
Ameena terus berada dalam kebingungan dan rasa penasaran yang sangat tinggi akibat ucapan Boy waktu itu hingga tak terasa 6 tahun telah berlalu dengan cepat dan Alysa yang dulunya masih bayi kini sudah beranjak menjadi seorang anak perempuan yang manis dan cantik hingga membuat siapa pun yang melihatnya menjadi suka padanya. Alysa sendiri memiliki kedekatan dengan Boy dan Luluk sejak masih kecil karena ia sering diajak oleh Ameena ke rumah Luluk dan sejak masih kecil juga Luluk dan Boy terlihat begitu menyayangi Alysa hingga Luluk pun mengajari Alysa untuk memanggilnya nenek yang tentu saja hal tersebut membuat Ameena terkejut dan tak menyangka kalau Luluk mau dipanggil oleh nenek oleh Alysa. Ameena sedang berada di dapur dan Boy
menghampirinya seraya mengatakan pada Ameena bahwa ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Ameena saat ini.
“Tuan, saya saat ini sedang bekerja.”
“Aku tahu kalau saat ini kamu sedang bekerja, aku hanya ingin bicara sebentar denganmu.”
Ameena pun kemudian menuruti apa yang Boy inginkan, mereka bicara di halaman belakang rumah dan Boy kemudian memberikan sesuatu pada Ameena yang membuat Ameena menjadi bingung.
“6 tahun yang lalu aku pernah mengatakan kalau belum saatnya kamu tahu yang sebenarnya mengenai Alysa kan?”
“Iya Tuan, lantas apa ini?”
“Kamu akan tahu kebenarannya soal Alysa sekarang, Ameena.”
Ameena nampak masih belum mengerti apa yang saat ini tengah dibicarakan oleh Boy namun Ameena menerima kertas berisi hasil tes DNA yang selama ini disimpan oleh Boy dan tidak diketahui oleh Ameena karena Boy
sudah bertekad akan langsung memberitahu Ameena mengenai hal ini pada waktu yang tepat dan menurut Boy waktu itu adalah sekarang.
“Silakan kamu buka dan baca sendiri apa yang tertulis
di sana.”
Ameena pun kemudian melakukan seperti apa yang Boy katakan, ia nampak terkejut saat tahu rupanya kertas yang ia pegang ini adalah hasil tes DNA antara Alysa dan Boy, akan tetapi ketika Ameena sampai di bagian akhir surat tersebut, dirinya malah dibuat terkejut di sana.
****
Ameena nampak menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat ini, Ameena mengatakan pada Boy bahwa ini semua tidak mungkin namun Boy mengatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan surat ini adalah hasil yang sesungguhnya.
“Tidak, saya tidak mau percaya begitu saja dengan ini semua, bagaimana bisa Tuan tega memanipulasi semua ini supaya saya dapat percaya?”
“Jadi kamu menganggap bahwa surat ini hanya manipulasiku saja? Ameena, sepertinya kamu terlalu naif sekali, untuk apa aku memanipulasi hal seperti ini? Aku hanya ingin kamu mengetahui bahwa Alysa itu adalah anak kandungku.”
“Tidak mungkin, saya tidak akan pernah memercayai hal ini, ini jelas tidak masuk akal sama sekali.”
__ADS_1
Boy sudah menduga bahwa ketika hari ini tiba maka Ameena pasti akan menolak fakta ini, Boy pun menceritakan apa yang pernah ia lakukan pada Ameena dulu tanpa sepengetahuan Ameena dan tentu saja Ameena dibuat terkejut oleh pengakuan Boy itu.
“Aku minta maaf Ameena akan tetapi dulu aku begitu benci padamu karena sudah mengkhianatiku padahal kamu sendiri menjadi korban Richi.”
“Bagaimana bisa Tuan melakukan itu pada saya?” ujar Ameena tak percaya.
****
Luluk yang mendengar keributan dari belakang rumah segera menghampiri sumber suara dan di sana ia menemukan Boy serta Ameena tengah bicara, Luluk pun bertanya apa yang sedang mereka berdua bicarakan.
“Saya harus kembali bekerja, Nyonya.”
“Kamu diam di sini Ameena, kamu belum menjawab pertanyaanku.”
Ameena terdiam mendengar ucapan Luluk barusan hingga Ameena pun tidak dapat melakukan apa pun kecuali mengikuti apa yang Luluk perintahkan barusan padanya, Boy menceritakan pada mamanya apa yang sedang
mereka bicarakan tadi dan Luluk terlihat sama sekali tidak terkejut dengan semua cerita Boy barusan yang mana tentu saja hal tersebut membuat Ameena bingung.
“Nyonya tahu semua itu?” tanya Ameena penasaran.
“Iya, aku tahu semuanya Ameena,” jawab Luluk.
“Alysa adalah cucuku oleh sebab itu aku bersikap baik padanya dan mengizinkan dia memanggilku dengan sebutan nenek.”
“Ameena ….”
“Saya butuh waktu untuk menerima semua ini.”
Selepas mengatakan itu Ameena kemudian langsung pergi meninggalkan mereka, Boy nampak menghela napasnya panjang sementara Luluk mengatakan pada Boy bahwa saat ini Ameena butuh waktu sendiri untuk menangkan pikirannya.
****
Hanif membawa Arsen menuju rumah Luluk karena Arsen bilang ingin bermain dengan Alysa, keduanya memang sudah dekat sejak mereka masih kecil dan sering main bersama hingga sampai sekarang keduanya masih dapat
berteman dengan akrab.
__ADS_1
“Mama.”
“Hanif, kamu datang, Nak.”
Luluk memeluk dan mencium Hanif sebelum ia memeluk dan mencium Arsen yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri ini, Arsen juga nampak tidak canggung ketika ada di rumah ini dan bertemu dengan Luluk bahkan
anak itu langsung pergi mencari Alysa.
“Istrimu di mana? Kok tidak ikut ke sini?” tanya Luluk penasaran.
“Dia sedang ada urusan, Ma,” jawab Hanif.
Luluk menganggukan kepalanya dan kemudian Hanif terkejut ketika ia sedang mengobrol bersama dengan Luluk melihat Ameena yang tengah membawa Alysa untuk pulang dari rumah ini.
“Kamu mau ke mana, Ameena?” tanya Luluk.
“Saya ingin pulang Nyonya,” jawab Ameena.
“Tapi sekarang belum saatnya pulang, kamu tidak boleh pergi begitu saja,” ujar Luluk.
“Maaf Nyonya saya tahu bahwa saat ini belum saatnya untuk pulang akan tetapi saya tidak dapat melanjutkan bekerja ketika pikiran saya buntu.”
“Baiklah kamu boleh pulang namun tinggalkan Alysa di sini, nanti Boy akan mengantarnya pulang,” ujar Luluk.
“Tapi Nyonya ….”
****
Ameena sebenarnya keberatan dengan permintaan Luluk yang meminta Ameena untuk meninggalkan Alysa di sini namun karena Luluk tidak mengizinkan Ameena membawa Alysa pulang jika ia ingin pulang maka terpaksa Ameena meninggalkan Alysa di sini.
“Ibu pulang dulu, Nak jangan nakal selama bermain di sini,” ujar Ameena pada anaknya.
“Iya Bu,” ujar Alysa.
Alysa nampak bahagia kembali bermain dengan Arsen sementara Ameena segera pamit pada Luluk, Hanif merasa ada sesuatu yang janggal di sini dan tentu saja ia langsung bertanya pada Luluk mengenai apa yang terjadi pada Ameena.
__ADS_1
“Dia sudah tahu kalau Alysa adalah anak kandung Boy,” ujar Luluk yang membuat Hanif terkejut bukan main.
“Apa maksud Mama? Bagaimana bisa Alysa anak kandung Boy?”