
Keputusan Luluk untuk berpisah dengan sang suami sudah sangat bulat walaupun Pamungkas berusaha untuk membujuknya dengan berbagai cara namun ia sama sekali tidak bergeming.
“Katakan padaku apa yang mendasarimu melakukan ini?”
“Aku sudah cukup bersabar selama ini, aku sudah tidak dapat bersabar lagi.”
“Apakah semua ini karena Boy?”
“Bukan hanya soal Boy namun semua akumulasi masalah yang selama ini aku paksa pendam sendirian, apakah kamu tahu betapa tersiksanya aku selama ini?”
Pamungkas terdiam mendengar ucapan Luluk barusan, untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain Luluk yang tak pernah ditunjukan jika beradu argumen di depannya, Luluk nampak begitu lemah sekali dan membutuhkan
pelukan namun saat Pamungkas datang dan ingin memeluknya justru Luluk menolaknya.
“Jangan mendekat.”
“Tapi ….”
“Aku sudah memberikan peringatan padamu untuk jangan mendekat, kalau kamu masih memaksa mendekat maka aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi.”
“Tolong jangan seperti ini Luluk, kita masih dapat membicarakan ini baik-baik kan?”
“Sudah banyak kesempatan aku memaafkanmu dan berusaha memahami tindak tandukmu namun kali ini aku tidak bisa melakukannya, aku menyerah.”
“Luluk ….”
“Tolong segera tanda tangani surat cerai itu agar kita tidak saling menyakiti satu sama lain lagi.”
Selepas mengatakan itu Luluk menutup pintu kamar hotelnya, ia mengabaikan Pamungkas yang berusaha membujuk Luluk untuk tidak melakukan ini namun sayangnya Luluk sudah sangat yakin dengan keputusan yang ia
ambil ini.
“Maafkan aku Pamungkas namun sudah tidak ada lagi kesempatan yang dapat aku berikan padamu, kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama selamanya,” isaknya.
Luluk memeluk foto mendiang Salsabila seolah saat ini putrinya tengah hadir dan menenangkannya yang tengah kalut.
“Maafkan Mama, Nak, hiks.”
Sementara itu diluar sana nampak Pamungkas menghela napasnya, ia benar-benar kecewa dengan keputusan yang telah Luluk ambil dan sepertinya memang Luluk sudah tak akan lagi mengubah keputusannya.
“Kenapa semua harus berakhir seperti ini?!” geramnya.
Pamungkas pun kemudian pergi meninggalkan hotel tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk, rasanya sudah tidak ada lagi harapan untuknya dapat memertahankan rumah tangga ini.
****
Ameena mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper, ia akan kembali ke Indonesia seperti yang diminta oleh Hanif walaupun berat untuk meninggalkan pria itu namun ia harus melakukan ini karena ia tak mau lebih
lanjut menyiksa dirinya sendiri. Ameena meminta maaf pada Salsabila mengingat keputusannya ini jauh bertolak belakang dengan janji yang pernah ia buat dengan mendiang wanita itu.
__ADS_1
“Maafkan aku, akan tetapi aku harus melakukan ini.”
Ameena kemudian menarik kopernya keluar dari apartemen dan ketika itu ia berpapasan dengan Travis yang bertanya Ameena hendak pergi ke mana.
“Aku akan pulang ke negaraku.”
“Negaramu? Apakah kamu dan suamimu akan kembali ke negara kalian untuk waktu yang lama?”
“Aku hanya sendirian.”
“Sendirian? Kenapa? Apakah suamimu tidak dapat menemanimu ke sana?”
“Aku dan dia bercerai.”
“Apa?!”
“Maaf, aku harus segera pergi ke bandara nanti aku ketinggalan pesawat.”
Namun Travis menahan langkah Ameena, ia masih ingin mendengar penjelasan Ameena soal perceraiannya dengan Hanif namun Ameena nampak keberatan ketika pria ini ingin mencari tahu hal tersebut.
“Tolong jangan mengungkit itu.”
“Baiklah, tapi apakah kalian berpisah karena kesalah pahaman yang aku timbulkan?”
“Bukan, bukan karena kamu.”
****
Richi yang baru tiba di apartemen nampak terkejut ketika Ameena menarik kopernya keluar dari apartemen ini, sontak saja Richi bertanya Ameena hendak pergi ke mana dan Ameena mengatakan bahwa ia akan pulang
ke Indonesia hari ini juga.
“Apa katamu? Pulang ke Indonesia? Tapi bagaimana bisa?”
“Aku dan mas Hanif sudah tidak lama lagi akan berpisah.”
Richi nampak bahagia ketika mendengar berita itu namun di sisi yang lain ia nampak sedih karena Ameena seperti menampakan raut wajah sedih ketika harus meninggalkan apartemen ini.
“Ameena, apakah pesawatmu masih lama?”
“Kenapa memangnya?”
“Kalau boleh kita bicara dulu sebentar.”
“Maaf, tapi aku tidak mau bicara dengan siapa pun sekarang, aku ingin segera tiba di bandara.”
Ameena kemudian masuk ke dalam taksi dan Richi tak dapat melakukan apa pun untuk menahan Ameena, tidak lama kemudian ponsel Richi berdering dan tertera nama Nandhita di sana dan Richi segera menjawab telepon
dari Nandhita itu.
__ADS_1
“Ada apa menelponku?”
“Bagaimana? Ameena dan Hanif bercerai kan?”
“Iya, mereka memang sudah bercerai namun sekarang juga Ameena pulang ke Indonesia.”
“Oh benarkah? Aku tak menyangka kalau dia akan pulang secepat itu.”
“Begitulah, aku tak dapat melakukan apa pun untuk menahannya bersamaku.”
****
Ameena sudah tiba di bandara, ia menghela napasnya panjang saat sudah masuk ke ruang tunggu yang mana bandara Oslo tidak terlalu ramai jika dibandingkan saat ia pertama kali menginjakan kaki di bandara ini. Ameena
teringat kejadian di bandara ini saat pertama kali menginjakan kaki di bandara ini yang merupakan gerbang untuknya dapat melihat Norwegia, awalnya ia berpikir bahwa selamanya ia dapat hidup bahagia di negara ini namun ternyata justru perpisahan menyakitkan yang harus ia alami di sini.
“Selamat tinggal mas Hanif, semoga saja kamu bahagia dengan apa pun pilihanmu.”
Tidak lama setelah itu terdengar panggilan untuk semua penumpang masuk ke dalam pesawat, Ameena pun bergegas mengantre bersama ratusan orang lain untuk memasuki pesawat. Setelah sudah masuk ke dalam pesawat Ameena mencari tempat duduknya yang mana ia jadi teringat pertama kali bertemu dengan
Travis dalam penerbangan ke sini.
“Waktu berlalu dengan cepat rupanya.”
Pesawat pun kemudian tinggal landas meninggalkan kota Oslo sementara itu nampak di parkiran bandara Hanif menatap pesawat yang membawa Ameena pulang ke Indonesia dengan tatapan yang sulit untuk diartikan,
Hanif menghela napasnya panjang dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa memang ini adalah keputusan terbaik yang sudah ia ambil.
“Aku memang tidak mencintainya, jadi untuk apa memertahankannya kan?”
****
Untari nampak terkejut saat mendapat kabar dari Hanif bahwa Ameena pulang hari ini namun Hanif tidak mengantarkan Ameena ke bandara dengan alasan ia sibuk, Untari mendatangi kamar hotel tempat di mana Hanif
menginap namun ia dibuat terkejut saat melihat ada Nandhita di sana.
“Nandhita?”
“Tante Untari? Lama tidak berjumpa, ya?”
“Iya lama sekali kita tidak berjumpa, apa yang kamu lakukan di hotel ini?”
“Oh aku menginap di sini.”
“Begitu rupanya, Tante tidak menyangka kalau kamu ada di Norwegia sekarang.”
“Iya Tante, aku ke sini untuk berlibur dan juga menemui seseorang yang spesial dalam hidupku.”
“Oh benarkah? Kalau Tante boleh tahu siapa orang itu?”
__ADS_1