Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 77


__ADS_3

Pada pesta pernikahan Riany dan Al, masyarakat kampung tumpah ruah memadati masjid pesantren, tetabuhan musik islami mengisi acara selesai akad nikah.


Warga berduyun-duyun memberi selamat kepada kedua mempelai, dan menyantap hidangan yang tersedia, berbaur dengan warga pesantren.


Mereka sudah melupakan perbedaan yang terjadi, dan menghindari topik yang sekiranya membawa mereka kepada perpecahan.


Pernikahan Al dan Riany adalah simbol perdamaian antara warga kampung dan pesantren modern. Al sudah mencontohkan dengan tidak memakai qunut saat jadi imam Subuh di masjid pesantren dan memakai qunut di masjid kampung.


Undangan Riany kepada teman-teman kuliah Al sedikit menjadi bumerang.


Tak ada bayangan kecewa pada wajah Aisyah, Wulandari, apalagi Lin Wei. Mereka tertawa riang sambil menikmati hidangan di meja terpisah. Riany sudah dapat menebak apa yang mereka bicarakan. Dia tidak sempat turun dari panggung pelaminan karena tamu antri panjang untuk memberi selamat.


"Berarti habis ini giliranmu, Ay," kata Lin Wei. "Jangan lama-lama, entar aku keburu tua. Aku kan yang keempat."


"Makanya bantu aku meluluhkan hati Al," sahut Aisyah. "Aku orangnya tidak suka paksa-paksa."


"Minta dong sama Tuhanmu. Kan Tuhanmu mengijinkan sampai empat."


"Itu urusan nanti," potong Wulandari. "Yang penting sekarang kita kasih kesempatan istri pertama untuk bahagia."


"Betul," timpal Lin Wei. "Maka itu aku kasih kado cek untuk bulan madu ke negeri leluhurku."


"Aku kasih kado umrah," ujar Aisyah, lalu dia menoleh ke Wulandari. "Kamu kasih apa?" 


"Yang dekat-dekat saja, Lombok."


Menjelang Maghrib acara resepsi ditutup. Tapi Al tetap membuka diri menerima satu dua orang yang terlambat datang karena ada keperluan, sekalian mengajak mereka shalat Maghrib di masjid pesantren.


Selepas Isya perabotan resepsi dirapikan dan sisa makanan yang tersedia di wadah prasmanan diangkut ke dapur umum untuk dimasak lagi buat esok hari. Tidak boleh ada makanan yang terbuang. Al menyediakan hidangan sangat banyak dan bervariasi supaya para tamu tidak kekurangan santapan.


Kamar pengantin penuh dengan kado dan beberapa dus berisi amplop. Padahal sudah diumumkan tidak perlu membawa bingkisan, Al hanya minta doa restu agar jadi keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah sesuai tuntunan Nabi.


Masyarakat tetap saja banyak yang membawa bingkisan, banyak pula yang memberi amplop. Padahal Al sudah menyerahkan lagi untuk disedekahkan ke masyarakat yang kurang mampu, mereka malahan meninggalkan amplop itu di dus kosong dan akhirnya tamu lain mengikuti.


Kado dan amplop sudah membudaya di kampung ini, walaupun dalam surat undangan sudah tertera tulisan; mohon doa restu.


Al tidak ingin mereka berhalangan hadir gara-gara tak punya uang. Kedatangan mereka adalah berkah baginya.


Al menurunkan kado yang ada di tempat tidur lalu berbaring di kasur beristirahat. Seharian menerima tamu undangan sangat menguras energi. Bahkan banyak generasi di bawahnya datang menyampaikan selamat, padahal tidak diundang.


Ada pemikiran di benak Al mengenai Vidya yang berhalangan hadir, padahal rumahnya tidak jauh. Barangkali tidak siap menyaksikan mereka bersanding di pelaminan, apalagi begitu mendadak. Al kira seiring bergulirnya waktu Vidya akan paham bahwa momen indah ini adalah takdir.


Dia juga menaruh harapan yang sama pada Lukman. Pemuda itu pergi lebih awal ke Riyadh bukan hanya ingin menghindari Aisyah, tapi tidak sanggup melihat cinta dalam diamnya duduk di pelaminan bersama pria lain.


Kehadiran tiga bidadari dari Yogya tidak mengganggu setianya. Al tidak berniat menduakan Riany. Dia tidak mau mempertaruhkan akhirat untuk syahwat dunia. Cukup satu selama Riany dapat menunaikan tugasnya sebagai istri dan bisa menjadi perhiasan yang terbaik bagi suami.


Tapi Al tidak cinta buta. Selama Riany bisa diluruskan akan dipertahankan. Kalau sudah di luar kendali, berani menentang suami untuk perkara yang hak dan batil, maka palang pintu rumah perlu diganti, istilah lain dari ganti istri.


"Tidak mandi dulu?" Riany keluar dari kamar mandi.


Al terperangah. Bukan kemunculannya secara tiba-tiba yang membuat dia kaget, Riany hanya mengenakan kimono transparan tanpa ada pelindung lagi.


Al menutup terpukaunya di balik senyum kecil. Padahal permintaannya tempo hari hanya bercanda. Tapi istrinya benar-benar memenuhi permintaannya!


"Aku sudah siapkan perlengkapan kalau ingin mandi," kata Riany sambil berjalan ke tempat tidur.


"Kamu keberatan tidur dengan suami yang bau keringat?"


"Aku akan tidur bersama suami bagaimanapun keadaannya."


Riany duduk di tempat tidur dan berbaring di sisinya. Ketika Al memejamkan mata hendak tidur, Riany mencolek hidungnya dengan lembut.

__ADS_1


Al membuka mata lagi, dan bertanya pura-pura bodoh, "Ada apa?"


Riany tersenyum menggoda. "Tidak mengambil hakmu?"


"Kuambil nanti setelah kita sampai ke tujuan."


"Kan bisa azlu."


"Aku tidak mau egois. Aku ingin kita menikmati kepuasan bersama. Maka itu tidak kuambil sekarang."


Riany merapatkan tubuh dan merebahkan kepala di dada suaminya, kemudian berbisik mesra, "Terima kasih. Kamu beri aku kesempatan untuk menjemput impian."


"Kalau kamunya begini, impianmu bisa berantakan." Dengan lembut Al menyingkirkan kepala dan kaki Riany yang melintang di tubuhnya. "Aku bukan Yusuf yang dapat menahan syahwat dari perempuan penggoda."


Riany menatap separuh protes. "Perempuan penggoda? Aku istrimu."


"Tapi perbuatanmu sangat menggoda."


Al bangkit dan meninggalkan tempat tidur.


"Ke mana?" tanya Riany.  


"Mandi. Lalu kepingin minum teh hijau pakai gula alami dan nasi goreng pedas. Tolong nanti sediakan gurami bakar dan nasi merah untuk bekal ke Yogya, boleh nasi kebuli. Masakan istri sendiri."    


Riany bengong. Mana bisa membuat semua itu? Selama ini dia hanya tinggal menikmati!


"Tidak bisa masak?" pandang Al separuh meledek. "Maka itu jangan buru-buru kepingin nikah. Jadi istri itu tidak mudah."


"Aku belajar nanti."


"Butuhnya malam ini."


"Ingin masakan istriku."


"Tidak bisa."


"Ya sudah minta Aisyah."


"Sudah tidur kayaknya."


"Bangunkan."


"Aku yang bangunkan?"


"Maunya sih aku. Aisyah kalau tidur tidak pakai baju sehelaipun."


"Biar aku." Riany turun dari tempat tidur dan pergi ke pintu kamar. "Jangan sekali-kali berani membangunkan Aisyah."


"Gak pakai baju dulu?"


"Kamu saja tidak tergoda lihat aku berpakaian begini, masa Aisyah tergiur?"


"Kids jaman now apa yang tidak mungkin?"


"Jadi aku ganti baju dulu?"


"Jadi repot deh."


"Lagi maunya aneh-aneh."


"Gak ikhlas?"

__ADS_1


"Ikhlas."


"Buatkan teh hijau saja deh."


"Aku tidak bisa."


"Terus bisamu sebagai istri apa? Jadi perempuan penggoda?"


"Malam pengantin malahan dapat bullying"


"Aku tidak suka memberi pujian yang semu. Tidak ada mesra-mesra yang semu. Itu akan membuat istri tidak sadar kalau apa yang dilakukan kurang tepat, perlu perbaikan."


Riany tidak berkomentar.


"Kok diam?"


"Suamiku lagi menasehati istrinya, maka aku diam."


"Kamu tahu kenapa aku tidak suka mesra-mesra yang semu? Pujian-pujian yang semu?"


"Kan sudah terjawab dalam ceramahmu."


"Aku ingin istriku sesuai harapanku. Karena aku tidak ingin menduakan, menduakan sama pembantu, bisnis, atau perempuan lain."


"Berarti aku harus belajar masak."


"Jangan paksakan."


"Terus kita makan apa?"


"Yang siap saji saja."


"Selamanya?"


"Kalau itu yang kamu mau."


"Aku ingin suamiku makan masakan istrinya."


"Mesti punya ilmunya. Kalau tidak, masak air saja gosong."


"Umi jago masak. Aku bisa belajar darinya."


Riany kembali ke tempat tidur dan rebahan lagi.


"Mangkok dan serabi Arabnya hati-hati pecah," canda Al. 


"Lontong sayurnya hati-hati digondol Aisyah," balas Riany.  


"Yang penting halal."


"Curang."


"Sunah."


"Modus."


"Biarin."


Al masuk ke kamar mandi, meninggalkan senyum bahagia di bibir yang indah. Sekalipun tidak terjadi apa-apa di malam pertama ini, Riany merasa jauh lebih bahagia dari pengantin lainnya.


Malam pengantin bukan sekedar berpesta syahwat, tapi peletakan batu pertama untuk membangun rumah tangga yang mawadah, sakinah, dan warahmah.

__ADS_1


__ADS_2