Cinta Ameena

Cinta Ameena
Membuatku Merasa Tertekan


__ADS_3

Nandhita untuk sementara waktu nampak terpukau dengan sosok pria yang tidak sengaja ia tabrak di mall tersebut akan tetapi karena pria itu sudah berjalan pergi maka Nandhita mau tak mau juga harus segera bergegas pergi dan Nandhita memilih menuju sebuah food court yang tidak jauh dari tempat di mana ia dan pria itu bertemu secara tak sengaja. Nandhita nampak memikirkan sosok pria yang tidak sengaja ia tabrak barusan, ia benar-benar penasaran dengan sosok pria itu dan rasanya ingin sekali berkenalan dengan pria itu akan tetapi Nandhita kemudian sadar bahwa apa yang ada di dalam pikirannya itu tidaklah baik.


“Tidak, saat ini kan aku sudah menikah dengan Hanif dan aku tidak boleh mengecewakannya.”


Akan tetapi ada suara lain di dalam kepalanya yang mengatakan bahwa Hanif saja tidak mencintainya walaupun mereka telah memiliki Arsen, Nandhita juga curiga bahwa sebenarnya Hanif mencintai Ameena hingga saat


ini akan tetapi Hanif terlalu gengsi untuk mengungkapkan itu pada Ameena yang kini juga telah menikah dengan Richi.


“Tidak, aku tidak boleh mudah tergoda dengan hal itu.”


Akhirnya Nandhita pun memutuskan untuk kembali ke rumah selepas makan di mall tersebut, ketika tiba di rumah nampak Untari langsung menyambuntnya dengan kata-kata yang tidak enak untuk didengar.


“Bagus sekali, kamu pergi jalan-jalan ke luar dan melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang ibu.”


“Kan Mama yang menjaga Arsen barusan, maka itu aku pergi.”


“Apakah hal tersebut dapat dijadikan alasan untuk melupakan tanggung jawabmu, Nandhita? Kamu ini sekarang seorang ibu yang tidak bisa sembarangan keluar begitu saja.”


Nandhita nampak menghela napasnya jengkel dengan ceramah Untari ini, saat ini dirinya sedang lelah setelah berjalan-jalan di mall dan ketika tiba di rumah justru dirinya malah dimarahi oleh mama mertuanya dan mengatakan bahwa ia tidak bertanggung jawab pada anaknya.


“Aku lelah, aku mau pergi ke kamar.”


Nandhita tidak menghiraukan Untari yang memanggil namanya dan mengatakan bahwa ia belum selesai bicara karena ia sendiri saat ini benar-benar merasa lelah.


****


Hanif tiba di rumah dan kemudian langsung bicara dengan Nandhita selepas ia diberitahu oleh Untari bahwa tadi siang dirinya malah kelayapan keluar dari rumah ini dan melupakan tugasnya sebagai seorang ibu.


“Apa-apaan kamu Nandhita? Bagaimana bisa kamu melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang ibu dengan pergi begitu saja keluar rumah?”


“Apakah mama yang memberitahumu mengenai hal ini?”

__ADS_1


“Itu semua tidak penting, kenapa kamu melakukannya?”


“Karena aku bosan di rumah, lagi pula mama memerlakukanku dengan tidak baik yang membuatku menjadi makin stres saja.”


“Itu kan sudah menjadi tanggung jawabmu, salah sendiri kamu memilihku.”


Nandhita nampak terkejut dan tak percaya dengan ucapan Hanif barusan yang seolah-olah menyalahkannya atas apa yang terjadi pada mereka.


“Apa maksudmu mengatakan itu, Hanif? Harusnya kamu


membelaku!”


“Aku sejak awal tidak pernah tertarik padamu, kamu yang tertarik padaku hingga melakukan berbagai cara untuk mendapatkanku dan ketika kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan justru kamu malah mencak-mencak dan menyalahkan takdir, lucu sekali.”


“Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan Hanif, mama sudah keterlaluan memerlakukanku tidak baik, dia selalu saja mengataiku tidak lebih baik dari Ameena soal pekerjaan rumah tangga, apakah menurutmu itu dapat diwajarkan?”


****


“Apa maksudmu Nandhita? Jasa pengasuh anak?” tanya Hanif tak habis pikir.


“Iya, aku ingin menyewa jasa pengasuh anak karena aku tidak bisa mengasuhnya sendirian, aku bukan robot,” ujar Nandhita.


“Aku tidak setuju kalau kita menyewa jasa pengasuh anak, tidak sepatutnya anak kita dibesarkan oleh orang lain, kamu kan ibunya harusnya kamu bisa lebih dekat dengan anak kita. Bagaimana nanti saat ia beranjak dewasa maka Arsen tidak merasakan kasih sayang darimu?”


“Aku tak peduli akan hal itu, pokoknya aku tidak sanggup untuk membesarkan Arsen seorang diri, aku tetap akan menggunakan jasa pengasuh anak.”


“Lihat Hanif, kelakuan istrimu ini benar-benar sangat tidak bisa diterima, apakah kamu masih akan tetap memertahankan rumah tanggamu dengan wanita ini?” tanya Untari yang membuat panas suasana.


“Pokoknya aku dan Hanif tidak akan pernah berpisah Ma, sampai kapan pun,” ujar Nandhita.


“Kamu boleh mengatakan itu sampai mulutmu berbusa-busa akan tetapi Hanif tetap yang mengambil keputusan,” ujar Untari.

__ADS_1


****


Nandhita kesal karena rupanya Hanif tetap menolak tawarannya menggunakan jasa pengasuh anak untuk mengurus Arsen, Hanif mengatakan bahwa Nandhita harus mengurus Arsen dan juga mulai mengerjakan


pekerjaan rumah tangga. Nandhita tentu saja protes dengan keputusan Hanif itu akan tetapi Hanif mengatakan bahwa kalau Nandhita tidak suka maka mereka bisa bercerai saja dan itu yang tidak diinginkan oleh Nandhita.


“Kenapa Hanif selalu saja terpedaya oleh ucapan mamanya? Benar-benar menjengkelkan.”


Nandhita sejak tadi mengumpat tak karuan akibat kekesalannya pada Untari dan Hanif, mereka berdua sepertinya sudah bersekongkol untuk membuatnya menjadi tidak waras di rumah ini.


“Mereka pikir dapat melakukan ini padaku? Aku akan menunjukan pada mereka bahwa aku tidak akan mudah untuk mereka kalahkan.”


Nandhita hendak pergi dari rumah ini namun Untari menghadangnya, Untari mengatakan bahwa Nandhita tidak boleh seenaknya pergi dari rumah ini tanpa alasan yang jelas.


“Aku mau bertemu dengan tante Luluk.”


“Untuk apa kamu bertemu dengan tantemu? Pekerjaan yang perlu kamu lakukan itu masih banyak sekali, jangan menjadi malas dan lakukan saja pekerjaanmu.”


Nandhita nampak menghela napasnya kesal, ia tetap tak mau melakukan apa yang Untari perintahkan, ia tetap keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil walaupun Untari sudah memanggilnya namun Nandhita sama


sekali tidak peduli.


****


Nandhita benar-benar kesal sekali dengan Untari serta Hanif, keduanya sama-sama ingin sekali membuatnya menderita dan ia tidak boleh kalah dari mereka. Nandhita memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi hingga


di sebuah jalan ada seseorang yang menyebrang jalan secara mendadak dan hal tersebut membuat Nandhita terkejut, reflek ia menginjak pedal rem dan membuat mobilnya mengerem secara mendadak namun tidak dapat menghindarkan diri dari menabrak orang yang menyebrang jalan secara mendadak itu.


“Ya ampun.”


Nandhita nampak panik saat tahu dirinya menabrak orang yang menyebrang jalan barusan, ia membuka sabuk pengaman yang ia kenakan dan kemudian keluar dari dalam mobilnya untuk memastikan bahwa orang yang secara tak sengaja ia tabrak itu baik-baik saja.

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Nandhita pada orang itu namun kini Nandhita terkejut bukan main setelah melihat wajah orang tersebut.


__ADS_2