Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 10


__ADS_3

Al menghentikan langkahnya ketika melewati kompleks bangunan yang sangat megah. Tampak sebuah masjid yang sangat besar dengan model perpaduan abad pertengahan dan modern. Delapan menara menjulang di setiap sisi.


Ada beberapa bangunan di sekitar masjid. Bangunan utama menyerupai kastil Fairmont. Pada halaman yang luas terdapat spot-spot taman yang indah, berbatas pagar tinggi ala benteng dengan lampu antik di setiap pilar.


Masjid dipadati orang berzikir, baca Al-Qur'an, itikaf, atau sekedar duduk-duduk. Banyak pula yang lalu lalang berpakaian gamis, kurta, kaftan atau tunik. Satu dua ada yang bertampang Arab.


Mereka kebanyakan anak muda. Masjid terlihat syahdu kalau ramai begini. Sungguh umat akhir jaman yang sangat dirindukan Nabi.


Kompleks ini berdiri di atas tanah orang terkaya di kampungnya, Abi Hamzah. Ketiga puterinya, dari empat bersaudara, menikah dengan pengusaha Timur Tengah. Jadi tidak aneh ada pesantren semegah ini.


Bidadari terakhir dari keluarga Abi Hamzah muncul dari taman belakang masjid, mendatangi Al dengan ditemani Irma. Mereka mendekap kitab Sahih Bukhari. Security membuka pintu gerbang.


Riany menyapa, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawab Al.


"Cari siapa ya?"


"Ini pesantren kilat ya," sindir Al. "Serba gerak cepat, tidak disuruh masuk atau apa, langsung menjurus ke pertanyaan."


"Cari kamu kayaknya, Ri," gurau Irma. "Kangen kepingin menakut-nakuti."


Waktu kecil, Al sering jadi pocong dengan sarung putih. Dia menunggu di tempat gelap selepas mengaji. Riany paling takut melihat hantu biar cuma bohong-bohongan.


Al tersenyum masam. "Sudah jadi hijaber hantunya tentu tidak berani. Kitab bisa mampir di muka."


"Terus?" tatap Riany sekilas, seolah ingin menghindari bertemu pandang dengannya. "Kamu ada perlu apa berdiri di depan pintu gerbang?"


"Apa semua yang berdiri di sini harus ada keperluan?"


"Ya sudah, Non," potong security. "Kita tutup lagi kalau tidak ada keperluan."


Riany memberi isyarat agar security kembali ke pos.


"Siap, Non." Security pergi dan duduk di dalam pos.


"Aku mau ke rumah Oma," kata Al. "Singgah sebentar. Boleh kan intip-intip?"


"Grandma ada di dalam," sahut Irma. "Nunggu waktu Isya."


"Kebetulan."


"Tidak juga," tukas Riany. "Kamu perlu izin orang tua untuk masuk ke pesantren jahanam."


Al terkejut. "Pesantren jahanam?"


"Orang kampung menyebutnya begitu."


"Aku orang kampung."


"Tapi gede di kota gudeg."


Al tak habis pikir. Bagaimana mereka berani menyebut pesantren dengan julukan seperti itu? Ada kehidupan apa di dalamnya?


"Siapa Tuhan kalian?" tanya Al ingin tahu.


"Allah subhanahu wa ta'ala."


"Imam kalian?"


"Al-Qur'anul Karim."


"Sang Pembawa Risalah?"


"Penghulu para Ambiya, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam."

__ADS_1


"Khalifah yang empat?"


"Tidak lebih mulia dari Sang Pembawa Risalah."


"Itu izinku." Al melangkah masuk ke pintu gerbang.


Riany mengingatkan, "Sekali masuk, kamu dikucilkan masyarakat."


Al berhenti melangkah dan menoleh. "Masyarakat yang mana? Masyarakat yang membenci saudara sendiri karena perbedaan? Atau masyarakat yang kau perangi karena merasa paling benar? Kau dan aku ini siapa? Hanyalah umat akhir zaman yang belajar pada kitab umat terdahulu."


"Kitab yang kita pelajari berbeda."


"Sudah tahu berbeda, mengapa kalian permasalahkan?"


"Jadi kamu tidak mempermasalahkan?"


"Justru masalah kalau aku mempermasalahkan."


"Kamu berdiri di mana kalau aku boleh tahu?"


"Aku berdiri di agamaku, yang benci melihat kalian saling cela karena perbedaan. Perbedaan sudah membuat otak kalian rusak."


"Kata-katamu sangat kasar."


"Aku tidak bisa lembut untuk perkara yang seharusnya tidak jadi persoalan."


"Aku tidak mempersoalkan."


"Kalau begitu kenapa kampung ini jadi ramai?"


"Tanya sama mereka."


"Aku tidak memperoleh jawaban yang memuaskan dari mereka, sama seperti aku bertanya padamu."


"Kamu sangat lama meninggalkan kampung halaman. Jadi tidak tahu apa yang terjadi."


"Nafsu apa maksudmu?"


"Nafsu untuk pembenaran ajaran yang dianut. Apa susahnya untuk mengatakan kalau ajaran kalian semua benar selama yang empat itu tidak ada perbedaan? Atau sekurangnya diam agar tidak membuat bingung umat."


"Kau sebenarnya siapa?"


"Tidak penting aku ini siapa. Aku benci kepada kalian yang mempersoalkan perbedaan. Basi banget."


"Maka itu banyak orang keracunan."


"Aku terlalu bodoh untuk memahami bahwa perumpamaan muslim ibarat satu tubuh. Cukup satu anggota tubuh yang perlu dijelaskan. Kau tahu kaki?"


"Ya."


"Kaki mempunyai bentuk, tugas, fungsi, dan tanggung jawab yang sama. Tapi apakah harus melangkah secara bersamaan?"


Irma tersenyum. "Vampir dong."


"Karena ada perbedaan maka tercipta harmoni."


Dua orang pemuda mendatangi Al. Kelihatannya santri senior. Yang satu berwajah sangat tampan dan berperawakan Timur Tengah. Satu lagi rasanya dia kenal tapi lupa-lupa ingat.


Mereka tersenyum membalut curiga di matanya. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Mohammed Al Harbi." Pemuda tampan itu memperkenalkan diri. "Cukup Harbi."


"Al Farisi Haikal Najid. Cukup Al."

__ADS_1


"Ridwan Sayidi."


Al baru ingat siapa pemuda itu setelah dia menyebutkan namanya. Anak kampung sebelah yang jadi seteru abadi di waktu kecil.


Al tersenyum samar. "Aku masih ingat bagaimana kau siksa Yudistira. Kau sudah mendapat balasan yang setimpal dan kesalahan masa lalu sudah dimaafkan."


"Alhamdulillah."


"Maaf," kata Harbi ramah, "kalau aku boleh tahu, ada kepentingan apa datang ke pesantren ini?"


"Aku mau menemui Oma."


"Oma Harni?"


"Kau kenal?"


"Tentu saja. Beliau sering cerita tentang kamu. Senang berkenalan denganmu."


Kemudian Harbi dan Ridwan memberi salam dan pergi meninggalkan mereka.


Al bertanya pada Riany, "Ini yang diajarkan di pesantren? Mencurigai setiap orang yang datang, terutama bangsawan Arab itu."


"Harbi tidak mengenalmu," sahut Riany.


"Dan setiap orang yang tidak dikenal patut dicurigai?"


"Jadi baperan ya?"


"Harbi pantas curiga," sela Irma. "Dia harus waspada ke setiap laki-laki yang datang."


"Kenapa?"


"Harbi calon imam Riany."


Hati Al mendadak mendung pekat, berarak mengundang gerimis. Tapi semua terbungkus rapi di dalam senyum kecilnya.


"Abi sama Umi ternyata ngefans banget ya sama orang Arab?"


Riany memperhatikan dengan selidik. "Maksudmu apa? Orang tuaku sukanya onta begitu? Apa kamu bisa menentukan jodoh?"


"Sensi banget ya." Al pura-pura melihat ke serambi masjid. "Aku cuma bertanya, kalau pertanyaannya salah, ya aku minta maaf."


"Segampang itu kamu minta maaf."


"Terus maunya apa?"


"Pikir-pikir kalau ngomong. Kamu itu idola kampung."


"Yang ingin jadi idola siapa?"


"Nggak bersyukur banget."


"Jadi idola adalah musibah bagiku, pasti gara-gara medsos Ayah. Aku tidak pantas jadi idola, banyak pemuda kampung yang lebih baik."


"Kamu yang terbaik di kampung ini."


"Aku tidak mau jadi yang terbaik kalau bertanya seperti itu saja diprotes."


"Kecewa ya Riany sudah punya calon imam?" selidik Irma penasaran.


"Aku masuk ke sini bukan untuknya, untuk Oma."


"Kirain kangen sama Riany."


Aku memang kangen, sahut Al dalam hati, kelu. Semangatnya tiba-tiba saja hilang separuh. Riany ternyata sudah punya calon. Lalu rindu ini buat siapa?

__ADS_1


Lama tidak mendengar kabarnya, dia ternyata menabung rindu yang salah. Menabur benih cinta di ladang orang lain.


__ADS_2