
Hanif nampak terkejut dengan ucapan putranya barusan, ia tahu cepat atau lambat maka dirinya perlu memberitahu Arsen mengenai perpisahannya dengan Nandhita dan pastinya itu bukanlah hal yang mudah. Hanif mengatakan pada Arsen bahwa sesampinya mereka di rumah maka dirinya akan bicara dengan Arsen dan anaknya itu hanya menganggukan kepalanya. Sepanjang sisa perjalanan dari tempat Nandhita berada ke rumahnya mereka berdua lebih banyak diam dan akhirnya mereka sampai juga di rumah dan Hanif pun segera mengajak anaknya untuk bicara mengenai rumah tangganya dengan Nandhita.
“Arsen Papa tahu bahwa ini memang bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk kamu terima hanya saja tolong dengarkan baik Papa.”
Arsen hanya diam saja dan mendengarkan apa yang Hanif katakan padanya bahwa tidak lama lagi Hanif dan Nandhita akan segera berpisah, Hanif meminta Arsen untuk tidak membenci Nandhita akibat perpisahan ini dan
meminta pengertian anaknya ini bahwa keputusan berat ini harus ia ambil. Arsen tidak mengatakan apa pun namun anak itu langsung berbalik badan dan masuk ke dalam kamarnya, tentu saja Hanif tak dapat memaksa supaya Arsen dapat mengerti kondisi rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
“Apa yang barusan kamu dan Arsen bicarakan?” tanya Untari penasaran.
“Aku membicarakan soal perceraianku dengan Nandhita,” jawab Hanif.
Mendengar jawaban Hanif barusan tentu saja membuat Untari bertanya-tanya kenapa Hanif sampai melakukan hal tersebut dan Hanif pun mengatakan pada Untari bahwa tadi rupanya Nandhita sudah mencoba untuk membujuk supaya Arsen menolak perpisahan mereka.
“Apa katamu? Jadi wanita itu masih berusaha untuk memertahankan rumah tangga kalian padahal dia sudah berselingkuh? Mama benar-benar tidak habis pikir dengannya,” ujar Untari menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah Ma, aku tidak mau membahas hal ini malam ini, aku mau tidur.”
“Iya Nak, istirahatlah.”
Hanif kemudian pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, ketika sudah tiba di dalam kamarnya nampak Hanif tidak langsung masuk ke kamar mandi melainkan ia pergi menatap foto mendiang Salsabila
yang masih ia pasang di nakas tempat tidur.
****
Richi kembali mendapatkan kunjungan di penjara, kali ini ia menolak untuk bertemu orang tersebut karena ia berpikir bahwa pasti yang datang kembali untuk menjenguknya adalah Ameena namun petugas mengatakan bahwa
Richi harus menemui orang itu sekarang juga. Richi hanya dapat menghela napasnya kesal dan ia menuruti apa yang dikatakan oleh petugas hingga akhirnya ia mengetahui siapa orang yang datang menemuinya di sini.
“Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Richi tajam pada seorang wanita yang tidak lain adalah Cassandra.
__ADS_1
“Aku tentu saja datang ke sini untuk menjengukmu selepas aku mendengar kalau kamu ditahan oleh polisi karena kasus KDRT.”
Richi tertawa mendengar ucapan Cassandra barusan selepasnya ia mengatakan bahwa apa yang Cassandra katakan barusan memang benar, ia memang bersalah karena telah melakukan KDRT hingga layak mendapatkan semua ini.
“Kenapa kamu menghilang begitu saja selama ini?”
“Aku pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri akibat banyaknya masalah yang datang di sini.”
“Enak sekali jadi dirimu, kalau kamu ada masalah maka kamu dapat dengan mudah pergi keluar negeri.”
“Ngomong-ngomong aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu pasti ingin bebas dari tempat ini dan namamu kembali bersih kan?”
****
“Kenapa kamu harus merasa tidak enak, Ameena? Mereka harusnya menjamin bahwa rumah ini memang layak untuk dihuni dengan harga yang pantas bukan memberikan rumah dengan banyak PR namun harga selangit.”
“Tuan Boy.”
“Aku akan membayar biaya sewa rumah ini, kamu jangan khawatir.”
Ameena akan mendebat ucapan Boy namun Boy langsung memberikan isyarat pada Ameena untuk jangan mendebatnya kali ini maka kemudian Ameena pun diam dan tak mendebat, Boy kembali berkeliling untuk memastikan bahwa rumah ini memang layak huni dan tidak banyak PR yang harus mereka lakukan. Setelah beberapa saat melakukan inspeksi akhirnya Boy pun mengatakan bahwa rumah ini layak untuk dihuni namun Boy masih agak keberatan dengan harga sewa yang ditawarkan oleh pemilik rumah ini.
“Tidak apa Tuan, saya bisa membayarnya tiap bulan.”
“Ameena, bukankah baru saja aku mengatakan bahwa aku akan membayar biaya sewa rumah ini?”
“Tapi Tuan ….”
__ADS_1
“Jangan merasa tidak enak karena aku melakukan semua ini untuk anakku.”
Selepasnya Boy pun mengajak Ameena dan Alysa untuk makan siang bersama, tentu saja Alysa nampak bersemangat dan tidak menolak sementara Ameena nampak bimbang.
****
Awalnya Ameena menolak untuk ikut bersama mereka namun karena bujuk rayu Alysa yang dipengaruhi oleh Boy maka akhirnya Ameena pun mau ikut bersama mereka, Boy mengajak mereka berdua untuk makan di sebuah restoran cepat saji yang memang digemari oleh Alysa, Ameena sendiri tidak mendebat keputusan Boy karena memang Boy yang membayar untuk semua ini. Alysa nampak bahagia sekali ketika mereka makan siang di sana, selepas makan siang nampak anak itu bermain di taman bermain yang ada di dalam restoran tersebut sementara Ameena dan Boy hanya memerhatikan dari tempat mereka duduk apa yang Alysa tengah lakukan saat ini.
“Kenapa tidak menyentuh makananmu?”
“Saya tidak lapar, Tuan.”
“Jangan bohong Ameena, aku tahu bahwa kamu lapar, sudahlah jangan malu makanlah.”
Ameena nampak awalnya ragu namun akhirnya makan juga seperti apa yang diminta oleh Boy, Boy pun nampak tersenyum melihat Ameena akhirnya mau makan juga selepas ia bujuk. Senyuman Boy itu membuat Ameena
mengalihkan pandangannya, ia merasa masih bergejolak persaannya saat mengetahui kalau pria ini telah melakukan sesuatu hal yang buruk di masa lalu hingga akhirnya Alysa lahir ke dunia ini.
“Kenapa kamu tidak mau menatapku Ameena?”
“Bukan apa-apa, Tuan.”
****
Hanif tidak mengungkit soal perceraiannya dengan Nandhita lagi di depan Arsen karena ia merasa bahwa Arsen sepertinya tidak suka dengan pembicaraan itu, Hanif lebih memilih membawa topik lain untuk bicara dengan anaknya ini hingga secara mengejutkan Arsen mengatakan bahwa ia mau tetap tinggal dengan Hanif walaupun nanti Hanif dan Nandhita berpisah.
“Kamu yakin sayang?”
“Iya Pa, aku ingin tinggal bersama Papa.”
Hanif tentu saja senang mendengar ucapan Arsen barusan, ia langsung memeluk Arsen dan menciumnya sebagai luapan ekspresi bahagianya hingga akhirnya Arsen mengajak Hanif untuk pergi ke rumah Luluk karena ia rindu dengan Alysa.
__ADS_1
“Ayo sayang kita pergi ke rumah nenek Luluk namun sebelumnya pamit dulu pada nenek.”