Cinta Ameena

Cinta Ameena
Hari Bahagia yang Kian Dekat


__ADS_3

Ameena sendiri tidak mengerti kenapa dirinya bisa sangat emosional di depan Richi padahal sebelumnya ia sudah berusaha untuk menghindar dan tak mau menanggapi apa yang dikatakan oleh Richi namun pada akhirnya Ameena tetap saja mengeluarkan air matanya dan menangis tersedu-sedu ketika mengingat sosok Hanif yang tidak lama lagi akan bersanding dengan Nandhita. Ameena terus menangis mengeluarkan sisa emosi yang ia rasakan hingga batinnya terasa begitu puas dan lega, selepasnya barulah perlahan Ameena dapat kembali menguasai dirinya dan meminta maaf pada Richi karena sudah menangis di depannya.


“Untuk apa kamu meminta maaf padaku Ameena? Justru aku merasa bahagia karena kamu jujur dengan apa yang kamu  rasakan.”


“Memangnya kamu tahu apa yang tengah aku rasakan saat ini?”


“Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, akan tetapi kalau dilihat dari caramu menangis maka aku yakin sepertinya masalahnya cukup menyakitkan, ya?”


Ameena tak mau menjelaskan lebih lanjut pada Richi mengenai masalah ini akan tetapi ia berterima kasih karena Richi tidak menyentuhnya dan memanfaatkan dirinya yang tadi sedang lemah.


“Kamu pikir aku ini pria seperti apa, Ameena? Tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu padamu.”


“Kalau begitu aku permisi dulu, terima kasih sekali lagi.”


Richi tak menahan Ameena untuk kali kedua, ia membiarkan Ameena pergi meninggalkannya untuk menenangkan diri walau sejujurnya Richi penasaran dengan masalah yang menimpa Ameena saat ini namun ia tahu di mana batasannya dengan Ameena.


“Semoga saja ini adalah awal yang baik untuk kita Ameena.”


Ameena merasa sudah cukup puas menghirup udara luar dan hatinya pun sudah lega setelah menangis di depan Richi tadi pada akhirnya ia pun memilih untuk pulang ke rumah dan ia dibuat terkejut dengan Boy yang hendak


keluar rumah untuk mencarinya.


“Ameena.”


“Tuan Boy?”


“Kamu dari mana saja? Aku khawatir kalau kamu tidak kembali.”


“Saya habis dari luar, tentu saja saya akan kembali ke rumah ini.”


****


Boy tadi sudah memarahi Cassandra karena ia menduga bahwa biang keladi dari semua ini adalah wanita itu, Cassandra sendiri mengakui bahwa tadi ia bicara dengan Ameena dan mengatakan bahwa Ameena tidak pantas


untuk Boy yang mana ucapan Cassandra itu membuat Boy naik pitam dan mengusir wanita itu dari rumah ini. Cassandra nampak terkejut dengan pengusiran tak terduga itu, Luluk tak dapat berbuat banyak dan hanya meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh Boy padanya.

__ADS_1


“Ameena, akhirnya kamu kembali juga,” ujar Luluk.


“Maaf tadi saya keluar tidak bilang pada Nyonya,” ujar Ameena.


“Sudahlah tidak apa, yang penting sekarang kamu sudah kembali ke rumah ini.”


“Iya Nyonya, saya akan langsung kembali bekerja, permisi.”


Ameena buru-buru pergi meninggalkan Luluk dan Boy sementara selepas Ameena pergi, Luluk bertanya pada Boy menemukan Ameena di mana dan Boy pun mengatakan bahwa bertemu dengan Ameena di pintu depan.


“Syukurlah, Mama pikir sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.”


“Iya Ma, aku pikir juga begitu akan tetapi untung saja tidak ada hal buruk yang menimpa Ameena.”


“Iya aku sangat bersyukur sekali, kalau begitu aku permisi dulu, Ma.”


“Iya Nak.”


Boy pun kemudian pergi meninggalkan Luluk sementara Luluk sendiri menyeringai karena pasti sebentar lagi rencananya untuk menjodohkan Ameena dan Boy akan berhasil.


****


“Aku bahagia sekali hari ini.”


Namun Hanif hanya diam saja ketika mereka baru saja memilih pakaian di sebuah butik yang akan mereka kenakan di hari pernikahan kelak.


“Hanif, kenapa kamu hanya diam saja?”


“Memangnya aku harus mengatakan apa padamu?”


“Kamu tidak menyukai kalau tidak lama lagi kita akan menikah, ya?”


“Tentu saja tidak, seharusnya kamu sudah tahu akan hal tersebut namun kamu ini masih saja sengaja bertanya.”


Nandhita nampak menyeringai mendengar jawaban emosional Hanif barusan, ia sama sekali tidak sakit hati atau marah mendengar ucapan Hanif barusan yang ada justru ia merasa senang sekali karena rencananya justru berjalan dengan sempurna.

__ADS_1


“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu Hanif, bahwa kamu tercipta untukku? Dan pada akhirnya kita pun tidak lama lagi akan segera menikah, sungguh semua mimpi yang berakhir dengan indah.”


Hanif hanya menghela napasnya dan meminta Nandhita untuk segera menyelesaikan makan siang mereka karena ia tidak memiliki banyak waktu di sini.


****


Nandhita begitu bahagia ketika pulang ke rumah dan ia menceritakan apa yang ia dan Hanif lakukan hari ini pada Luluk, rupanya lagi-lagi Ameena secara tak sengaja mendengar obrolan Nandhita dan Luluk barusan. Ameena berusaha untuk tidak mendengarkan obrolan itu namun Nandhita dengan sengaja mendatanginya untuk menceritakan apa yang ia lakukan dengan Hanif barusan.


“Selamat, ya.”


“Terima kasih karena sudah memberikanku selamat dan aku ingin mengingatkanmu sekali lagi untuk tahu diri, kamu bukanlah siapa-siapa Hanif lagi jadi jangan pernah berharap lebih lagi padanya, kamu mengerti?”


“Aku mengerti, kamu tak perlu mencemaskan hal itu karena aku tahu di mana batasanku.”


“Baguslah kalau memang begitu dan juga kamu harusnya tahu diri untuk jangan dekat-dekat dengan Boy.”


“Kalau soal itu bukan salahku, tuan Boy yang ingin dekat denganku.”


Nandhita nampak tertawa mendengar ucapan Ameena barusan, ia mengingatkan Ameena bahwa jangan berharap terlalu tinggi untuk mendapatkan Boy karena kalau mendapatkan Hanif saja tidak bisa bagaimana ia dapat


memiliki Boy?


“Sadarlah Ameena, kamu ini bukan siapa-siapa,” ujar Nandhita yang kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan Ameena yang terdiam di tempatnya meresapi kata-kata Nandhita barusan.


Ameena nampak menghela napasnya panjang, ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan apa yang Nandhita katakan padanya dan kembali melakukan pekerjaannya.


****


Cassandra datang ke rumah untuk menemui Luluk, ia meminta penjelasan dari Luluk kenapa wanita ini tidak mendukungnya lagi sekarang dan seperti malah membiarkan Ameena untuk leluasa dekat dengan Boy.


“Cassandra, kamu jangan salah paham begini, Tante tidak pernah melakukan seperti apa yang kamu katakan barusan.”


“Tapi sikap Tante pada wanita itu sangat baik dan seolah membiarkan dia dekat dengan Boy bukankah Tante tahu bahwa Boy itu dijodohkan denganku?”


“Itu adalah keputusan yang diputuskan oleh papanya Boy bukan Tante, kalau Tante sendiri tidak pernah memaksakan Boy untuk menerima perjodohan ini.”

__ADS_1


“Kok Tante jadi bicara begitu, sih?”


“Tante minta maaf, akan tetapi Tante tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantumu.”


__ADS_2