
Ameena nampak penasaran dengan apa yang hendak dikatakan oleh Luluk saat ini dan akhirnya setelah menanti beberapa saat Luluk pun mengatakan sesuatu pada Ameena yang membuatnya terkejut bukan main.
“Ameena, aku mohon padamu untuk menikah dengan Boy.”
“Kenapa Nyonya meminta saya melakukan itu?”
“Karena aku ingin melihat Boy bahagia, Ameena. Aku tahu bahwa aku tidak berhak untuk memaksamu menikah dengan Boy akan tetapi hanya kamu satu-satunya wanita yang dapat membuat anakku bahagia, tentu saja sebagai
seorang ibu aku ingin melihat anakku bahagia dengan wanita yang ia cintai.”
“Nyonya saya ….”
“Aku minta maaf padamu jika aku pernah melakukan sesuatu hal yang buruk padamu di masa lalu kalau memang itu yang membuat kamu tidak mau untuk menjalin hubungan dengan anakku.”
“Tidak Nyonya, tentu saja bukan seperti itu tolong jangan salah paham dulu.”
“Apakah semua ini karena Hanif, Ameena?”
“Nyonya ….”
“Aku tahu bahwa kamu masih mencintai Hanif, akan tetapi mau sampai kapan kamu mau berharap pada pria itu Ameena? Tidak lama lagi Hanif akan menikah dengan Nandhita dan tidak da peluang untuk kalian dapat
bersama lagi.”
Ameena terdiam mendengar ucapan Luluk barusan, Luluk pun kemudian meraih tangan Ameena dan memohon maaf jika kata-katanya tadi sangat tidak berkenan di hati Ameena.
“Tidak Nyonya, saya baik-baik saja, jangan meminta maaf pada saya.”
“Kalau begitu, apakah kamu mau memberikanku kepastian, Ameena?”
“Nyonya ….”
“Sebagai seorang ibu aku memohon padamu untuk memikirkan apa yang tadi aku ucapkan.”
Selepas itu Luluk pun pergi meninggalkan Ameena, tentu saja Ameena jadi memikirkan apa yang Luluk katakan barusan dan membuatnya merasa serba salah, ia pun jadi bingung dengan keputusan apa yang sebaiknya ia
harus ambil saat ini.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini?”
Ameena pun kemudian masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya dan ia dibuat terkejut ketika melihat Nandhita datang ke rumah namun tidak sendirian melainkan bersama dengan Hanif.
****
Hanif sendiri tidak kalah terkejutnya dengan Ameena, ia tak menyangka kalau Ameena akan tinggal di rumah ini padahal sebelumnya yang ia ketahui hubungan Ameena dengan Luluk kurang baik.
__ADS_1
“Kok kamu sepertinya terkejut melihat Ameena?” tanya Nandhita yang membuat Hanif tersadar dari lamunannya dan Ameena pun bergegas pergi meninggalkan mereka.
“Bukan apa-apa, hanya saja kamu tidak cerita kalau Ameena tinggal di sini,” jawab Hanif.
“Ameena memang tinggal di sini karena tante Luluk yang memintanya,” ujar Nandhita yang membuat Hanif makin penasaran dengan motif Luluk sampai mau mengizinkan Ameena tinggal di rumah ini.
“Hanif? Itukah kamu?” tanya Luluk.
“Iya Ma, ini aku,” jawab Hanif.
“Lama sekali tidak berjumpa, silakan duduk.”
Hanif dan Nandhita pun duduk di kursi dekat Luluk duduk, mereka sempat mengobrol beberapa saat hingga akhirnya Hanif pun memberanikan diri untuk bertanya pada Luluk mengenai kenapa Ameena diizinkan
tinggal di rumah ini.
“Oh Ameena, Mama mengizinkan dia tinggal di rumah ini karena Mama merindukan Salsabila, kamu tahu kan bahwa Mama sampai sekarang masih belum dapat menerima kepergiannya?”
“Benarkah? Setauku hubungan Mama dengan Ameena tidaklah baik,” ujar Hanif.
“Apa yang kamu katakan itu memang benar adanya Hanif, akan tetapi setelah semua masalah yang silih berganti menerpa hidupku maka Mama memilih untuk berdamai dan menerima Ameena untuk tinggal di rumah ini, lagi
pula sekarang Ameena tak memiliki siapa pun lagi.”
****
“Tolong jangan sentuh aku.”
“Aku minta maaf, aku dengar dari mama bahwa kamu kehilangan kedua orang tuamu dalam musibah kebakaran selepas pulang dari Norwegia, apakah benar begitu?”
“Iya Mas, aku memang kehilangan kedua orang tuaku dalam musibah itu, untungnya nyonya Luluk mau mengizinkanku tinggal di sini.”
“Sejak kapan kamu tinggal di sini? Apakah mama memerlakukanmu dengan baik selalama ini?”
“Iya beliau sangat baik padaku, kalau memang sudah tidak ada hal penting lain lagi yang ingin dibicarakan maka lebih baik aku permisi dulu.”
Ameena pun kemudian pergi meninggalkan Hanif, sementara pria itu sendiri menatap kepergian Ameena yang sepertinya sengaja untuk menghindarinya padahal Hanif tahu bahwa Ameena masih mencintainya.
“Hanif, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Nandhita yang menghampiri Hanif.
“Bukan apa-apa, aku hanya sedang memandang taman ini,” jawab Hanif berdusta.
“Kamu pikir aku tidak tahu apa yang barusan kamu dan Ameena lakukan?”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Sudahlah Hanif, apakah kamu masih mencintai Ameena?”
****
Hati Ameena masih begitu sakit dengan kehadiran Hanif di rumah ini ditambah lagi fakta yang mana tidak lama lagi Hanif akan segera menikah dengan Nandhita, ia menangis diam-diam di dalam kamarnya namun ia dibuat terkejut dengan ketukan di pintu kamar. Buru-buru Ameena menghapus air matanya sebelum membukakan pintu tersebut yang rupanya di sana nampak ada Boy yang berdiri.
“Ameena.”
“Tuan Boy?”
“Aku dengar tadi mas Hanif datang ke sini, apakah itu benar?”
“Iya Tuan, tadi mas Hanif memang ke sini.”
Ada rasa cemburu dalam diri Boy ketika mendengar ucapan Ameena barusan, ia jadi berpikiran buruk bahwa Hanif datang ke sini untuk merebut Ameena kembali padanya namun Ameena mengatakan bahwa Hanif datang ke sini krena ia ingin bertemu dengan Luluk dan meminta izin pada Luluk untuk menikahi Nandhita.
“Begitu rupanya.”
“Iya Tuan.”
“Kamu habis menangis?”
“Tidak Tuan.”
Namun Boy tahu bahwa Ameena sedang berdusta padanya saat ini, hatinya begitu sakit karena tahu Ameena menangisi pria lain yang sama sekali tidak mencintainya.
“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu.”
Boy segera berlalu pergi meninggalkan Ameena dan Ameena pun menatap kepergian pria itu yang nampak begitu kecewa bercampur sedih saat tahu Ameena tadi bertemu dengan Hanif.
“Maafkan saya tuan Boy, akan tetapi saya tak dapat membohongi diri saya.”
****
Luluk kembali menanyakan pada Ameena mengenai keputusannya untuk menerima tawarannya menikah dengan Boy, akan tetapi Ameena nampak masih belum mau membahas hal tersebut. Luluk begitu gemas karena merasa
Ameena menyia-nyiakan kesempatan besar yang sudah ia berikan pada wanita itu namun Ameena malah masih memilih untuk bertahan pada cinta bertepuk sebelah tangannya dengan Hanif.
“Maafkan saya Nyonya.”
“Mau sampai kapan kamu seperti ini Ameena? Aku tidak memintamu untuk melakukan hal yang buruk kan? Aku ingin kamu menjadi istri dari anakku yang aku cintai itu.”
“Saya tahu Nyonya, tapi ….”
“Apakah karena Boy sekarang tidak bekerja di perusahaan maka kamu menolaknya, begitu?”
__ADS_1
“Tidak Nyonya, bukan seperti itu.”
“Ada apa ini?”