
Alysa masih dalam penyekapan dan penculikan yang dilakukan oleh Cassandra, wanita itu menyekap Alysa disebuah rumah kosong yang letaknya sangat jauh dari permukiman warga supaya tidak dicurigai. Saat ini
Cassandra masuk ke dalam rumah tersebut untuk melihat bagaimana keadaan Alysa dan ketika ia tiba di sana nampak anak itu keadaannya sangat lemah sekali namun Cassandra sama sekali tidak memiliki belas kasih pada Alysa.
“Kenapa kamu tidak mau memakan makananmu?!” bentaknya kesal saat tahu Alysa tidak mau makan apa yang sudah ia siapkan untuk anak itu.
“Aku mau pulang ke rumah Tante.”
“Apakah kamu ini tidak mengerti apa yang aku katakan anak kecil? Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah pulang!”
Alysa nampak memohon pada Cassandra untuk melepaskannya namun Cassandra tentu saja tidak akan melakukannya, Cassandra membiarkan anak itu kelaparan karena yang ada dalam benak Cassandra salah
sendiri Alysa tidak mau makan padahal ia sudah berbaik hati untuk menyiapkan makanan untuk anak itu namun dia sendiri yang menolaknya.
“Kalau memang kamu tidak mau makan, maka itu bukan lagi urusanku, silakan saja!”
Cassandra pulang ke rumah dan di rumah nampak papanya sudah menantinya, Cassandra nampak langsung melengos begitu saja melewati sang papa namun tentu saja papanya Cassandra tidak membiarkan anaknya itu pergi begitu saja karena ada sesuatu hal yang perlu mereka berdua bicarakan.
“Cassandra, tunggu dulu, ada sesuatu hal yang ingin Papa bicarakan denganmu.”
“Aku sedang tidak enak badan, bisakah kita bicara di lain waktu saja?”
“Tidak, kita tidak dapat bicara lain waktu karena Papa ingin bicara sekarang juga denganmu.”
Cassandra masih saja berusaha mengelak dan mengatakan pada papanya bahwa ia benar-benar lelah saat ini dan meminta untuk mereka berdua bicara di lain waktu saja, akan tetapi justru papanya mengatakan sesuatu yang
membuatnya terkejut bukan main.
“Cassandra, katakan pada Papa apa yang sebenarnya kamu lakukan pada anak itu?”
“Aku tidak paham apa yang Papa bicarakan ini.”
****
__ADS_1
Pada akhirnya Alysa tentu saja dapat diselamatkan dan semua itu berkat Pamungkas, akan tetapi sekarang keadaan Alysa nampak lemah dan harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, Cassandra
sendiri tidak dilaporkan pada polisi namun Pamungkas mengatakan kalau Cassandra melakukan kejahatan lagi maka ia akan melaporkan wanita itu pada polisi, tentu saja Cassandra tidak habis pikir bagaimana bisa Pamungkas melakukan hal ini padanya.
“Om, kenapa Om melakukan semua ini padaku? Bukankah selama ini Om mendukungku?”
“Sekarang sudah tidak lagi Cassandra.”
“Apa alasannya? Kenapa Om berhenti mendukungku?”
“Kamu tidak perlu tahu apa alasannya.”
Jawaban dari Pamungkas barusan tentu saja sama sekali tidak membuat Cassandra puas, wanita itu terus saja memaksa Pamungkas untuk mengatakan kejujurannya padanya hingga akhirnya Pamungkas pun mengatakan
sesuatu hal yang membuat Cassandra terkejut bukan main.
“Aku sudah mempertimbangkan Ameena menikah dengan Boy.”
“Om pasti sedang bercanda saat ini kan? Tidak mungkin Om akan mengizinkan mereka menikah begitu saja!”
Cassandra mencoba mencari kebohongan di kedua mata Pamungkas saat ini namun ia sama sekali tidak menemukannya yang artinya Pamungkas memang mengatakan hal yang sebenarnya dan itu sama sekali tidak dapat diterima oleh Cassandra.
“Bagaimana bisa Om melakukan hal ini padaku?!”
****
Ameena nampak bersyukur sekali karena anaknya dapat ditemukan dalam kondisi baik-baik saja tanpa kekurangan sedikit pun walaupun Alysa sekarang harus dirawat di rumah sakit akan tetapi itu jauh lebih baik dari pada hal yang jauh lebih buruk terjadi pada putrinya. Ketika Ameena tengah menemani Alysa di rumah sakit seseorang datang menjenguk Alysa dan orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Boy.
“Ameena, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu sebentar diluar,” ujar Boy selepas ia bicara dengan Alysa dan menanyakan bagaimana keadaannya.
Ameena nampak menghela napasnya dan kemudian ikut dengan Boy keluar ruangan inap Alysa, sejujurnya Ameena merasa tidak nyaman berduaan dengan Boy seperti ini apalagi selepas Ameena mengetahui perasaan Boy yang sebenarnya padanya.
“Kamu tak perlu memikirkan biaya perawatan Alysa karena semua sudah dilunasi oleh papa.”
__ADS_1
“Terima kasih Tuan Boy.”
“Jangan berterima kasih padaku, akan tetapi berterima kasihlah pada papa karena beliau yang telah membuat hal ini terjadi.”
Seketika Ameena menjadi teringat apa yang telah dilakukan oleh Pamungkas padanya dan hal tersebut sungguh sangat membekas di dalam benaknya, sikap Ameena yang diam seperti ini tentu saja membuat Boy menjadi heran dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Ameena saat ini.
“Saya baik-baik saja Tuan.”
****
Boy yang mendengar jawaban Ameena barusan tidak dapat memercayai begitu saja apa yang Ameena katakan, Boy tahu bahwa ada sesuatu hal yang coba untuk Ameena tutupi darinya namun Boy memutuskan untuk tidak terlalu jauh mengorek akan hal tersebut karena sekarang ia harus pergi. Ameena sendiri dapat menghela napasnya lega karena akhirnya Boy pergi juga dari rumah sakit ini, akan tetapi rupanya hal tersebut belum selesai karena tidak lama selepas Boy pergi justru Pamungkas muncul di rumah sakit ini dengan alasan bahwa ia ingin menjenguk Alysa dan melihat bagaimana kondisi anak itu sekarang.
“Saya sangat berterima kasih atas apa yang sudah Tuan lakukan untuk anak saya,” ujar Ameena.
Pamungkas nampak tersenyum pada Ameena selepas wanita itu mengatakan hal tersebut, Pamungkas pun meminta Ameena untuk ikut dengannya keluar sebentar karena ada sesuatu hal yang ingin sekali ia bicarakan dengan wanita ini. Ameena nampak menghela napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia pun melangkahkan kakinya mengikuti ke mana perginya Pamungkas saat ini. Mereka telah berada di koridor depan ruangan inap Alysa dirawat, Ameena sendiri merasa tidak nyaman dengan hal ini karena Pamungkas sendiri seperti berusaha mendekatinya dan Ameena segera mundur menjauh.
“Kenapa kamu ingin jauh-jauh dariku, Ameena?”
****
Ameena tentu saja tidak nyaman dengan posisi seperti ini, ia merasa bahwa Pamungkas ingin melakukan hal yang lebih padanya namun Pamungkas mengatakan bahwa ia tidak akan berbuat hal yang buruk pada Ameena.
“Tolong kamu percayalah padaku Ameena, aku sama sekali tidak memiliki niatan yang buruk padamu.”
“Iya Tuan, saya akan percaya.”
Pamungkas nampak tersenyum mendengar ucapan Ameena barusan walaupun sebenarnya ia kurang puas dengan hal ini namun setidaknya Ameena sudah mau ikut dengannya ke sini.
“Semua biaya pengobatan kamu tidak perlu memikirkannya karena aku telah melunasinya.”
“Saya sudah tahu akan hal itu Tuan, tuan Boy sudah memberitahu saya.”
“Oh benarkah? Jadi Boy sudah memberitahumu mengenai hal itu?”
__ADS_1
“Iya Tuan.”
“Ameena, semua itu tidak gratis ada sesuatu hal yang perlu kamu lakukan untuk menebus semua ini.”