Cinta Ameena

Cinta Ameena
Masih Rahasia


__ADS_3

Nandhita nampak tersenyum ketika mendapatkan pertanyaan dari Untari barusan, Nandhita mengatakan pada mamanya Hanif itu untuk saat ini dirinya belum dapat memberitahu Untari mengenai pria yang ia sukai itu.


“Kalau waktunya sudah tepat maka aku pasti akan memberitahukannya pada Tante.”


“Baiklah sayang kalau begitu.”


Tidak lama kemudian Hanif kembali ke hotel dan ia terkejut ketika mendapati Nandhita dan mamanya tengah berbincang di koridor, dengan segera ia menghampiri keduanya dan menanyakan apa maksud dan tujuan


mamanya datang ke sini.


“Mama ingin bicara denganmu, Nak.”


“Apa yang ingin Mama bicarakan?”


Untari memberikan kode dari matanya supaya mereka bicara di dalam karena ada Nandhita di sini, maka Hanif yang paham arti kode tersebut pun segera mempersilakan mamanya masuk ke dalam kamar hotelnya. Di sana


Hanif pun langsung kembali bertanya kenapa mamanya datang ke sini dan Untari menanyakan apakah Hanif sudah tahu kalau Ameena pulang hari ini.


“Iya, aku sudah tahu kalau Ameena pulang hari ini.”


“Kamu mengantarnya?”


“Tidak.”


Untari menghela napasnya dan kemudian menggenggam tangan Hanif, ia menanyakan bagaimana perasaan Hanif selepas Ameena pergi meninggalkannya.


“Aku biasa saja, bukankah sudah pernah aku mengatakannya pada Mama sebelumnya bahwa aku tidak pernah mencintai wanita itu? Aku menikah dengannya semua karena permintaan Salsabila, sampai kapan pun hanya


Salsabila yang menjadi cintaku.”


Untari menganggukan kepalanya dan kemudian ia pun memeluk Hanif sebentar dalam pelukan itu Hanif merasa ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya namun ia tidak dapat mengatakan apa pun pada sang mama.


“Baiklah kalau begitu, Mama tidak akan menanyakan hal itu lagi, sekarang juga Mama akan pulang.”


“Iya Ma, hati-hati di jalan.”


Untari kemudian segera bergegas pergi dari kamar hotel ini meninggalkan Hanif yang masih terdiam di tempatnya selepas pembicaraan singkat mereka tadi. Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya dan ketika


Hanif membuka pintu kamarnya nampak Nandhita di sana yang tengah tersenyum padanya.


“Mau apa kamu ke sini?”


****


Nandhita masuk begitu saja ke dalam kamar hotel Hanif walaupun Hanif sudah menyuruh wanita itu untuk keluar namun Nandhita tidak mau pergi justru Nandhita malah mengancam Hanif akan membongkar apa yang sudah


mereka lakukan malam itu pada orang tuanya.

__ADS_1


“Berani sekali kamu mengancamku.”


“Aku tidak mengancammu, kok. Aku hanya tidak sabar memberitahu mereka apa yang sudah terjadi pada malam itu.”


“Aku dibuat tak sadar olehmu, aku yakin itu.”


“Benarkah?”


“Tentu saja, saat aku sudah meminum minuman yang kamu sodorkan padaku, aku berhalusinasi melihat mendiang istriku dan kamu memanfaatkan hal tersebut dariku kan?”


Nandhita tersenyum dan kemudian mengusap wajah Hanif namun dengan segera Hanif menyingkirkan tangan Nandhita dari wajahnya.


“Tapi semua sudah terjadi bukan?”


“Kamu benar-benar sakit, Nandhita.”


“Aku sudah mengatakan akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu kan?”


“Keluar sekarang juga dari kamar ini!”


Nandhita menyeringai dan kemudian ia pun bergegas keluar dari kamar ini namun sebelum ia membuka pintu kamar, Nandhita membalikan badannya dan mengatakan pada Hanif bahwa ia pasti akan memberitahu kedua orang tua Hanif mengenai apa yang terjadi malam itu sesegera mungkin.


“Apalagi kalau aku hamil, bukankah akan jauh lebih menyenangkan?”


Hanif nampak emosi dengan apa yang Nandhita katakan padanya namun Nandhita sama sekali tidak mempedulikannya, ia begitu senang membuat Hanif marah seperti ini.


****


ketika dulu ia dan Hanif berangkat melalui bandara ini namun sekarang ia sendirian di sini.


“Sudahlah, aku tak boleh larut dalam kesedihan ini.”


Ameena pun bergegas menarik kopernya dan segera masuk ke dalam taksi, ia menyebut ke mana tujuannya pada sang sopir, sepanjang perjalanan menuju rumah nampak Ameena melempar pandangan keluar jendela kaca mobil


yang menampakan gedung pencakar langit pada sore hari dan kesibukan orang pada jam pulang kantor. Tidak terasa Ameena akhirnya tiba di tujuan, ia segera membayar ongkos taksi dan turun dari taksi tersebut menuju rumahnya, Ameena nampak agak ragu ketika dirinya sudah berdiri di depan pintu rumah kedua orang


tuanya hingga akhirnya pintu terbuka dari dalam tanpa perlu Ameena mengetuk pintunya terlebih dahulu, ibunya nampak terkejut ketika menemukan Ameena di sini.


“Ameena?”


“Ibu.”


Ameena langsung memeluk Ros dengan erat, Ros sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ameena namun sepertinya sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada Ameena.


“Masuklah dulu, Nak.”


****

__ADS_1


Luluk begitu bahagia ketika mendengar kabar bahwa Pamungkas setuju untuk bercerai dengannya setelah melalui berbagai drama, keputusan yang Luluk ambil sudah sangat bulat untuk berpisah dengan pria itu. Luluk


mendapatkan telepon dari Cassandra bahwa ia sudah menemukan keberadaan Boy bahkan Cassandra mengatakan pada Luluk di mana Boy tinggal sekarang, tanpa pikir panjang Luluk langsung pergi menemui Boy di kediaman barunya. Ketika tiba di sana, hari sudah malam dan Boy baru pulang kerja terkejut menemukan sang


mama di sana.


“Mama?”


“Boy.”


Luluk memeluk tubuh Boy dengan erat, Boy sendiri tidak beraksi apa pun dan hanya membiarkan tubuhnya dipeluk seperti ini oleh mamanya.


“Ma? Ada apa ini?”


“Hiks, Boy.”


Boy akhirnya membawa mamanya masuk ke dalam rumah kontrakannya, di dalam sana setelah mereka duduk di kursi Luluk menceritakan bahwa dirinya dan Pamungkas akan bercerai tidak lama lagi, Luluk meminta Boy


untuk tinggal bersamanya karena ia tidak sanggup hidup sendirian.


“Ma, bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakan pada Mama bahwa aku tidak dapat melakukannya?”


“Boy, apakah kamu tidak kasihan pada Mama? Sekarang Mama benar-benar sendirian, tidak memiliki siapa pun lagi, hanya kamu satu-satunya yang Mama masih miliki, tolong kembalilah.”


“Aku tahu bahwa saat ini Mama pasti sangat sedih dengan perceraian, akan tetapi aku tetap tidak dapat kembali, Ma.”


****


Ros nampak terkejut mendengar cerita Ameena bahwa rupanya putrinya itu sudah bercerai dengan Hanif dan kini Ameena akan tinggal selamanya kembali di rumah ini, Ros sama sekali tidak menyalahkan Ameena karena


ia tahu bahwa pasti berat sekali ada di posisi Ameena.


“Baiklah, Nak, tenangkan saja dirimu.”


“Iya Bu.”


Namun sikap berbeda justru ditunjukan oleh ayahnya yang menyayangkan keputusan Ameena berpisah dari Hanif, Ros berusaha membela putrinya namun suaminya masih saja terus menyalahkan Ameena karena memilih bercerai dengan Hanif.


“Sekarang kita jadi miskin lagi kalau kamu bercerai dari Hanif.”


“Sudahlah Mas, kamu jangan menyalahkan Ameena terus begini.”


“Dasar anak tidak berguna!”


Setelah mengatakan itu, ayahnya Ameena langsung pergi dari rumah dan membuat Ameena merasa sedih mendapatkan perlakuan tidak baik dari ayahnya namun ibunya langsung memeluknya dan menenangkannya.


“Jangan dengarkan dia, Nak.”

__ADS_1


__ADS_2