
Ameena masih memikirkan apa yang kemarin dibicarakan oleh Nandhita dan Luluk mengenai Nandhita yang mengandung anak dari Hanif, Ameena rasanya masih belum dapat memercayai hal tersebut namun itu adalah
kenyataan yang harus Ameena terima. Ketika Ameena baru saja keluar dari dalam kamarnya dan hendak memasak untuk sarapan di dapur, ia terkejut karena secara tak sengaja berpapasan dengan Boy yang kebetulan sedang melintas di depan kamarnya, mereka berdua nampak sama-sama terkejut dan juga agak canggung satu sama lain hingga akhirnya Boy pun menyapa Ameena.
“Hai Ameena.”
“Iya Tuan, saya permisi dulu.”
“Tunggu dulu.”
Ameena yang hendak pergi pun menghentikan langkah kakinya namun ia tidak berbalik badan untuk menghadap Boy, sementara itu Boy sendiri nampak bingung untuk mengatakan apa pada Ameena saat ini padahal sebelumnya ia sudah tahu apa yang akan ia katakan pada Ameena namun mendadak ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan itu.
“Kalau memang tidak ada hal yang ingin Tuan bicarakan, saya permisi dulu.”
“Tunggu dulu Ameena, apakah saat ini kamu masih sedih akibat berita itu?”
Ameena nampak tak mengerti dengan apa yang sedang Boy bicarakan ini namun kemudian Boy menjelaskan bahwa saat ini dirinya tengah membicarakan soal Nandhita dan Hanif yang membuat Ameena terkejut dibuatnya.
“Kamu tak perlu mengetahui aku tahu dari mana soal berita itu yang jelas sekarang apakah kamu masih merasa sedih dengan berita itu?”
Ameena tak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Boy barusan akan tetapi wajahnya jelas tak dapat menyembunyikannya bahwa memang dirinya masih sedikit kecewa dan menyangkal kenyataan pahit yang harus
ia hadapi saat ini.
“Aku sudah mengetahuinya,” ujar Boy yang membuat Ameena terkejut dengan yang Boy ucapkan barusan.
“Tuan ….”
Boy langsung pergi meninggalkan Ameena begitu saja masuk ke dalam kamarnya, sementara Ameena sendiri nampak tidak enak pada Boy karena sudah membuat pria itu sedih namun Ameena tak dapat membohongi dirinya
sendiri bahwa cintanya hanya untuk Hanif seorang saja.
****
Luluk bertanya pada Ameena mengenai apa yang sebenarnya terjadi di antara Ameena dan Boy, awalnya Ameena tak mau mengatakan apa pun pada Luluk namun pada akhirnya ia pun mengatakan pada Luluk bahwa saat
__ADS_1
ini dirinya dan Boy hubungannya sedang kurang baik akibat Boy sudah mengetahui soal Nandhita dan Hanif yang sebentar lagi akan memiliki seorang anak.
“Kamu tahu kan bahwa anakku itu menyukaimu, Ameena?”
“Iya saya tahu Nyonya.”
“Apakah tidak bisa kamu membuka hatimu untuknya?”
“Nyonya saya ….”
“Aku sama sekali tidak memaksamu untuk menerima Boy, Ameena. Hanya saja aku memintamu untuk mempertimbangkan kembali mengenai hal ini, Hanif tidak mencintaimu dan kalau kamu terus seperti ini bukankah kamu menyakiti dirimu sendiri?”
Ameena menundukan kepala dan tak berani menatap Luluk sementara itu Luluk menggenggam tangan Ameena dan mengatakan bahwa ia ingin hal yang terbaik untuk Ameena dan oleh sebab itu ia menginginkan Ameena dapat
bahagia dengan Boy.
“Aku tahu bahwa kamu tidak mencintai Boy, akan tetapi anakku itu adalah orang yang baik dan bertanggung jawab, dia pasti akan dapat menjaga dan mencintaimu seutuhnya.”
“Saya tahu Nyonya, hanya saja kalau saya menerima tuan Boy maka saya merasa jahat karena tidak mencintainya,” lirih Ameena.
****
Nandhita begitu bahagia sekali saat Hanif setuju untuk menikahinya sebagai bentuk tanggung jawabnya pada anak yang sedang Nandhita kandung itu, Nandhita nampak memamerkan kebahagiaannya pada Ameena supaya
membuat wanita itu merasa sedih dan siasat Nandhita itu berhasil karena ia dapat melihat Ameena nampak begitu sedih dan tak nyaman ketika Nandhita membahas soal dirinya dan Hanif yang akan segera menikah.
“Kenapa kamu hanya diam saja Ameena? Apakah kamu tidak mau memberikanku selamat?”
“Apa?”
“Nandhita, sudahlah jangan memaksanya,” ujar Boy.
“Boy, kamu harusnya tahu diri bahwa Ameena sampai kapan pun tidak akan pernah membalas cintamu, kamu hanya menyakiti dirimu sendiri,” ujar Nandhita.
“Aku tahu akan hal itu namun aku tak mempermasalahkannya, aku bukan seperti dirimu yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
__ADS_1
Terjadilah perdebatan sengit antara Nandhita dan Boy hingga Luluk harus turun tangan untuk melerai keduanya, Luluk meminta Nandhita dan Boy untuk jangan bertengkar di meja makan sementara Ameena sendiri sama
sekali tidak mengatakan apa pun, ia masih menundukan kepalanya sementara Nandhita masih terus saja membuat Ameena sedih dengan cerita bahagianya dengan Hanif.
“Permisi, saya sudah selesai makan,” ujar Ameena yang kemudian membawa piring kotornya ke dapur dan mencucinya.
****
Nandhita menghampiri Ameena ke dapur dan ia kembali menyombongkan dirinya di depan Ameena bahwa ia akan mendapatkan Hanif dan Ameena tidak akan pernah mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ameena ingin menjauh
sejenak dari Nandhita yang selalu membuatnya sakit namun ia tidak tahu harus ke mana, ditambah lagi situasi menjadi jauh lebih buruk saat Cassandra datang dan menunjukan sikap tidak suka padanya.
“Kamu ini asisten rumah tangga di rumah ini kan? Bagaimana bisa Boy menyukaimu?”
Ameena merasa bahwa saat ini ia menghadapi situasi yang jauh lebih buruk dari sebelumnya, Nandhita dan Cassandra sama-sama merendahkan dan menyerangnya dengan kata-kata yang membuat Ameena terpuruk.
Ameena kemudian memutuskan untuk keluar dari rumah itu sejenak dengan berlinang air mata, saking sedihnya ia sampai lupa untuk berpamitan pada Luluk. Ameena keluar dari pagar rumah dan mencari udara segar diluar rumah tersebut supaya ia dapat melupakan sejenak apa yang sedang ia rasakan saat ini. Ketika tengah menikmati udara itulah dirinya berjumpa dengan Richi yang menyapanya, sudah terlambat untuk Ameena berbalik badan karena pria itu nyatanya sudah menghampirinya dan meminta Ameena untuk jangan pergi darinya.
“Ameena, bisakah kamu tidak menghindariku begini?”
“Maaf, tapi aku memiliki banyak urusan sekarang.”
“Kamu nampak tidak baik-baik saja.”
****
Richi tahu bahwa saat ini Ameena sedang tidak baik-baik saja saat ini namun Ameena masih berpura-pura bahwa ia baik-baik saja di depan Richi, ia masih berusaha untuk menghindari pria ini namun Richi kembali
menghadang langkah kakinya, Richi mengatakan bahwa Ameena tak perlu berpura-pura baik-baik saja kalau memang saat ini ia mengalami hari yang buruk.
“Kamu tidak perlu berpura-pura kalau memang kamu sedang tidak baik-baik saja, Ameena.”
Ameena nampak tak kuasa membendung air matanya saat Richi mengatakan itu, dirinya sendiri juga tidak paham karena tiba-tiba saja ia lansung menangis di depan Richi ini tanpa ia dapat mengontrolnya.
“Tidak apa Ameena, menangislah.”
__ADS_1