
Mata Al yang terpejam terbuka sedikit karena ada ramai-ramai di luar. Nidar tidak ada di kasurnya. Barangkali kumpul di luar.
Al turun dari tempat tidur, cuci muka di wastafel, lalu berjalan ke pintu kamar, putar gagang pintu, buka.
Di depan pintu kamar, Nidar lagi dikerubungi bapak-bapak.
"Ada apa?" tanya Al heran.
"Eyang Munzir tidak ada di kamarnya," sahut Pak Hanif. "Pergi."
Al menatap kaget. "Pergi ke mana?"
"Tidak tahu?"
"Sudah dicari?"
"Sudah," jawab Nidar. "Nah, Pak Hanif ini sempat dengar Eyang Munzir ngajak ibu-ibu ke Pasar Seng."
Mendengar nama pasar itu, Al teringat ketika Oma dulu pergi haji selalu menyempatkan singgah ke Pasar Seng, beli oleh-oleh 7Days buat Al.
Tahun 1990 hingga 2000-an Pasar Seng tenar sebagai pusat belanja oleh-oleh. Tapi cerita Pasar Seng tamat ketika Oma pergi haji ketiga kali tahun 2008, pemerintah Saudi menggusurnya untuk perluasan Masjidil Haram. Kini Pasar Seng tinggal kenangan.
"Ngapain Eyang Munzir ke Pasar Seng?" cetus bapak berkumis. "Nyumbang material ke Haram?"
"Pasar Seng itu sebutan saja," kata Al. "Tapi kini sudah tidak ada."
Bapak-bapak itu bengong.
"Lah, terus Eyang Munzir pergi ke mana?" tanya Pak Hanif.
Al angkat bahu, lalu masuk ke kamar mengambil handphone. Ketika kembali lagi, Oma dan Irma sudah ikut berkumpul, siap-siap pergi shalat Ashar. Al menghubungi Eyang Munzir, tersambung.
"Assalamu'alaikum," sapa Eyang Munzir.
"Wa'alaikumussalam," sahut Al. "Eyang di mana?"
"Nah, ini Eyang bingung, baru Eyang mau tanyakan."
"Pasar Seng kan adanya di waktu Eyang pergi haji."
"Tahu."
"Nah, terus?"
"Biasa. Eyang itu orangnya romantis, sering kangen masa lalu, tapi kebablasan."
"Maksudnya?"
"Eyang pulang lewat fly over, masuk Haram, nah, terus keder dah, tidak tahu ada di mana?"
"Eyang ngikutin cewek ya?"
Eyang Munzir cengengesan. "Iya. Kamu kan tahu mantan Eyang cewek Arab."
"TKW kali."
"Tapi lama di Arab."
"Dekat Eyang ada apa?"
"Banyak scooter matic, kayaknya tempat sewa."
"Ya sudah, Eyang jangan ke mana-mana, saya jemput."
Al menutup percakapan. Dia masukkan handphone ke kantong kurta.
"Ketemu?" tanya Nidar penasaran.
"Lantai tiga thawaf sebelah utara."
"Alhamdulillah."
"Hari ini shalat di pintu mana?"
__ADS_1
"King Aziz."
"Kamu bawa rombongan ke King Aziz. Aku jemput Eyang Munzir."
"Sudah waktunya kali berangkat."
"Ya sudah kita pergi bareng."
"Oma ingin Ashar di pintu King Abdullah, cah bagus."
"Oma ini maunya beda-beda saja," protes Irma. "Mendingan kumpul, Oma. Kalau ada apa-apa, tidak ribet."
Al menatap kurang senang. "Kok rempong sih? Cucunya saja woles."
"Untung bukan calon kamu, cah bagus."
"Sudah, Irma sebenarnya baik kok, cuma rada-rada ... apa tuh, Oma?"
"O2N."
"Apaan tuh O2N?" tanya Irma.
"Oon," sahut Nidar.
"Tega banget, Oma." Irma cemberut. "Ngatain aku oon. Ucapan adalah doa."
Oma terpaksa tersenyum untuk menghiburnya. "Kamu sebenarnya pintar dan cantik. Tapi jadi jelek kalau melarang Oma shalat di King Abdullah."
Jujur Al tidak mengerti. Hari pertama dibelikan 7Days coklat kesukaan Opa, Oma tidak membuangnya tapi tidak pula dimakan. Oma simpan di dalam travel bag.
Oma juga shalat di lokasi-lokasi favorit Opa. Pertama kali shalat malam di antara Shafa dan Marwah, tempat Opa berlinang air mata shalat tahajud. Apa ini pertanda betapa besar cinta Oma kepada suaminya?
Seandainya benar, moga kehadiran Jennifer adalah ujian sebagai bentuk ketaatan Oma pada nabinya.
Eyang Munzir lagi duduk-duduk di scooter matic di depan loket ketika Al datang menemuinya.
"Alhamdulillah," kata Eyang Munzir kelihatan senang sekali. "Aku berdoa kepada Allah agar menuntun langkahmu untuk menemukan aku."
"Wajahnya mirip mantan."
"Mantan Eyang kan sudah tiada."
"Maka itu aku penasaran, apa kembarannya ya?"
"Mantan Eyang punya kembaran nggak?"
"Nggak."
"Nah, terus ngikuti siapa?"
"Aku juga heran."
"Halu kali."
"Demi."
"Masih muda?"
"Seumuran Dinar."
Al tersenyum keki. "Bilang saja lagi cuci mata terus nyasar. Tandanya Eyang dapat teguran dari Allah."
"Aku benar-benar lihat mantan. Gak percayaan banget sih kamu?"
"Mantan Eyang itu seumuran Oma. Masa kembarannya segar dan seksi?"
"Oma kamu itu aduhai. Tapi kalau soal segar, ya namanya sudah lama dipetik."
"Mulai deh mulai."
"Otak jadi koplak gini ya."
"Makanya banyak istighfar."
__ADS_1
"Tapi bener, tong."
"Bener apaan?"
"Yang aku kejar itu mirip bangat mantan saat pertama kali ketemu antara Shafa dan Marwah."
"Sudah. Sudah. Bentar lagi Dhuhur."
Al sering mendengar cerita yang tidak masuk akal dari orang yang pulang haji atau umrah, dan ini diperkuat oleh segelintir ustadz dalam syiar agamanya.
Konon apa yang dialami di Makkah semua tergantung perbuatan di tanah air. Kalau sering gampar orang, maka tiba-tiba akan kena gampar. Kalau rajin menolong orang, maka ada saja pertolongan jika kesusahan. Dan cerita-cerita ajaib lainnya yang membuat Al kadang jemu.
Tanah Haram adalah tanah yang harus bebas dari perbuatan kotor yang dapat menghilangkan status sucinya. Dan yang menjaga kesucian itu bukan pemerintah Saudi, tapi Allah.
Jadi, kalau ada orang yang berbuat kesalahan, sekecil apapun, entah itu bicara asal, gestur tubuh, atau bisikan hati, maka Allah langsung menegur orang itu melalui perantaraan orang lain sehingga status haramnya tetap terjaga, teguran itu bisa berbentuk apa saja, dari cara halus sampai kasar.
"Maka itu hilangkan prasangka negatif," kata Al setiap kali mereka kumpul-kumpul di hotel. "Jangan takut kena copet, diculik Arab Baduy, atau hal jelek lainnya. Pikirkan hal positif supaya dapat berkah."
"Kata tetanggaku memang ada copet di Haram," sanggah Pak Hanif. "Buktinya kantong Doraemonnya didodet dan duitnya hilang."
"Karena berangkat dari rumah sudah punya pikiran kotor, padahal hendak menempuh perjalanan suci, maka itu kejadian didodet."
"Pikiran kotor bagaimana?"
"Takut kena copet adalah bentuk ketidakpercayaan pada perlindungan Allah. Ketika benar-benar kejadian, yang muncul bersabar bukan introspeksi. Kita ini tamu Allah, maka sudah selayaknya berprasangka baik kepada Allah."
"Aku pernah mengalami saat berangkat haji," kata bapak-bapak. "Hari itu aku benar-benar lapar. Aku berdoa di Multazam, tempat yang paling makbul untuk berdoa, agar perutku dikenyangkan. Tiba-tiba jatuh sepotong roti dari langit."
"Jangan halu. Sekalipun hal itu mudah bagi Allah, tapi tidak mungkin. Tanah Suci bukan berarti tanah dimana segala keajaiban bisa terjadi."
Orang pergi ke Tanah Haram tersugesti untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan; sedekah riyal, makanan atau minuman. Jadi tidak aneh ketika lagi berdoa ada roti terbang seolah jatuh dari langit, padahal roti itu dilemparkan oleh orang yang bersedekah.
"Eyang Munzirnya mana?" tanya Oma melihat Al datang sendiri, menunda sebentar bacaan Qur'an.
"Di King Aziz sama rombongan."
Al duduk dekat rak Al-Qur'an, bersandar pada pilar besar.
"Kau kelihatan capek sekali, cah bagus."
"Capek segalanya, Oma."
"Yang ikhlas ya."
Beberapa lama kemudian Al bangkit menuju tempat thawaf. Adzan berkumandang. Tidak berjubel orang di lantai thawaf karena teriknya matahari.
Habis Ashar mereka berkumpul di halaman Masjidil Haram, menunggu bis SAPTCO. Bis hanya dibolehkan untuk naik turun penumpang, tidak boleh parkir di halaman.
Beberapa menit kemudian bis yang menjemput datang. Mereka naik. Melihat sibuknya Al mengurus rombongan, Nek Surti jadi simpati.
"Sabar banget Al. Coba kalau pilih cucuku, mana mungkin tersakiti."
"Kok disakiti sih, Nek?" protes Irma tidak senang. "Wajar kan karena Riany lagi ada kepentingan?"
"Kepentingan apa?" sambar Bu Hanif dongkol. "Kalau cuma besuk, harusnya sudah pulang."
"Pasti pergi jalan-jalan," timpal seorang ibu. "Jangan-jangan begini kerjaannya selama di Saudi, bukan kuliah."
"Berangkatnya berdua sama Lukman lagi," sambung anak gadis yang duduk di sebelahnya. "Kuliah di Saudi juga. Jadi mereka tahu persis tempat-tempat romantis di Riyadh."
Irma ngomel-ngomel, "Kalian ini di kampung dan di Tanah Suci sama saja, sukanya ngegosip."
"Nah, kamu pendampingnya kan?" semprot Nek Surti. "Harusnya kamu mengawasi, bukan cuma membela. Memangnya kamu tahu kalau mereka mampir di hotel?"
"Istighfar, Nek. Ini kota suci."
"Makkah kota suci. Tapi Riyadh?"
"Ta'arufnya saja sudah begini," gerutu perempuan di belakangnya. "Kalau sudah rumah tangga, bisa-bisa Al sibuk di dapur dia enak-enakan pergi sama cowok lain."
Penat hati Al mendengar kebisingan mereka. Maka itu dia mengisi setiap sudut hatinya dengan shalawat Ibrahimiyah. Cintanya kepada Sang Pencipta tidak pernah terhinakan oleh sekeping cinta pada ciptaan-Nya.
Sore ini mereka hendak jalan-jalan ke wilayah sekitar Masjidil Haram.
__ADS_1