


Boy masuk ke dapur dan kemudian menghampiri Ameena selepas ia mendengar percakapan antara Ameena dan asisten rumah tangga ini.


“Ameena, kamu sakit?”


“Tidak Tuan, saya tidak sakit.”


“Tapi wajahmu pucat begini, lebih baik kamu istirahat saja, jangan memaksakan diri.”

__ADS_1


“Saya baik-baik saja Tuan, sungguh.”


__ADS_2