
Luluk nampak sudah tak mau membuang waktunya untuk berbicara dengan sang mantan suami yang menurutnya adalah masa lalunya, Pamungkas sendiri masih berusaha untuk membujuk supaya Luluk mau bicara dengannya dan membuat hubungan mereka menjadi lebih baik lagi jika dibandingkan sebelumnya walaupun saat ini mereka sudah bercerai.
“Sudah tidak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi Pamungkas, jadi dari pada kamu membuang waktumu percuma ke sini, bukankah akan jauh lebih baik kalau kamu pergi saja secara baik-baik sebelum aku memanggilkan
satpam untuk menarikmu keluar dari sini?”
“Apakah kamu tega melakukannya padaku Luluk? Aku datang ke sini dengan niat yang baik dan sama sekali tidak ingin mengusikmu.”
“Aku sama sekali tidak peduli dengan ucapanmu barusan, lebih baik segera angkat kaki dari rumahku selagi aku masih sabar.”
“Tapi Luluk ….”
“Aku sudah mengatakannya padamu untuk pergi, jangan sampai emosiku meledak akibat ulahmu ini.”
Pamungkas nampak menghela napasnya berat, usahanya untuk datang ke sini dan berdamai dengan sang mantan istri nyatanya tidak membuahkan hasil karena Luluk tetap keras kepala untuk menyuruh Pamungkas segera pergi.
“Baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan, aku akan pergi akan tetapi bukan artinya aku akan menyerah.”
Selepas mengatakan itu Pamungkas langsung pergi dan selepas mantan suaminya pergi, Luluk nampak begitu pusing kepalanya hingga nyaris jatuh jika saja Nandhita tidak memeganginya.
“Apakah Tante baik-baik saja?”
“Iya Nandhita, aku baik-baik saja.”
Nandhita kemudian mengantarkan Luluk ke kamar supaya tantenya ini bisa beristirahat, selepas mereka tiba di kamar Luluk, wanita itu meminta Nandhita untuk keluar dulu karena ia ingin sendirian di sini.
“Baiklah, akan tetapi kalau Tante butuh apa-apa, segera panggil saja aku.”
“Iya, terima kasih banyak.”
Nandhita pun kemudian berjalan keluar dari dalam kamar Luluk dan menutup pintu kamar tantenya itu, Nandhita pun kemudian kembali duduk di sebelah Hanif yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Bagaimana keadaan mama barusan?” tanya Hanif.
“Dia ingin sendirian sekarang,” jawab Nandhita.
****
Boy mengetuk pintu kamar sang mama sebelum membuka pintu tersebut secara perlahan, Boy sudah mendengar semuanya dari Nandhita soal apa yang terjadi pada mamanya, Luluk sendiri nampak terkejut saat Boy menghampirinya di kamar ini.
“Boy, apa yang kamu lakukan di sini, Nak?”
“Apakah Mama baik-baik saja?”
__ADS_1
“Tentu saja, Mama baik-baik saja hanya saja saat ini Mama butuh istirahat.”
Boy kemudian duduk di tepian kasur Luluk, Boy kemudian menggenggam tangan Luluk dan mengatakan bahwa ia khawatir kalau keadaan Luluk memburuk.
“Kamu tak perlu mengkhawatirkan Mama karena Mama baik-baik saja, sayang.”
Luluk membelai wajah Boy dengan lembut, hanya Boy satu-satunya anak yang ia miliki saat ini dan ia benar-benar tidak ingin kehilangan anaknya ini. Boy sendiri kemudian memeluk Luluk untuk menenangkan kekalutan yang
mungkin saja tengah melanda diri sang mama. Luluk sendiri sama sekali tidak menolak saat Boy memeluknya karena saat ini memang dirinya sangat membutuhkan pelukan dari seseorang dan Boy datang di saat yang tepat kala dirinya merasa sedang tidak baik-baik saja.
“Terima kasih karena kamu sudah mau memeluk Mama, Nak.”
“Tidak masalah Ma, apakah sekarang perasaan Mamaa sudah jauh lebih baik?”
“Iya, sekarang perasaan Mama sudah jauh lebih baik, terima kasih banyak.”
“Syukurlah kalau begitu.”
****
Ameena membawakan Luluk secangkir teh hangat dan ia menaruhnya di nakas dekat tempat tidur, Luluk nampak tidak mengucapkan terima kasih dan membiarkan saja Ameena melakukan itu dan kemudian keluar dari kamar
tersebut, baru saja Ameena hendak pergi kembali ke dapur, Nandhita menghadang jalannya.
“Kamu pasti menaruh sesuatu kan di dalam minuman itu?” tuduh Nandhita.
“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak menaruh apa pun di sana,” jawab Ameena yang tak terima dituduh yang bukan-bukan oleh Nandhita.
“Sudahlah Ameena, kamu jangan berkelit di depanku, aku tahu bahwa di balik wajah polos dan lugumu itu kamu itu adalah iblis!”
Ameena nampak tak mau memikirkan apa yang Nandhita katakan padanya barusan, ia hendak kembali ke dapur namun Nandhita kembali menghadang jalannya dan mengatakan bahwa ia belum selesai bicara dengan wanita
ini.
“Berani sekali kamu pergi padahal aku belum selesai bicara!”
“Aku sedang banyak pekerjaan, jadi tolong jangan menggangguku.”
Nandhita nampak begitu geram dengan tindakan Ameena yang menurutnya sangat kurang ajar ini dan Nandhita berniat untuk memberikan Ameena sebuah pelajaran dengan menampar wajahnya akan tetapi sebelum Nandhita
sempat melakukan hal tersebut justru aksinya dipergoki oleh Hanif.
“Nandhita, apa yang hendak kamu lakukan ini?”
__ADS_1
“Aku tidak melakukan apa pun, kok.”
****
Ameena kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda akibat perkelahiannya dengan Nandhita, Ameena tak paham kenapa Nandhita suka sekali mencari gara-gara dengannya padahal ia sama
sekali tidak mencari masalah dengan wanita itu. Ameena dibuat terkejut dengan kemunculan Hanif yang tiba-tiba di dapur ini.
“Ameena.”
“Mas Hanif?”
“Aku ingin meminta maaf atas apa yang sudah Nandhita lakukan padamu.”
“Oh, Mas Hanif tak perlu meminta maaf soal itu, lagi pula dia sama sekali tidak melukaiku, kok.”
“Syukurlah kalau begitu, aku khawatir kalau Nandhita tadi sempat melakukan hal yang buruk padamu.”
“Tidak, Mas.”
Diam-diam Boy memerhatikan interaksi Ameena dengan Hanif yang membuatnya geram setengah mati, Ameena masih saja mencari perhatian dengan mantan suaminya padahal dia sudah menikah dengan Richi dan Boy pun kemudian mengeluarkan ponselnya dan memfoto Hanif serta Ameena kemudian mengirimkan foto tersebut pada Richi.
“Rasakan kamu Ameena, Richi pasti akan marah padamu.”
Selepas itu Boy pun pergi meninggalkan dapur, Ameena sendiri merasa kalau tadi ada seseorang yang memerhatikan mereka hingga membuatnya menatap ke belakang Hanif.
“Kenapa Ameena? Apakah ada sesuatu di sana?”
“Tidak Mas, hanya saja sepertinya barusan ada yang memerhatikan kita.”
“Mungkin saja itu hanya halusinasimu saja.”
“Iya, mungkin saja seperti itu.”
****
Richi menjemput Ameena seperti biasa sore hari ini, akan tetapi Ameena merasa bahwa ada sesuatu hal yang berbeda dengan Richi pada sore hari ini karena Richi tidak biasanya hanya diam saja dengan raut wajah datar. Ameena sendiri tentu saja bingung sekaligus ingin menanyakan apa yang terjadi pada suaminya ini akan tetapi saat ini mereka tengah ada di jalan dan kalau Ameena melakukannya bisa saja Richi jadi tidak fokus mengemudi dan membuat mereka celaka oleh sebab itu maka Ameena memutuskan untuk menunggu sampai mereka tiba di rumah.
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya Ameena selepas mereka sudah masuk ke dalam rumah.
Akan tetapi mendengar pertanyaan yang Ameena tanyakan padanya barusan, Richi masih saja diam tak menjawab hingga membuat Ameena kebingungan.
“Kamu ini kenapa? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?”
__ADS_1
“Apakah kamu bahagia ketika mantan suamimu mengajakmu bicara?”