
Richi nampak begitu bahagia melihat kemarahan serta kecemburuan yang jelas sekali terpancar dari raut wajah Boy, pria itu sepertinya benar-benar marah dan cemburu padanya karena Ameena memilih untuk kembali padanya padahal mereka semua tahu bahwa Richi pernah melakukan kekerasan pada Ameena. Richi sendiri mengatakan pada Boy untuk menerima keputusan Ameena namun Boy tentu saja menolak mentah-mentah itu semua karena
baginya Ameena tidak boleh kembali pada Richi.
“Siapa kamu beraninya mengatur-ngatur Ameena? Ameena itu sudah dewasa dan sudah dapat mengambil keputusan, seharusnya kamu mendukung keputusan yang sudah ia ambil bukannya malah menentangnya seperti ini.”
“Aku tentu saja tidak akan menentang dan keberatan kalau keputusan yang sudah dibuatnya benar namun sekarang dia benar-benar telah membuat sebuah keputusan yang sangat salah dan aku tidak dapat menoleransi
akibat perbuatannya itu.”
Ketika Richi dan Boy tengah berdebat itulah Ameena dan Alysa muncul, Boy mau tidak mau menghentikan kemarahannya pada Richi namun Boy memperingatkan Richi bahwa masalah di antara mereka berdua belum selesai. Ameena sendiri tidak banyak bertanya dan memilih untuk segera naik ke boncengan sepeda motor suaminya, sepanjang perjalanan menuju rumah tidak ada pembicaraan apa pun antara mereka berdua hingga selepas makan malam ketika Alysa sudah tidur, Richi baru menceritakan apa yang tadi ia dan Boy bicarakan pada Ameena.
“Menurutmu bagaimana soal pria itu yang selalu ikut campur dalam masalah rumah tangga kita?”
“Aku tidak mau membahas soal dia.”
Ameena seperti enggan terlibat lebih dalam konflik di antara Richi dan Boy namun sejujurnya Ameena juga merasa kalau sikap Boy ini terlalu berlebihan walaupun ia tahu bahwa Boy adalah ayah kandung dari Alysa namun setidaknya Boy harus menghormati keputusan yang sudah ia ambil.
“Aku akan coba membicarakan ini dengan tuan Boy besok, semoga saja dia mau mendengarkanku,” ujar Ameena akhirnya.
“Baiklah, aku memercayakan semua ini padamu,” ujar Richi dengan senyum yang dibalas oleh Ameena juga dengan senyum.
****
Keesokan harinya secara mengejutkan Richi dijemput oleh polisi karena tuduhan telah melakukan penganiayaan pada Boy, Richi tahu bahwa cepat atau lambat pasti Boy akan melakukan cara licik seperti ini lagi. Richi begitu pasrah saat dibawa masuk ke dalam mobil polisi, Alysa nampak histeris dan menangis saat melihat ayahnya dibawa oleh polisi, Ameena sendiri berusaha menenangkan anaknya itu. Alysa begitu sedih hingga menolak pergi ke sekolah dan tentu saja Ameena tidak dapat memaksa Alysa untuk pergi ke sekolah dengan suasana hati seperti ini, maka Ameena pun tepaksa berbohong pada walikelas Alysa bahwa ada urusan mendadak yang membuat anaknya tidak dapat masuk sekolah saat ini. Hari ini adalah hari libur Ameena bekerja di rumah Luluk hingga ia
__ADS_1
dapat bersantai di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang jarang ia lakukan belakangan ini akibat kesibukannya bekerja di rumah Luluk. Ketika ia sedang bekerja di dapur, pintu rumah terdengar ada seseorang yang mengetuk, Ameena segera pergi ke pintu untuk melihat siapa orang yang datang pada siang hari ini dan rupanya orang yang datang adalah Boy.
“Hai Ameena.”
“Tuan Boy? Apa yang Tuan lakukan di sini?”
“Bolehkah kita bicara dulu sebentar?”
Ameena pun mengiyakan permintaan Boy barusan karena sejujurnya memang ada yang perlu mereka berdua bicarakan yaitu soal Boy yang sudah melaporkan Richi ke polisi.
****
Boy mengatakan pada Ameena bahwa ia akan melakukan apa pun untuk membuat Ameena dan Richi bercerai dan rupanya hal tersebut tidak disukai oleh Ameena, tentu saja Boy terkejut karena Ameena justru malah marah
padanya dan bukannya berterima kasih atas apa yang sudah ia coba lakukan untuk wanita ini.
“Saya tahu maksud Tuan dengan melaporkan Richi ke polisi dengan harapan saya dan Richi akan bercerai kan? Tuan saya dan Richi tidak akan pernah bercerai.”
“Ameena, gunakan akal sehatmu sebelumnya dia pernah melakukan kekerasan padamu dan tidak menutup kemungkinan kalau dia akan kembali melakukan hal yang sama di kemudian hari.”
“Itu kan hanya asumsi Tuan saja, saya yakin bahwa Richi tidak akan berlaku kasar lagi pada saya.”
Boy nampak benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Ameena saat ini yang nampak begitu percaya sekali pada Richi padahal sebelumnya pria itu sudah melakukan kejahatan padanya dan sudah pernah merasakan dinginnya lantai penjara namun Ameena seolah tidak jera untuk memberikan kesempatan lagi pada Richi.
“Aku melakukan semua ini untukmu Ameena.”
__ADS_1
****
Boy pulang ke rumah dengan raut wajah kesal, hubungannya dan Ameena jadi buruk akibat Ameena sudah dicuci otaknya oleh Richi dan Boy tidak akan membiarkan pria itu membuat Ameena jatuh lebih dalam lagi, Luluk
yang melihat Boy pulang dengan raut wajah marah dan kesal pun bertanya apa yang terjadi pada anaknya.
“Apakah Cassandra datang lagi ke sini tadi, Ma?”
“Kenapa kamu menanyakan wanita itu?”
“Katakan saja apakah tadi Cassandra datang ke sini atau tidak.”
“Tidak, dia tidak datang ke sini.”
“Aku harus memastikan kalau wanita itu tidak akan mengacau kali ini, awas saja kalau dia berani ikut campur aku tidak akan segan membuatnya menyesali perbuatannya.”
“Nak, sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu?”
Maka Boy pun kemudian menceritakan semua yang terjadi di antara dirinya dan Ameena pada Luluk, Luluk sendiri nampak kesal bukan main karena Boy masih saja memiliki perasaan pada Ameena namun ia sama sekali tidak
mengatakan apa pun untuk menyuarakan ketidak setujuannya pada Boy, ia membiarkan Boy untuk meluapkan kekesalannya pada Richi yang menurut Boy adalah biang keladi dari semua ini.
“Awas saja Richi, kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja, tidak akan ada lagi keberuntungan seperti waktu itu dan aku akan menjamin itu.”
****
__ADS_1
Nandhita sedang berada di kota sebelah tempat ia tinggal untuk menghadiri acara pernikahan temannya sewaktu masih kuliah dulu, Nandhita datang seorang diri dan ia menjadi perbincangan beberapa tamu undangan yang hadir di sana akibat drama yang ditimbulkannya beberapa waktu yang lalu apalagi gonjang-ganjing seputar retaknya rumah tangganya dengan Hanif sudah menjadi obrolan di media massa. Nandhita menyalami temannya dan kemudian memutuskan untuk pergi dari sana tanpa mencicipi makanan yang tersedia di sana, ketika dalam perjalanan menuju rumahnya di kota sebelah, Nandhita singgah sebentar di sebuah supermarket untuk membeli beberapa barang dan di sanalah secara tidak sengaja ia berpapasan dengan sosok yang sangat ia cintai bahkan
sampai saat ini dan sepertinya sosok itu menyadari kehadiran Nandhita hingga ia berhenti dan membalikan tubuhnya untuk melihat Nandhita.