Cinta Ameena

Cinta Ameena
Keputusan yang Harus Segera Diambil


__ADS_3

Ameena terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Luluk padanya barusan, tentu saja ia bukan melihat Boy karena sekarang Boy sudah tidak lagi bekerja di perusahaan milik keluarganya melainkan karena ia yang memang tidak memiliki perasaan pada pria itu, Ameena tak mau menyakiti perasaan Boy untuk itu ia memilih menghindari pria itu akan tetapi sepertinya Boy adalah pria yang pantang menyerah dan akan tetap mendekatinya walaupun


Ameena sudah berulang kali memberikan sinyal penolakan padanya. Luluk pun masih berusaha supaya Ameena dapat berjodoh dengan putranya, Ameena pun sudah mencoba menjelaskan semuanya pada Luluk akan tetapi Luluk memohon pada Ameena untuk menerima Boy.


“Aku bukannya memaksamu Ameena, hanya saja aku ingin melihat anakku bahagia.”


“Saya tahu Nyonya.”


“Kalau begitu bagaimana keputusanmu, Ameena? Kamu mau menerima Boy?”


“Soal itu saya belum dapat menjawabnya, Nyonya.”


“Lalu mau sampai kapan kamu tidak memberikan jawaban, Ameena?”


“Tolong Nyonya berikan saya waktu untuk memikirkan semua ini.”


“Baiklah, aku akan memberikan waktu sampai besok dan aku harap besok kamu sudah memiliki jawaban atas permintaanku.”


Selepas itu Luluk pergi meninggalkan Ameena yang masih berada di tempatnya, Ameena nampak menghela napasnya berat, ia tahu bahwa kalau ia menolak tawaran Luluk itu sama saja ia melukai perasaan Luluk dan lebih


parahnya lagi ia akan kembali mengecewakan Boy akan tetapi Ameena tak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa ia tidak mencintai Boy dan tak ingin membuat pria itu terluka.


“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


Ameena kemudian pergi masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya dan secara tidak sengaja ia mendengar percakapan antara Boy dan Luluk yang sepertinya tengah membahas soal dirinya akan tetapi Ameena


memutuskan tak mau terlalu ikut campur dalam masalah tersebut, Ameena segera berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam sementara itu Boy sekilas melihat Ameena barusan, ia berpikir bahwa mungkin saja Ameena mendengar apa yang tadi ia dan mamanya bicarakan.


****


Boy tadi sempat mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh Luluk dan Ameena saat ia secara tak sengaja melintas di dekat tempat Ameena dan Luluk bicara, sejujurnya Boy terkejut ketika Luluk meminta Ameena untuk menerimanya sebagai calon suaminya. Tentu saja Boy bahagia karena mamanya mau berjuang untuknya namun ia merasa tidak enak pada Ameena karena sepertinya Luluk terlalu memaksa Ameena untuk menerimanya.


“Mama melakukan semua ini untukmu, Nak.”


“Aku tahu bahwa Mama memang melakukan semua ini untukku, akan tetapi kalau Mama memaksa Ameena bukankah pada akhirnya Ameena malah akan jadi antipati pada kita?”


“Kamu percayakan semuanya pada Mama dan jangan berpikiran hal yang buruk, Nak.”


Boy menghela napasnya berat, sejujurnya ia bingung apa yang harus ia lakukan saat ini dan pada saat itu dirinya melihat Ameena melintas di dekat mereka dan membuatnya berpikir kalau barusan Ameena mencuri dengar apa yang sedang ia dan mamanya bicarakan.

__ADS_1


“Ada apa Boy?”


“Tidak, hanya saja sepertinya tadi Ameena melihat kita sedang bicara, Ma.”


“Oh benarkah? Baguslah kalau begitu, besok kita akan mendapatkan jawabannya.”


“Iya Ma, kalau begitu aku permisi dulu.”


Boy kemudian pergi meninggalkan Luluk yang masih terdiam di tempatnya, Luluk nampak menyeringai selepas Boy pergi meninggalkannya, Luluk yakin bahwa Ameena pasti akan memutuskan untuk menerima permintaannya ini.


****


Ameena tidak dapat tidur nyenyak semalaman karena memikirkan apa yang dikatakan oleh Luluk kemarin padanya, Ameena sudah tidak dapat tidur lagi dan memutuskan untuk melakukan salat tahajud, ia nampak begitu khusyuk dalam menjalankan ibadah salatnya hingga akhirnya ia meminta pada Tuhan supaya ia dapat mengambil keputusan terbaik untuknya saat ini. Selepas itu Ameena kemudian keluar dari dalam kamarnya untuk mulai bersiap mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas supaya nanti setelah subuh bisa langsung diolah, ketika sedang sibuk di dapur itulah Ameena dibuat terkejut karena rupanya ada sosok Boy yang berdiri di dekat pintu dapur.


“Tuan Boy?”


“Kamu tidak tidur Ameena?”


“Saya sudah tidur, Tuan.”


“Begitu rupanya, aku malah belum tidur.”


“Karena aku memikirkan jawabanmu, Ameena.”


Ameena nampak terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Boy barusan, ia nampak bingung apa yang harus ia katakan pada Boy saat ini karena sejujurnya ia belum memiliki jawaban.


“Ameena, apakah kamu sudah memiliki jawabannya?”


“Saya… saya ….”


“Tidak apa kalau memang kamu mau menolakku, kamu tidak perlu untuk ragu mengatakannya.”


Ameena menundukan kepalanya tidak berani menatap Boy, ia sendiri masih belum tahu jawaban apa yang akan ia berikan pada Boy atas pertanyaannya barusan, Ameena nampak begitu gelisah hingga Boy kembali mengatakan sesuatu padanya.


“Bagaimana Ameena? Kalau memang kamu akan menolakku maka jangan ragu mengatakannya sekarang juga.”


****


Ameena dalam kondisi yang tidak nyaman saat ini karena Boy meminta jawabannya sekarang dan tak lama kemudian Luluk muncul yang makin membuat Ameena semakin gugup karena Luluk pun juga menanyakan jawaban yang diberikan oleh Ameena untuk pertanyaannya kemarin.

__ADS_1


“Jadi bagaimana, Ameena?”


“Nyonya saya ….”


“Tidak perlu ragu untuk mengatakannya Ameena, katakan sekarang.”


Ameena nampak menutup matanya dan mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab pertanyaan dari Luluk dan Boy barusan, Ameena pun kemudian mengatakan kalau ia akan menerima pernikahan dengan Boy. Luluk dan Boy tentu saja bahagia bukan main saat mendengar jawaban Ameena barusan.


“Kamu serius kan Ameena?” tanya Luluk.


“Iya Nyonya, saya serius,” jawab Ameena.


Luluk pun kemudian memeluk Ameena dan berterima kasih pada Ameena untuk mau menerima anaknya sebagai calon suaminya, Ameena sendiri merasa canggung sekaligus bingung mengenai keputusannya saat ini.


“Terima kasih banyak, Ameena.”


“Iya Nyonya.”


“Terima kasih Ameena,” ujar Boy.


“Iya Tuan.”


Selepas itu Luluk mengatakan ia akan mulai menyiapkan segala sesuatunya mengenai pernikahan Ameena dan Boy, dari raut wajahnya nampak Luluk begitu sangat bersemangat sekali setelah mendapatkan jawaban dari Ameena. Sementara itu Boy nampak menatap Ameena yang membuatnya jadi salah tingkah.


****


Untari mendatangi rumah Luluk untuk membicarakan secara formal kapan pernikahan antara Hanif dan Nandhita akan dilaksanakan karena Luluk adalah keluarga dari Nandhita yang masih wanita itu miliki. Untari nampak terkejut ketika tahu Ameena tinggal di rumah ini, Ameena sendiri nampak berusaha menghindari tatapan mata dengan Untari dan ia langsung buru-buru pergi setelah memberikan minuman untuk mantan mama mertuanya itu.


“Saya permisi ke kamar mandi dulu,” ujar Untari.


“Oh silakan, kamar mandinya ada di sebelah kiri,” ujar Luluk.


“Baiklah, permisi.”


Untari kemudian pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamar mandi namun tujuannya jelas bukanlah kamar mandi melainkan menemui Ameena yang tengah terdiam di dapur.


“Ameena.”


“Nyonya?”

__ADS_1


__ADS_2