
Ameena nampak ragu meninggalkan Alysa dengan Richi, bukan berati dia meragukan kemampuan suaminya untuk menjaga anak mereka hanya saja ia sudah terlanjur berjanji dengan Luluk untuk selalu membawa Alysa ikut
bersamanya ketika bekerja di rumah itu.
“Kenapa kamu hanya diam saja Ameena?”
Ameena tersentak ketika mendengar pertanyaan yang Richi ajukan barusan, karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Ameena sampai melupakan bahwa saat ini dirinya tengah berbicara dengan sang suami.
“Richi, sebenarnya aku sudah janji pada nyonya Luluk untuk selalu membawa Alysa bersamaku setiap kali aku berangkat kerja.”
Richi pun nampak mengerutkan keningnya dengan jawaban yang Ameena berikan barusan, rasanya seperti ada sesuatu hal yang membuatnya merasa janggal. Ia benar-benar penasaran dengan sikap Luluk yang sangat berbeda sekali ketika menghadapi anaknya dan Ameena padahal sebelumnya wanita itu begitu membenci mereka berdua. Bayang-bayang ucapan Cassandra muncul dalam benaknya dan hal tersebut membuat Richi jadi berpikiran yang bukan-bukan pada istrinya.
“Richi, bolehkan aku membawa Alysa pergi bersamaku?”
Richi nampak berusaha memertahankan supaya ia yang menjaga Alysa namun kemudian akhirnya ia mengalah dan membiarkan Alysa dibawa oleh Ameena pergi bersama ke rumah Luluk. Sepanjang perjalanan menuju rumah Luluk, tidak terjadi percakapan banyak antara mereka berdua, sesampainya di depan pagar rumah, Ameena langsung berpamitan pada suaminya.
“Nanti aku akan menjemputmu.”
“Iya, aku masuk dulu.”
Ameena kemudian masuk ke dalam rumah tersebut sementara Richi memerhatikan istrinya yang membawa serta putri mereka masuk ke dalam rumah Luluk, Richi sendiri penasaran dengan apa motif Luluk memerlakukan anaknya begitu berbeda dan ia pun harus menemukan jawaban tersebut secepatnya.
“Iya, aku harus mengetahui kenapa semuanya bisa begini.”
Richi kemudian melajukan sepeda motornya pergi dari rumah Luluk kembali ke rumahnya, di rumah ia langsung mencoba menghubungi nomor telepon Cassandra akan tetapi sayangnya nomor ponsel Cassandra tidak aktif saat
ini.
“Kenapa di saat seperti ini dia justru tidak mengaktifkan ponselnya?”
****
Boy nampak menatap layar ponselnya ketika ada sebuah panggilan masuk di ponselnya, ia melihat ada nama Richi di sana, tentu saja Boy penasaran kenapa Richi menelponnya saat ini dan tanpa membuang waktu yang banyak, Boy langsung menjawab telepon dari Richi ini.
“Ada apa menelponku?”
“Aku ingin bicara denganmu, apakah kamu ada waktu sekarang?”
“Tentu saja, di mana kita akan bicara?”
“Aku akan segera mengirimkan alamatnya padamu.”
Selepas itu Richi mematikan sambungan teleponnya dan tidak lama Richi mengirimkan sebuah alamat untuk mereka bertemu. Boy pun segera menuju alamat tersebut akan tetapi sebelumnya ia sempat bertemu dengan Luluk
yang tengah menggendong cucunya di ruang tengah.
__ADS_1
“Mau ke mana kamu?”
“Aku ingin menemui Richi, Ma.”
“Untuk apa kamu menemuinya, Nak?”
“Dia sendiri yang mengatakan ingin bicara sesuatu padaku.”
“Baiklah, hati-hati, ya.”
“Tentu saja.”
Boy mencium putrinya sebelum ia pergi dari rumah untuk menuju ke tempat di mana ia dan Richi sudah janjian untuk bertemu saat ini. Tempat yang menjadi tempat janjian Boy dan Richi adalah sebuah café dan ketika Boy
tiba di sana nampak Richi sudah tiba dan menunggunya di sebuah meja, Boy pun segera menghampiri pria itu dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
****
Richi nampak menatap Boy dengan tatapan yang sulit untuk diartikan akan tetapi Boy sama sekali tidak gentar, ia meminta Boy meminta Richi segera mengatakan sesuatu karena ia tidak memiliki banyak waktu saat ini.
“Kalau memang kamu menyuruhku datang ke sini untuk membuang waktuku saja, maka lebih baik aku pulang.”
“Kalau begitu jangan diam saja dan segera katakan apa yang ingin kamu katakan padaku.”
“Baiklah, aku akan langsung masuk pada intinya saja, Cassandra pernah mengatakan sesuatu hal yang aneh padaku.”
“Apa yang wanita itu katakan padamu dan bagaimana bisa Cassandra dan kamu bisa saling mengenal?”
Richi nampak terkejut dengan pertanyaan yang Boy ajukan barusan, ia lupa bahwa Boy belum mengetahui kalau Cassandra dan dirinya sudah saling mengenal sebelum ini sementara Boy sendiri nampak begitu penasaran
kenapa Richi bisa mengenal Cassandra.
“Kenapa raut wajahmu nampak begitu terkejut? Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku barusan?”
“Tidak, hanya saja….”
“Kenapa? Apa yang kamu sembunyikan Richi?”
Posisi Richi saat ini sudah terdesak dan ia tidak dapat lagi untuk berdusta pada Boy maka jalan terbaik adalah mengakui semuanya pada pria ini.
“Baiklah, aku akan mengakui semuanya padamu.”
****
__ADS_1
Boy kini yang giliran terkejut mendengar pengakuan jujur Richi mengenai bagaimana ia dan Cassandra bisa saling mengenal, yang membuat Boy benar-benar terkejut adalah ternyata Cassandra ada andil dalam merusak hubungan Ameena dengan Hanif saat mereka masih menikah.
“Jadi kamu dan wanita itu sudah lama saling mengenal? Sulit untuk dipercaya.”
“Begitulah.”
“Apakah Ameena sudah mengetahui soal ini?”
“Belum, dia belum mengetahuinya.”
“Oh jadi Ameena belum tahu.”
Richi nampak memerhatikan raut wajah Boy yang menyeringai padanya, Richi sudah tahu bahwa Boy pasti akan menggunakan senjata itu untuk menyerangnya namun ia sama sekali tidak gentar menghadapinya.
“Kenapa? Apakah kamu ingin memberitahu Ameena mengenai apa yang terjadi di antara aku dan Cassandra? Silakan saja, aku sama sekali tidak takut.”
“Sepertinya nyalimu besar juga ketika mengatakan itu, apakah kamu tidak takut Ameena akan kecewa ketika tahu bahwa suaminya dan Cassandra pernah menghancurkan hubungan rumah tanggamu dengan mas Hanif di masa
lalu?”
“Bukan itu alasan aku mengajakmu untuk bertemu, akan tetapi Cassandra mengatakan sesuatu hal yang aneh padaku.”
“Apa yang wanita itu katakan padamu?”
Richi pun mengatakan apa yang pernah Cassandra sampaikan padanya dan Richi begitu penasaran dengan apa maksud Cassandra itu.
“Kalau memang kamu penasaran, silakan tanya saja pada wanita itu.”
“Kalau wanita itu dapat aku hubungi, untuk apa aku memanggilmu? Aku yakin kamu tahu sesuatu mengenai hal ini.”
****
Boy nampak menyeringai dan hal tersebut membuat Richi menjadi semakin yakin kalau memang sebenarnya Boy mengetahui sesuatu akan tetapi Boy tidak mau mengatakan sesuatu itu padanya.
“Kenapa kamu hanya diam saja? Katakan sesuatu padaku.”
“Apakah kamu yakin ingin mendengarkan ini, Richi?”
“Tentu saja, aku ingin mendengarkannya, jangan banyak bicara dan katakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Boy masih tak mau mengatakan apa pun hingga membuat Richi menjadi jengkel, ia meminta Boy untuk jangan mengulur waktu saat ini.
“Katakan padaku apa yang kamu ketahui mengenai anakku.”
“Apakah kamu benar-benar yakin kalau memang anak itu adalah anakmu, Richi?”
__ADS_1